Akurat Logo

BI All Out Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Dipakai Intervensi Global

Esha Tri Wahyuni | 8 Mei 2026, 07:50 WIB
BI All Out Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Dipakai Intervensi Global
Ilustrasi Mata Uang Rupiah (Source: Freepik)

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mengungkap langkah “all out” untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang memicu pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tidak hanya melakukan intervensi di pasar domestik, BI bahkan turun langsung ke pasar valuta asing internasional seperti Hong Kong, Singapura, London, hingga New York.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan, langkah tersebut bukan sekadar kebijakan rutin atau business as usual. Menurutnya, tujuh strategi stabilisasi yang dijalankan saat ini merupakan respons agresif terhadap tekanan global yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga: Bank Indonesia Siapkan Tujuh Langkah untuk Perkuat Rupiah

“Intervensinya itu tidak hanya di dalam negeri. Kami intervensi di Hong Kong, Singapura, London, sampai New York. Itu bukan bisnis as usual, itu all out,” ujar Gubernur BI dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Langkah tersebut dilakukan di tengah penurunan cadangan devisa Indonesia menjadi USD148,2 miliar pada bulan lalu. Meski turun, BI memastikan posisi tersebut masih berada pada level aman untuk kebutuhan stabilisasi pasar keuangan dan pembayaran internasional.

“Cadangan devisa memang kami kumpulkan saat inflow besar, dan digunakan saat outflow meningkat. Itu memang fungsinya,” katanya.

Selain intervensi langsung di pasar spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF), BI juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menahan arus modal keluar dari pasar domestik.

Data BI menunjukkan, aliran dana asing masuk melalui SRBI secara year to date mencapai Rp78,1 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan arus keluar asing dari pasar saham sebesar Rp38,6 triliun dan outflow Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp11,7 triliun.

Menurut BI, kondisi tersebut menjadi salah satu penyangga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan global.

“Kalau saham dan SBN outflow, masa SRBI juga harus outflow? Harus ada kompensasi inflow,” kata Perry.

Baca Juga: Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Melonjak 2 Kali Lipat: Dorong Ekonomi Hijau dan Kendaraan Listrik

BI juga menunjuk sejumlah bank domestik, termasuk bank Himbara dan swasta nasional, untuk ikut melakukan transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore sebagai bagian dari pendalaman pasar uang domestik.

Di sisi fundamental, BI menilai kondisi ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 5,61% secara tahunan, salah satu yang tertinggi di kelompok negara G20.

Selain itu, inflasi nasional masih terkendali di level 2,42%, neraca perdagangan tetap surplus, dan pertumbuhan kredit perbankan masih solid.

“Secara fundamental rupiah itu undervalue. Fundamental ekonomi kita kuat,” ujarnya.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. BI mencatat kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama penguatan dolar AS.

Di saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun juga naik ke kisaran 4,41%, sehingga memicu perpindahan dana investor global keluar dari pasar negara berkembang (emerging market).

“Seluruh mata uang dunia melemah. Bukan hanya rupiah,” kata Gubernur BI.

Tekanan musiman juga muncul pada periode April-Mei seiring meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen korporasi, utang luar negeri, hingga kebutuhan perjalanan ibadah umrah dan haji masyarakat Indonesia.

BI memastikan kebutuhan dolar AS untuk masyarakat dan dunia usaha tetap terpenuhi.

“Kami pastikan kebutuhan dolar untuk umrah dan haji terpenuhi,” ujarnya.

Langkah agresif BI menjaga rupiah menjadi sorotan karena dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Kini, strategi intervensi lintas negara yang dilakukan BI menunjukkan tekanan di pasar keuangan global tidak lagi bersifat domestik semata, melainkan bergerak selama 24 jam mengikuti perdagangan internasional.

BI menegaskan koordinasi dengan pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus diperkuat melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

“Bank Indonesia all out menjaga rupiah dan terus mendapat dukungan penuh dari Presiden,” kata Gubernur BI.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.