PPI AS Turun, Peluang Pemangkasan Suku Bunga The Fed Terbuka

AKURAT.CO Inflasi grosir Amerika Serikat mencatat kejutan pada Agustus 2025. Untuk pertama kalinya dalam empat bulan, indeks harga produsen (PPI) turun 0,1% dibanding bulan sebelumnya. Angka ini meleset dari ekspektasi analis dan memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Mengutip dari laman Reurters, Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) merilis data pada Rabu (10/9/2025) yang menunjukkan penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya harga jasa, terutama dari distribusi grosir mesin dan kendaraan.
Margin sektor ini anjlok 3,9%, menyumbang tiga perempat penurunan harga jasa secara keseluruhan.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.467 Imbas Rendahnya Inflasi Produsen AS
Namun, tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Secara tahunan, PPI masih mencatat kenaikan 2,6%. Barang konsumsi jadi, khususnya produk tembakau, melonjak tajam dan menjadi salah satu penyebab inflasi tetap berada di jalur meningkat.
Bagi The Fed, sinyal ini menjadi pertimbangan penting menjelang rapat kebijakan pekan depan. Sebagian besar pembuat kebijakan memperkirakan bank sentral akan memangkas suku bunga acuannya untuk menahan perlambatan pasar tenaga kerja.
Di pasar keuangan, reaksi investor relatif positif. Harga saham berjangka dan obligasi pemerintah AS menguat, mencerminkan harapan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar akan mendukung aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Perbedaan Inflasi dan Deflasi: Dua Kondisi Ekonomi yang Berlawanan
Kendati begitu, para analis mengingatkan agar tidak terburu-buru menyimpulkan tren. Fluktuasi harga barang dan jasa belakangan lebih dipengaruhi kebijakan tarif impor Presiden Donald Trump, yang masih menyisakan ketidakpastian.
“Pertanyaan kuncinya adalah apakah perusahaan akan terus menahan harga, atau justru meneruskan beban tarif ke konsumen,” kata ekonom New York Finance, David Burough.
Sehingga, lanjutnya, data harga konsumen yang akan dirilis pada Kamis (11/9/2025) ini diperkirakan memberi gambaran lebih jelas. Jika inflasi konsumen masih tinggi, langkah The Fed bisa lebih hati-hati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








