Pemerintah Klaim Ekonomi RI Resilien, Target 2026 Tumbuh 5,4%

AKURAT.CO Pemerintah memastikan stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan.
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 yang mencapai 5,11% (year-on-year/yoy), inflasi terkendali, serta kinerja fiskal yang solid, prospek ekonomi 2026 dinilai tetap positif.
Kata kunci seperti stabilitas ekonomi Indonesia, pertumbuhan ekonomi 2026, hingga ketahanan ekonomi nasional menjadi indikator penting dalam membaca arah kebijakan pemerintah ke depan, terutama saat risiko global terus meningkat.
Baca Juga: Jutaan Lapangan Kerja Disiapkan, Prabowo Bidik Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Pemerintah menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam posisi yang kuat dan resilien. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, yang menekankan bahwa stabilitas makroekonomi tetap terjaga.
“Kami menghormati berbagai pandangan dari masyarakat, namun perlu kami tambahkan bahwa pemerintah memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan resilien,” ujar Haryo dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Dirinya menambahkan bahwa stabilitas tersebut ditopang oleh sejumlah indikator utama yang masih menunjukkan performa positif, meskipun tekanan global meningkat.
Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan daya tahan yang relatif kuat dibandingkan negara peers. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,11%(yoy), sementara inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5% ± 1%.
Pemerintah terus menjaga stabilitas ini melalui kebijakan pengendalian inflasi dan stabilisasi harga, khususnya pada sektor pangan dan energi yang sensitif terhadap gejolak global.
Dari sisi permintaan domestik, konsumsi masyarakat masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini didukung oleh berbagai stimulus fiskal dan program bantuan sosial yang terus digulirkan pemerintah.
Selain itu, sektor manufaktur juga menunjukkan tren ekspansi yang kuat. Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia tercatat sebesar 53,8, yang menandakan aktivitas industri berada di zona ekspansi dan menjadi level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Baca Juga: Purbaya: Efisiensi Belanja Disisir, Program Minim Dampak Pertumbuhan Ekonomi Ditunda
Dari sisi fiskal, ketahanan APBN tetap solid dengan pertumbuhan penerimaan pajak yang signifikan. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tumbuh 30,4%(yoy).
Peningkatan ini didorong oleh reformasi perpajakan serta implementasi digitalisasi melalui sistem Coretax yang memperluas basis pajak dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
Langkah ini sekaligus menjadi fondasi penting dalam menjaga ruang fiskal di tengah tekanan global.
Pemerintah juga menyoroti penguatan ketahanan pangan dan energi sebagai bantalan strategis dalam menghadapi gejolak global.
Indonesia disebut telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan utama. Di sisi energi, program biodiesel turut mendorong surplus produksi energi nasional.
Kondisi ini dinilai mampu meredam dampak eksternal, termasuk lonjakan harga komoditas global akibat konflik geopolitik.
Dalam jangka panjang, pemerintah terus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, peningkatan investasi, dan akselerasi digitalisasi.
Pengembangan sektor kendaraan listrik serta energi baru terbarukan menjadi fokus utama untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Strategi ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap komoditas mentah dan memperkuat nilai tambah dalam negeri.
Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai sekitar 5,4%. Optimisme ini didukung oleh stabilitas yang terjaga serta reformasi struktural yang terus berjalan.
Namun demikian, pemerintah tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
“Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” tegas Haryo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.











