Inflasi Masih Sesuai Target BI, Kenaikan BBM Dominasi Tekanan Harga

AKURAT.CO Inflasi Indonesia pada Juni 2026 tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia (BI), namun struktur penyebab kenaikan harga mengalami perubahan.
Jika sebelumnya tekanan inflasi lebih banyak berasal dari kelompok pangan, kini kenaikan harga BBM nonsubsidi dan tarif angkutan udara menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi bulanan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Bank Indonesia, Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,44% secara bulanan (month to month/mtm).
Baca Juga: BPS Taksir Produksi Beras di Juni-Agustus 2026 Naik 1,38 Persen ke 2,88 Juta
Secara tahunan, inflasi tercatat 3,34% (year on year/yoy), masih berada dalam kisaran sasaran BI sebesar 2,5±1%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, inflasi yang tetap terjaga merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter serta sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).
"Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui TPIP dan TPID serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional," kata Ramdan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Ia menegaskan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap berada dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 hingga 2027.
Perubahan terlihat pada komposisi penyumbang inflasi. Kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi 1,41% (mtm), meningkat tajam dibandingkan 0,52% pada Mei 2026. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta meningkatnya tarif angkutan udara akibat kenaikan harga energi global dan avtur.
Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices juga naik menjadi 3,42%, lebih tinggi dibandingkan 2,07% pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: BPS: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Dorong Inflasi Transportasi 2,29 Persen di Juni 2026
Sementara itu, tekanan dari kelompok pangan justru mulai mereda. Kelompok volatile food mengalami inflasi 0,14% (mtm), lebih rendah dibandingkan 0,22% pada Mei 2026. Meski demikian, sejumlah komoditas seperti beras, bawang merah, dan bawang putih masih mencatat kenaikan harga akibat turunnya produksi di daerah sentra, meningkatnya biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.
Secara tahunan, inflasi volatile food turun menjadi 5,58%, lebih rendah dibandingkan 6,24% pada Mei 2026, mengindikasikan tekanan harga pangan mulai berkurang.
Di sisi lain, inflasi inti yang mencerminkan tekanan permintaan dan ekspektasi harga tetap berada pada level yang relatif stabil. Inflasi inti tercatat 0,23% (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan 0,22% pada bulan sebelumnya.
Secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 2,76% dari 2,59% pada Mei 2026, didorong oleh masih tingginya harga komoditas global di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









