AKURAT.CO Gubernur Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari menilai suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) kemungkinan telah mendekati level netral bagi perekonomian.
Dengan kondisi tersebut, arah kebijakan moneter The Fed ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Kashkari mengatakan ketahanan ekonomi AS dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu alasan utama pandangannya. Menurutnya, kebijakan moneter yang telah ditetapkan sejauh ini belum memberikan tekanan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun Tajam, Harapan The Fed Pangkas Suku Bunga Pudar
“Selama beberapa tahun terakhir, kami terus berpikir perekonomian akan melambat, namun kenyataannya ekonomi justru jauh lebih tangguh dari yang saya perkirakan,” kata Kashkari dikutip dari laman CNBC Internasional, Rabu (7/1/2025).
Ia menambahkan, ketahanan ekonomi tersebut mengindikasikan bahwa suku bunga saat ini sudah berada di kisaran yang tidak terlalu menahan maupun mendorong aktivitas ekonomi.
“Dugaan saya, saat ini kami sudah cukup dekat dengan posisi netral,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah sinyal dari sejumlah pejabat The Fed yang mengindikasikan kemungkinan penahanan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Sebelumnya, The Fed telah melakukan tiga kali pemangkasan suku bunga secara berturut-turut hingga akhir 2025.
Risalah rapat The Fed bulan Desember yang dirilis pada 30 Desember menunjukkan mayoritas pejabat masih membuka peluang pemangkasan lanjutan, seiring dengan tren inflasi yang melambat. Namun, terdapat perbedaan pandangan terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga tersebut.
Baca Juga: The Fed Ditaksir Pangkas Suku Bunga Dua Kali di 2026, Begini Dampaknya
Data ekonomi terbaru menunjukkan tingkat pengangguran AS meningkat menjadi 4,6% pada November, level tertinggi sejak 2021. Di sisi lain, inflasi konsumen tercatat lebih rendah dari perkiraan.
Meski demikian, ekonomi AS juga mencatat pertumbuhan yang kuat. Produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal ketiga tumbuh dengan laju tercepat dalam dua tahun terakhir, memunculkan kembali kekhawatiran terhadap potensi tekanan inflasi.
Kashkari menegaskan, The Fed kini berada pada fase menunggu kejelasan data untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Kami hanya perlu lebih banyak data untuk melihat mana yang menjadi kekuatan dominan, apakah inflasi atau pasar tenaga kerja,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









