Perang Iran Guncang Energi Eropa, Target Iklim Mulai Dikaji Ulang

AKURAT.CO Perang Iran tidak diketahui tidak hanya menekan pertumbuhan ekonomi Eropa, namun juga memicu krisis energi yang memaksa negara-negara di kawasan tersebut mengubah arah kebijakan strategisnya.
Lonjakan harga gas dan minyak akibat terganggunya jalur distribusi energi global membuat Eropa menghadapi tekanan besar dalam menjaga pasokan energi domestik.
Harga gas di kawasan ini bahkan dilaporkan melonjak lebih dari 60% sejak konflik berlangsung.
Kondisi ini mendorong sejumlah negara mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan iklim.
Dikutip dari The Strait Times, Uni Eropa dikabarkan tengah mengkaji ulang target transisi energi, termasuk kemungkinan menunda pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.
Jerman, sebagai ekonomi terbesar di Eropa, bahkan berencana membangun kembali pembangkit listrik berbasis gas untuk menjamin ketahanan energi jangka pendek.
Langkah ini menunjukkan dilema besar yang dihadapi Eropa antara menjaga komitmen terhadap energi hijau dan memastikan stabilitas ekonomi di tengah krisis.
Baca Juga: Di Depan Parlemen, PM Spanyol Pedro Sanchez Semakin Keras Kritik AS: Perang Iran Itu Tragedi!
Ketergantungan Eropa terhadap impor energi, terutama dari kawasan Timur Tengah, menjadi salah satu faktor utama yang memperparah dampak konflik.
Gangguan di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur vital distribusi energi dunia turut memperburuk situasi.
Para analis menilai, bahkan jika konflik mereda dalam waktu dekat, dampaknya terhadap kebijakan energi Eropa akan bersifat jangka panjang.
Negara-negara kemungkinan akan lebih fokus pada keamanan energi dibandingkan target dekarbonisasi.
Perubahan arah kebijakan ini juga berpotensi memengaruhi agenda global terkait perubahan iklim, sekaligus menandai babak baru dalam dinamika geopolitik energi dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








