AKURAT.CO Dalam diskusi tentang ekonomi sering muncul istilah seperti inflasi, resesi, dan depresi.
Resesi merujuk pada kondisi ketika perekonomian suatu negara melemah; sedangkan depresi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang sangat tajam dan berlangsung lama.
Baca Juga: Tarif Trump 30 Persen Untuk China Kurangi Tekanan Inflasi dan Resesi Dunia
Definisi Resesi dan Depresi
Resesi terjadi ketika Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara menyusut selama dua kuartal berturut-turut. Gejalanya meliputi melemahnya penjualan ritel dan meningkatnya pengangguran. Sebaliknya, depresi adalah kondisi ekstrem dari resesi, di mana penurunan aktivitas ekonomi berlangsung dalam jangka panjang dan tidak kunjung pulih.
Perbedaan Utama
Perbedaan paling mendasar adalah tingkat keparahan dan durasinya. Resesi biasanya hanya berlangsung dalam hitungan kuartal hingga satu tahun, dan dampaknya lebih terbatas pada negara yang mengalaminya. Depresi, sebaliknya, bisa berlangsung puluhan tahun dan efeknya sering meluas ke negara lain.
Baca Juga: Buntut Tarif Trump, JP Morgan Makin Yakin dengan Kemungkinan Resesi Global
Dampak terhadap Ekonomi
1. Menurunnya daya beli masyarakat
Saat resesi atau depresi terjadi, banyak orang kehilangan pekerjaan atau terkena PHK, sehingga konsumsi turun tajam.
2. Penjualan melemah
Permintaan yang menyusut membuat penjualan produk menjadi stagnan atau menurun, berdampak buruk bagi bisnis.
3. Arus kas terganggu
Perusahaan menghadapi kesulitan membiayai operasi sehari-hari, dan hampir selalu harus mencari pinjaman agar bisa bertahan.
4. Bisnis tutup (gulung tikar)
Ketika modal habis dan pendapatan terus turun, banyak usaha, terutama yang kecil, akhirnya tidak mampu bertahan.
Strategi Menghadapi Resesi dan Depresi
-
Kebijakan fiskal: Pemerintah bisa mendorong ekonomi lewat pengeluaran publik atau pengurangan pajak.
-
Kebijakan moneter: Penurunan suku bunga dapat merangsang konsumsi dan investasi.
-
Kebijakan penawaran: Menyederhanakan regulasi dan menurunkan pajak agar ekonomi menjadi lebih efisien.
-
Pinjaman dari IMF atau lembaga keuangan lainnya: Memberi akses dana untuk mendorong stabilitas dan perbaikan struktural.
-
Dukungan pemerintah internal: Pemerintah bisa meminjam dana sendiri demi menjaga kepercayaan sektor keuangan domestik.
Secara keseluruhan, meskipun resesi dan depresi sama-sama menunjukkan kontraksi ekonomi, depresi jauh lebih parah dan berkepanjangan. Oleh karena itu, kesiapan finansial seperti menabung dan melakukan investasi bisa menjadi langkah protektif bagi individu jika situasi ekonomi memburuk.
Dinda NS (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








