Akurat Logo

Di Tengah Pelemahan Ekonomi Global, RI Mampu Tarik Realisasi Investasi Rp498 Triliun dan Serap 706 Ribu Tenaga Kerja pada Kuartal I-2026

Esha Tri Wahyuni | 11 Juni 2026, 18:32 WIB
Di Tengah Pelemahan Ekonomi Global, RI Mampu Tarik Realisasi Investasi Rp498 Triliun dan Serap 706 Ribu Tenaga Kerja pada Kuartal I-2026
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto

AKURAT.CO Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia mencatatkan sinyal positif dari sektor investasi yang mulai menunjukkan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja. 

Realisasi investasi pada kuartal I-2026 mencapai Rp498,79 triliun atau tumbuh 7,22% secara tahunan (year-on-year/yoy), sekaligus menyerap 706.569 tenaga kerja atau melonjak 18,93% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja investasi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartaI-2026. Capaian tersebut berada di atas sejumlah proyeksi pasar dan memperlihatkan bahwa investasi mulai bertransformasi dari sekadar penambah modal menjadi penggerak penciptaan pekerjaan baru.

Baca Juga: Bos BKPM Taksir Realisasi Investasi Kuartal-I 2026 Naik Hampir 7 Persen ke Rp497 Triliun

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, investasi masih jadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, selain permintaan domestik, percepatan belanja pemerintah dan pemulihan sektor manufaktur.

“Pemerintah terus menerapkan kebijakan fiskal yang prudent namun tetap bersifat countercyclical guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Reformasi subsidi juga terus dilanjutkan melalui peningkatan ketepatan sasaran penerima manfaat,” kata Airlangga dalam acara Launch of the World Bank Indonesia Economic Prospects (IEP) Report Edisi Juni 2026, Kamis (11/6/2026).

Selain pertumbuhan ekonomi yang solid, sejumlah indikator makroekonomi turut menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Inflasi tercatat sebesar 3,08% (yoy), masih berada dalam rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia. 

Di sektor eksternal, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, sementara cadangan devisa mencapai USD144,9 miliar.

Dari sisi pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68%. Dalam setahun terakhir, Indonesia berhasil menciptakan sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru, memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai memberikan dampak lebih luas terhadap penyerapan tenaga kerja.

Masuknya investasi ke sektor hilirisasi dan ekonomi digital menjadi salah satu pendorong utama.

Pemerintah mencatat semakin banyak perusahaan hyperscaler global yang masuk ke Indonesia untuk mengembangkan pusat data (data center), memperkuat posisi Indonesia sebagai hub ekonomi digital regional di Asia Tenggara.

Untuk menjaga ketahanan sektor eksternal, pemerintah terus memperkuat kebijakan devisa hasil ekspor (DHE). Salah satu langkah yang diterapkan adalah kewajiban retensi 100% DHE sektor nonmigas di dalam negeri selama 12 bulan.

Pemerintah juga memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) bersama Bank Indonesia guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.

Menurut Airlangga, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus diperkuat guna menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar keuangan nasional.

“Kami juga terus melakukan berbagai penyesuaian terkait indeks MSCI dan FTSE agar pasar modal Indonesia tetap kompetitif dan menarik bagi investor global,” ujarnya.

Pemerintah tengah menuntaskan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang membuka akses ke pasar dengan kontribusi sekitar 14,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. 

Selain itu, Indonesia juga mendorong implementasi Indonesia-Canada CEPA dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).

Di saat bersamaan, negosiasi tarif perdagangan dengan Amerika Serikat masih berlangsung.

Pemerintah juga melanjutkan proses aksesi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) serta mempersiapkan Indonesia-United Kingdom CEPA sebagai bagian dari strategi memperluas pasar ekspor nasional.

Fokus terhadap investasi menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

Setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir relatif bertahan di kisaran 5%, pemerintah kini menargetkan akselerasi menuju level yang lebih tinggi.

Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%. Sementara pada 2027, target pertumbuhan dipatok di rentang 5,8%-6,5%.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan komitmen pemerintah menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% terhadap PDB sembari menjadikan anggaran negara sebagai instrumen transformasi ekonomi nasional.

Dalam mendukung target tersebut, pemerintah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Penguatan Iklim Investasi.

“Langkah-langkah awal yang cepat membuahkan hasil meliputi penyederhanaan persetujuan impor, standardisasi proses perizinan usaha, dan percepatan proyek investasi strategis,” kata Airlangga.

Menutup sambutannya, Airlangga menyampaikan bahwa laporan Indonesia Economic Prospects dari World Bank memperkuat pentingnya kombinasi antara stabilitas makroekonomi dan reformasi struktural untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

“Temuan laporan memperkuat pentingnya stabilitas makroekonomi di samping reformasi struktural. Kami berharap dapat melanjutkan kemitraan dalam mempertahankan pertumbuhan yang kuat dan tangguh,” ujar Airlangga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.