Akurat Logo

Investor Sororti Transparansi Pasar Modal, Airlangga Sebut Perusahaan Juga Harus Jaga Tata Kelola

Esha Tri Wahyuni | 12 Agustus 2026, 10:03 WIB
Investor Sororti Transparansi Pasar Modal, Airlangga Sebut Perusahaan Juga Harus Jaga Tata Kelola
IHSG dibuka menguat berkebalikan dengan tren di regional

AKURAT.CO Pemerintah menilai kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih memiliki sejumlah penopang di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut status investment grade, disiplin fiskal, serta kinerja sejumlah sektor emiten menjadi indikator yang perlu dijaga untuk mempertahankan kepercayaan pasar.

Menurut Airlangga, Indonesia masih mempertahankan peringkat layak investasi dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional. Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih dinilai kredibel oleh investor.

Baca Juga: OJK Tunggu Keputusan MSCI 12 Agustus, Bagaimana Nasib Saham RI?

"Nah kalau kita lihat memang salah satu yang selalu dibahas, sovereign rating Indonesia tetap pada investment grade (layak investasi)," kata Airlangga dalam keterangannya, dikutip Rabu (12/8/2026).

Airlangga menyebut peringkat dari S&P, Fitch, dan Moody's menjadi salah satu indikator yang mencerminkan persepsi lembaga internasional terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Selain itu, instrumen Panda Bond Indonesia juga memperoleh peringkat Triple A.

"Kita lihat dari S&P, kemudian Fitch, Moody's, kemudian juga rating untuk Panda Bond Indonesia juga Triple A," ujarnya.

Bagi pemerintah, mempertahankan peringkat tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga persepsi investor terhadap Indonesia. Airlangga mengatakan pelaku pasar tidak perlu terlalu mengkhawatirkan satu atau dua penilaian terhadap perekonomian.

Menurut dia, perusahaan juga memiliki peran dalam menjaga kepercayaan tersebut melalui prospek usaha, transparansi, dan tata kelola perusahaan. "Jadi itu yang harus kita jaga," kata Airlangga.

Selain peringkat investasi, Airlangga menyoroti disiplin fiskal sebagai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia. Dia mengatakan pemerintah masih menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menurut Airlangga, batas tersebut menjadi salah satu indikator yang membedakan kondisi fiskal Indonesia dengan sejumlah negara lain yang memiliki rasio utang terhadap PDB lebih tinggi.

Dia mencontohkan Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura yang memiliki rasio utang terhadap PDB di atas 100%. "Negara seperti Jepang, punya debt terhadap GDP-nya juga di atas 100 persen. Amerika juga demikian, Singapura pun demikian," ujarnya.

Airlangga mengatakan indikator fiskal Indonesia saat ini masih berada dalam batas yang ditetapkan pemerintah. Karena itu, dia meminta pelaku pasar tidak memberikan kekhawatiran secara berlebihan terhadap kondisi fundamental ekonomi nasional.

"Jadi apa yang membuat kita worry? Ini kan semua angka-angka yang kita targetkan sendiri dan juga kita masih relatif aman di angka-angka tersebut. Jadi jangan kita khawatir berlebihan," katanya.

Selain indikator makroekonomi, pemerintah juga melihat perkembangan kinerja perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia sebagai bagian dari gambaran aktivitas ekonomi nasional.

Airlangga menyebut sejumlah sektor mencatat pertumbuhan laba yang signifikan. Sektor basic materials mencatat pertumbuhan laba sebesar 258,9%, sedangkan sektor transportation and logistics tumbuh 103,4% dan sektor keuangan sebesar 39,8%.

"Nah kalau kita lihat pertumbuhan laba dari sektor yang diandalkan di Indonesia yaitu basic materials, itu pertumbuhan labanya 258,9 persen, transportation and logistics 103,4 persen, dan financial 39,8 persen," kata Airlangga.

Kinerja tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah tetap melihat pasar modal sebagai bagian penting dari perekonomian. Pasar modal tidak hanya menjadi tempat perusahaan memperoleh pendanaan, tetapi juga menjadi salah satu indikator kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan dan ekonomi Indonesia.

Airlangga juga menyebut Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah investor terbesar di ASEAN. Di sisi lain, Indonesia memiliki jumlah perusahaan tercatat terbesar kedua di kawasan tersebut.

Dari sisi penghimpunan dana melalui pasar modal, Airlangga menyoroti aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dia mengatakan aktivitas IPO pada semester I 2026 masih relatif tertinggal. Namun, pemerintah berharap aktivitas tersebut meningkat pada semester II 2026.

Pada Juli 2026, terdapat tujuh emiten baru yang mencatatkan sahamnya. Dari aktivitas tersebut, nilai IPO yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. "Walaupun kita kemarin Semester 1 agak lagging, tapi mudah-mudahan semester 2 bisa mengejar dengan IPO nilainya Rp2,16 triliun," ujar Airlangga.

Perkembangan IPO menjadi penting bagi perusahaan karena pasar modal menyediakan alternatif sumber pendanaan di luar pembiayaan perbankan. Bagi investor, bertambahnya perusahaan tercatat juga memperluas pilihan investasi di pasar saham.

Namun, Airlangga menekankan bahwa peningkatan aktivitas pasar modal perlu berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas perusahaan. Emiten dituntut menjaga kinerja, transparansi, dan tata kelola agar kepercayaan investor dapat dipertahankan.

Pemerintah, kata dia, akan terus mendorong perusahaan memperkuat kinerja dan tata kelola sekaligus meningkatkan transparansi. Dengan demikian, pasar modal dapat tetap menjadi salah satu cerminan kondisi dan daya saing perekonomian Indonesia.

Di tengah dinamika ekonomi global, Airlangga menilai fondasi tersebut perlu dijaga agar Indonesia tetap dipandang sebagai negara dengan perekonomian yang stabil dan bukan masuk kategori frontier market. "Jadi itu yang harus kita jaga," tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.