Akurat
Pemprov Sumsel

Perang Iran Guncang Energi Eropa, Target Iklim Mulai Dikaji Ulang

Andi Syafriadi | 29 Maret 2026, 09:30 WIB
Perang Iran Guncang Energi Eropa, Target Iklim Mulai Dikaji Ulang
Lonjakan harga energi akibat perang Iran memaksa Eropa mengkaji ulang kebijakan iklim dan energi demi menjaga stabilitas ekonomi.

AKURAT.CO Perang Iran tidak diketahui tidak hanya menekan pertumbuhan ekonomi Eropa, namun juga memicu krisis energi yang memaksa negara-negara di kawasan tersebut mengubah arah kebijakan strategisnya.

Lonjakan harga gas dan minyak akibat terganggunya jalur distribusi energi global membuat Eropa menghadapi tekanan besar dalam menjaga pasokan energi domestik.

Harga gas di kawasan ini bahkan dilaporkan melonjak lebih dari 60% sejak konflik berlangsung.

Baca Juga: Jalin Silaturahmi dengan Ketua PCNU Karanganyar, Wapres Gibran Bahas Isu Strategis Nasional hingga Perang Iran

Kondisi ini mendorong sejumlah negara mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan iklim.

Dikutip dari The Strait Times, Uni Eropa dikabarkan tengah mengkaji ulang target transisi energi, termasuk kemungkinan menunda pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.

Jerman, sebagai ekonomi terbesar di Eropa, bahkan berencana membangun kembali pembangkit listrik berbasis gas untuk menjamin ketahanan energi jangka pendek.

Langkah ini menunjukkan dilema besar yang dihadapi Eropa antara menjaga komitmen terhadap energi hijau dan memastikan stabilitas ekonomi di tengah krisis.

Baca Juga: Di Depan Parlemen, PM Spanyol Pedro Sanchez Semakin Keras Kritik AS: Perang Iran Itu Tragedi!

Ketergantungan Eropa terhadap impor energi, terutama dari kawasan Timur Tengah, menjadi salah satu faktor utama yang memperparah dampak konflik.

Gangguan di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur vital distribusi energi dunia turut memperburuk situasi.

Para analis menilai, bahkan jika konflik mereda dalam waktu dekat, dampaknya terhadap kebijakan energi Eropa akan bersifat jangka panjang.

Negara-negara kemungkinan akan lebih fokus pada keamanan energi dibandingkan target dekarbonisasi.

Perubahan arah kebijakan ini juga berpotensi memengaruhi agenda global terkait perubahan iklim, sekaligus menandai babak baru dalam dinamika geopolitik energi dunia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.