Era Ketidakpastian, Misbakhun: Perspektif terhadap Krisis Harus Dikalibrasi Ulang

AKURAT.CO Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menilai, dunia telah memasuki fase baru yang ditandai dengan ketidakpastian global yang berlangsung secara terus-menerus.
Dalam kondisi tersebut, menurut Misbakhun, cara pandang terhadap krisis ekonomi tidak lagi bisa menggunakan pendekatan lama yang hanya berfokus pada satu pemicu utama.
"Kita ini adalah generasi baru yang diwarisi oleh ketidakpastian. Perspektif kita terhadap krisis harus dikalibrasi lagi," kata Misbakhun dalam acara Mid year Economic Outlook 22026; The New Rules of Survival In Uncertain Times di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Baca Juga: Serap Aspirasi Daerah Soal TKD 2027, Misbakhun: DPR Selalu Berupaya Pemda Punya Ruang Fiskal Memadai
Menurut Misbakhun, berbagai gejolak global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa krisis saat ini tidak lagi muncul dari satu faktor sebagaimana yang terjadi pada dekade-dekade sebelumnya.
Pandemi COVID-19, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok global, hingga meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah menjadi contoh bagaimana berbagai risiko saling berinteraksi dan menciptakan tekanan terhadap perekonomian dunia.
"Kalau dulu kita membicarakan krisis, parameternya selalu satu penyebab. Sekarang penyebabnya datang dari banyak sisi kehidupan," ujar dia.
Misbakhun menilai pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 menjadi titik balik cara dunia memandang risiko ekonomi.
Berbeda dengan krisis sebelumnya yang dominan berasal dari sektor keuangan atau moneter, pandemi memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, perdagangan internasional, konsumsi rumah tangga hingga aktivitas industri.
Data resmi menunjukkan pandemi memang menjadi kontraksi ekonomi global terdalam sejak Perang Dunia II.
World Bank mencatat ekonomi dunia menyusut sekitar 3,1% pada 2020, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut lebih dari 170 negara mengalami penurunan pendapatan per kapita pada tahun yang sama. Kondisi tersebut menjadi salah satu krisis paling luas dalam sejarah ekonomi modern.
Misbakhun kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah krisis besar sebelumnya.
Ia menyinggung Great Depression pada 1930-an, krisis moneter Asia 1997-1998 yang dipicu gejolak nilai tukar, hingga krisis keuangan global 2008 akibat runtuhnya pasar kredit perumahan berisiko tinggi di Amerika Serikat.
Menurutnya, seluruh krisis tersebut relatif memiliki penyebab dominan yang dapat diidentifikasi. Sementara saat ini, dunia menghadapi kombinasi risiko yang datang secara bersamaan.
"Kita sudah mengalami krisis yang lebih besar dari semuanya, yaitu COVID-19. Setelah itu masih muncul konflik geopolitik, gangguan perdagangan, hingga ketidakpastian baru seperti Selat Hormuz. Karena itu perspektif kita harus berubah," ujarnya.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Misbakhun mengatakan indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif kuat.
Misbakhun menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39%, sedangkan pada kuartal I 2026 meningkat menjadi 5,61%.
"Ekonomi kita dalam dua kuartal terakhir tumbuh 5,39 persen dan 5,61 persen. Itu menunjukkan fundamental ekonomi tetap terjaga," katanya.
Angka tersebut, menurutnya, menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih mampu bertahan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
Pernyataan Misbakhun muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap berbagai risiko global sepanjang 2026.
Selain konflik geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi jalur distribusi energi internasional, berbagai lembaga internasional juga masih mengingatkan perlambatan ekonomi dunia akibat tingginya suku bunga global, fragmentasi perdagangan, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.
IMF dalam pembaruan proyeksi ekonominya juga menyebut ketidakpastian kebijakan perdagangan dan kondisi geopolitik masih menjadi salah satu risiko utama terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Misbakhun juga menilai kondisi tersebut menuntut perubahan cara berpikir para pembuat kebijakan maupun masyarakat.
Dirinya menggambarkan bahwa jika pada dekade sebelumnya kepastian masih lebih dominan dibanding ketidakpastian, maka kini situasinya justru berbalik.
"Kalau dulu mungkin kepastiannya 15 dan ketidakpastiannya lima. Sekarang justru ketidakpastiannya yang jauh lebih besar," katanya.
Karena itu, menurutnya, tantangan utama bukan menghindari ketidakpastian, melainkan membangun kemampuan beradaptasi dan menyelesaikan persoalan yang muncul.
"Tantangan kepemimpinan adalah menyelesaikan persoalan, bukan meratapi keadaan," ujar Misbakhun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










