Trump Gunakan Ancaman Tarif, Dorong Gencatan Senjata Thailand-Kamboja

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menjadikan kebijakan dagang sebagai alat diplomasi strategis. Kali ini, Trump berhasil mendorong Thailand dan Kamboja untuk berunding di tengah konflik bersenjata yang menewaskan lebih dari 30 orang dan memaksa puluhan ribu warga sipil mengungsi dari wilayah perbatasan.
Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, dijadwalkan bertemu pada Senin (28/7/2025) pukul 15.00 waktu setempat di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan ini dimediasi oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN.
Trump, yang sebelumnya menelepon kedua pemimpin pada akhir pekan lalu, menyampaikan pesan tegas bahwasanya gencatan senjata harus segera terjadi, atau Washington akan menahan kesepakatan dagang dengan kedua negara.
Baca Juga: Negosiasi Tarif Trump di Eropa Berjalan Mulus, Rupiah Tertekan ke Level Rp16.320
“Kami tidak akan menandatangani perjanjian dagang kecuali kalian menyelesaikan perang,” ujar Trump, Minggu, dalam pertemuan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dikutip dari laman reuters.
Ancaman tersebut memicu pergerakan diplomatik intens selama 48 jam terakhir. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio turut menghubungi Menlu Thailand dan Kamboja, menawarkan dukungan penuh bagi proses perundingan.
Thailand, yang tengah menegosiasikan penurunan tarif ekspor ke AS dari 36%, tidak ingin kehilangan momentum perdagangan dengan Washington. Trump sendiri mengklaim telah memainkan peran penting dalam gencatan senjata sebelumnya antara India dan Pakistan.
Namun, di tengah sorotan peran AS, sejumlah akademisi di kawasan menyayangkan minimnya inisiatif dari ASEAN sejak awal. Fuadi Pitsuwan, dosen hubungan internasional Universitas Thammasat, menyatakan,
“Konflik ini seharusnya bisa lebih awal dimediasi ASEAN, tanpa tekanan eksternal yang berbau sanksi ekonomi," ucapnya.
Baca Juga: Soroti Pembelian Boeing, Rieke Desak Pemerintah Renegosiasi Tarif Trump
Meski diplomasi tarif berhasil mempertemukan dua pihak yang berseteru, masih belum jelas apakah tekanan ekonomi semata cukup untuk mengakhiri konflik yang berakar pada sejarah panjang perselisihan wilayah, khususnya sejak sengketa di sekitar Kuil Preah Vihear.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








