Akurat
Pemprov Sumsel

Minyak di Level Tertinggi, Bayang-Bayang Stagflasi Menghantui Jepang

Andi Syafriadi | 19 Maret 2026, 09:30 WIB
Minyak di Level Tertinggi, Bayang-Bayang Stagflasi Menghantui Jepang
Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ), Kazuo Ueda

AKURAT.CO Kenaikan harga minyak global kembali menjadi faktor penentu arah kebijakan moneter.

Konflik di Timur Tengah tidak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga mengubah kalkulasi bank sentral, termasuk Jepang.

Bagi Bank of Japan, lonjakan harga energi menciptakan tekanan inflasi yang bersifat eksternal.

Artinya, inflasi meningkat bukan karena konsumsi domestik yang kuat, melainkan akibat biaya impor yang melonjak.

Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Dunia Jadi Momentum Percepat Implementasi B50

Dikutip dari laman reuters, menunjukkan harga minyak yang menembus level tinggi telah memicu kekhawatiran baru: potensi stagflasi kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Efeknya mulai terlihat di sektor riil. Kilang minyak Jepang bahkan menurunkan tingkat operasional akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Di saat yang sama, ekspor Jepang memang masih tumbuh, didorong permintaan Asia. Namun, risiko dari konflik berkepanjangan tetap membayangi, terutama terhadap industri berbasis energi dan manufaktur.

Kebijakan suku bunga menjadi semakin kompleks. Kenaikan suku bunga berpotensi memperkuat yen dan menekan inflasi impor. Namun, langkah itu juga dapat menahan investasi dan konsumsi, yang justru dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Airlangga Usul Fleksibilitas Fiskal Lewat Perppu

Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ), Kazuo Ueda menegaskan bahwa pihaknya akan tetap menaikkan suku bunga secara bertahap jika kondisi memungkinkan, tetapi perkembangan konflik global menjadi variabel kunci yang sulit diprediksi.

Dengan kata lain, arah kebijakan moneter Jepang kini tidak lagi hanya ditentukan oleh data domestik, tetapi juga oleh dinamika geopolitik global terutama harga energi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.