Indonesia Masuk 12 Besar Dunia dalam Nilai Tambah Manufaktur, Kalahkan Thailand dan Vietnam

AKURAT.CO Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa nilai tambah manufaktur Indonesia berhasil mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Berdasarkan data dari theglobaleconomy.com, Indonesia menempati posisi ke-12 dunia dengan MVA sebesar USD255,96 miliar atau setara Rp4,26 kuadriliun (kurs Rp16.634) pada tahun 2023.
"Ini merupakan capaian strategis yang menunjukkan posisi penting Indonesia dalam peta industri global," ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (4/5/2025).
Baca Juga: Kemenperin Akui Industri Manufaktur Dalam Negeri Hadapi Pukulan Berat
Menurutnya, angka tersebut meningkat sebesar 36,4 persen dibandingkan tahun 2022 yang mencatat MVA senilai USD241,87 miliar. Bahkan, jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia jauh lebih unggul. Thailand hanya menempati posisi ke-22 dengan nilai USD128 miliar, sedangkan Vietnam di posisi ke-24 dengan nilai USD102 miliar.
“Nilai MVA Indonesia hampir dua kali lipat dari Thailand dan Vietnam. Ini bukti bahwa struktur industri nasional kita, dari hulu ke hilir, sangat kuat,” kata Menperin.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa struktur industri manufaktur Indonesia yang dalam, serta keberhasilan hilirisasi sumber daya alam dan adopsi teknologi, menjadi faktor utama pendorong capaian tersebut.
“Strategi hilirisasi yang kami dorong selama ini mulai menunjukkan hasil konkret dalam bentuk kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional,” tuturnya.
Agus juga menegaskan pentingnya kebijakan yang pro-bisnis dan pro-investasi untuk mendorong tren positif tersebut agar terus berlanjut. Ia mencatat bahwa tren MVA nasional cenderung naik sejak 2019 hingga 2023, dengan pengecualian saat pandemi COVID-19.
Baca Juga: Kemenperin Genjot Revitalisasi Sentra IKM Kulit Manding di Yogyakarta
Rata-rata MVA dunia berdasarkan data dari 153 negara adalah USD78,73 miliar. Dengan nilai USD255,96 miliar pada tahun 2023, posisi Indonesia jauh di atas rata-rata global dan sejajar dengan negara-negara maju seperti Inggris, Prancis, dan Rusia.
Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, akan terus memperkuat perlindungan industri dalam negeri dari ancaman banjir produk impor. Langkah ini dinilai efektif dalam menjaga produktivitas sektor manufaktur dan menjaga pertumbuhan nilai tambah industri nasional.
“Ke depan, kami akan terus mendorong pemanfaatan teknologi, inovasi, dan penguatan ekosistem industri agar Indonesia menjadi pusat manufaktur yang berdaya saing di tingkat global,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









