Akurat Logo

BI Perkuat SRBI, Modal Asing Masuk Rp54,3 Triliun hingga April 2026

Esha Tri Wahyuni | 23 April 2026, 08:10 WIB
BI Perkuat SRBI, Modal Asing Masuk Rp54,3 Triliun hingga April 2026
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (Akurat.co/Esha Tri Wahyuni)

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memperkuat struktur suku bunga instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan, penyesuaian suku bunga SRBI dalam sebulan terakhir telah mendorong masuknya dana asing ke pasar keuangan domestik.

“Struktur suku bunga SRBI dalam sebulan terakhir telah ditingkatkan untuk mendorong aliran modal masuk dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (22/4/2026).

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, hasil kebijakan tersebut mulai terlihat signifikan sejak awal 2026.

Baca Juga: Usut Tuntas Korupsi CSR, KPK Periksa Dua Pejabat Bank Indonesia

“Di SRBI, setelah kita mulai melakukan penyesuaian mulai Januari, Februari, dan Maret, kita sudah melihat hasilnya karena inflow mencapai Rp32,5 triliun,” kata Destry.

Pada April 2026, inflow tambahan tercatat Rp29 triliun, sehingga secara year to date (ytd) mencapai Rp54,3 triliun. Sementara itu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga mencatat inflow sekitar Rp10-11 triliun pada periode yang sama.

Selain itu, instrumen valas BI melalui Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) mencatat peningkatan sekitar 400 juta dolar AS pada April 2026.

Per 21 April 2026, posisi SRBI tercatat sebesar Rp885,41 triliun, dengan kepemilikan investor nonresiden mencapai Rp165,98 triliun atau 18,75% dari total outstanding.

Penguatan SRBI merupakan bagian dari strategi BI sejak 2023 dalam merespons volatilitas global, khususnya akibat kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

Dalam beberapa tahun terakhir, BI mengembangkan instrumen moneter berbasis pasar (pro-market) seperti SRBI dan SVBI untuk memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus meningkatkan daya tarik aset rupiah bagi investor global.

Baca Juga: Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Melonjak 2 Kali Lipat: Dorong Ekonomi Hijau dan Kendaraan Listrik

Langkah ini juga melanjutkan kebijakan stabilisasi rupiah yang sebelumnya mengandalkan intervensi di pasar valas dan pembelian SBN.

Masuknya aliran modal asing memberikan bantalan terhadap tekanan nilai tukar rupiah. Hingga 21 April 2026, rupiah berada di level Rp17.140 per USD, atau melemah 0,87% secara point to point dibandingkan akhir Maret 2026.

Di sisi likuiditas, BI juga mencatat pembelian SBN sebesar Rp111,54 triliun secara ytd, termasuk Rp56,53 triliun dari pasar sekunder, untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan mendukung sinergi kebijakan fiskal.

Kondisi likuiditas dolar AS di dalam negeri juga dinilai masih memadai, yang turut menopang stabilitas eksternal.

“Dengan net inflow yang makin meningkat, ini akan memperkuat ketahanan sektor eksternal kita,” ujar Destry.

BI menegaskan akan terus aktif di pasar keuangan global selama 24 jam untuk menjaga stabilitas rupiah dan memastikan efektivitas transmisi kebijakan moneter.

“BI akan terus berada di market 24 jam, baik di pasar domestik maupun global,” kata Destry.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.