AKURAT.CO Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dan program MBG menjadi sorotan lembaga keuangan global.
Riset terbaru dari HSBC Global Investment Research menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan defisit fiskal Indonesia tahun ini.
Kombinasi antara pendapatan negara yang tertahan dan ekspansi belanja untuk program kesejahteraan sosial, khususnya MBG, membuat tekanan terhadap fiskal semakin nyata dan memunculkan spekulasi bahwa defisit berpotensi menembus batas 3%.
HSBC: Pertumbuhan Lemah Tekan Pendapatan Negara
“Menurut pandangan saya, kenaikan tajam defisit fiskal pada 2025 terutama disebabkan oleh pertumbuhan PDB nominal yang lemah, sehingga berdampak pada penerimaan pajak yang rendah,” ujar Pranjul dalam konferensi pers HSBC Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
Pranjul menilai kinerja ekonomi di awal tahun belum cukup kuat untuk menopang target penerimaan negara yang telah ditetapkan pemerintah.
Belanja Negara Naik, Program MBG Jadi Sorotan
“Pada saat yang sama, pemerintah meluncurkan berbagai program kesejahteraan sosial baru, seperti program makanan gratis. Kombinasi pendapatan yang lemah dan belanja yang tinggi inilah yang mendorong defisit fiskal meningkat,” lanjut Pranjul.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar dan ekonom mulai berspekulasi bahwa defisit fiskal Indonesia berpotensi menembus batas 3% PDB, melampaui ketentuan dalam undang-undang.
Anggaran MBG Melonjak Hampir 5 Kali Lipat
Sementara pada 2025, anggaran MBG melonjak drastis hingga Rp335 triliun, atau hampir lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan agresif ini menandai perubahan signifikan dalam prioritas belanja negara.
Pelebaran defisit APBN 2025 mencerminkan tantangan fiskal di tengah ambisi pemerintah memperluas program kesejahteraan sosial. Program Makan Bergizi Gratis dinilai membawa dampak sosial jangka panjang, namun di sisi lain menambah tekanan terhadap anggaran negara saat penerimaan belum sepenuhnya pulih.
Data APBN 2025: Pendapatan Tertahan, Utang Meningkat
Kementerian Keuangan mencatat realisasi defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92% dari PDB.
Defisit ini terjadi karena realisasi penerimaan negara sepanjang 2025 hanya mencapai Rp2.756 triliun, atau sekitar 91,7% dari target Rp2.865 triliun. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan realisasi pendapatan negara pada 2024 yang masih mencapai Rp2.850 triliun.
Sebaliknya, belanja negara terealisasi sebesar Rp3.451 triliun. Meski baru 95,3% dari target, nilainya melonjak dibandingkan belanja 2024 yang tercatat Rp3.359 triliun.
Pembiayaan Utang Tembus Target
Kondisi ini membuat pembiayaan anggaran negara melonjak signifikan. Hingga akhir 2025, pembiayaan tercatat mencapai Rp744 triliun, atau 120% dari target Rp662 triliun.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi pembiayaan utang pada periode yang sama tahun sebelumnya, yang masih berada di level Rp554,8 triliun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









