Inflasi Energi, Industri Kimia Paling Terdampak

AKURAT.CO Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga menekan sektor usaha melalui kenaikan biaya produksi dan potensi penurunan permintaan.
Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling terdampak awal. Data menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap energi, antara lain angkutan darat sebesar 38,4%, jasa pertanian 35,1%, angkutan udara 34,2%, dan angkutan laut 22,7%.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menyebut, tekanan biaya ini akan menjalar ke berbagai sektor industri.
“Pelaku usaha akan menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau menanggung penurunan margin,” ujarnya saat dihubungi Akurat.co, Senin (20/4/2026).
Selain energi, industri berbasis kimia juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan baku. Sektor seperti plastik, karet, farmasi, kosmetik, hingga cat dan tinta sangat bergantung pada turunan minyak.
“Tekanannya akan masuk dari dua arah sekaligus, yaitu energi yang lebih mahal dan bahan baku yang lebih mahal,” kata Josua.
Dalam konteks global, kenaikan harga energi juga dipengaruhi dinamika geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang mendorong volatilitas harga minyak.
Dampak ke pasar domestik diperkirakan tidak merata, tetapi terkonsentrasi pada sektor dengan ketergantungan tinggi terhadap energi dan konsumsi rumah tangga.
Sementara itu, permintaan berpotensi melemah seiring turunnya daya beli kelas menengah. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi dunia usaha. Meski saat ini pertumbuhan ritel masih positif, risiko penurunan volume penjualan diperkirakan meningkat setelah periode Lebaran.
Stabilitas sektor usaha akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli pasar, di tengah tekanan energi yang masih berlanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










