Neskipun fenomena ini masih dalam kategori lemah, dampaknya tetap signifikan, terkhusus untuk wilayah-wilayah tertentu yang sering terpapar hujan ekstrem.
Ia menjelaskan, fenomena La Nina seringkali berdampak pada peningkatan curah hujan.
Akan tetapi dampaknya tidak merata di seluruh tanah air.
"Salah satu dampak dari La Nina adalah adanya penambahan curah hujan yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor," jelas Guswanto, dikutip Minggu, (10/11/2024)
BMKG mengidentifikasi wilayah yang berpotensi terkena dampak signifikan dari fenomena ini, seperti Sumatra Barat, Sumatra Utara, Aceh serta beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian selatan.
Di wilayah-wilayah tersebut, curah hujan dapat meningkat 15 hingga 20 persen dibandingkan dengan kondisi normal.
Selain itu, daerah seperti Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Merauke juga diimbau untuk tetap waspada potensi peningkatan curah hujan yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari serta meningkatkan potensi bencana alam.
Baca Juga: Indonesia AI Day 2024 Siap Berikan Wawasan Mendalam tentang Peran AI bagi Masa Depan Indonesia
Upaya sebagai antisipasi potensi bencana alam ini, masyarakat diimbau agar tetap tenang namun jangan menurunkan tingkat waspada.
Penting bagi masyarakat untuk selalu memperbarui informasi cuaca dari BMKG supaya dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat.
"Penting untuk menjaga kewaspadaan dengan selalu mengikuti informasi terkait cuaca dan curah hujan dari BMKG," kata Guswanto.
Selain itu, Guswanto juga mengingatkan bahwa masyarakat juga memiliki peran penting dalam upaya mitigasi dampak dari bencana hidrometeorologi.
Salah satunya ialah dengan meningkatkan koordinasi antar warga dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar, seperti memastikan selokan dan saluran air lainnya bebas dari sampah yang dapat menghambat aliran air.
Baca Juga: Sejarah Hari Pahlawan 10 November, Perjuangan Rakyat Melawan Penjajah di Surabaya!
Kemudian melakukan pengecekan rutin terhadap pintu-pintu air, irigasi juga tanggul sungai.
"Jika memungkinkan kita juga harus memperkuat tanggul yang sudah mulai longsor atau rapuh serta merapikan area sekitar sungai dari sampah yang dapat memperburuk kondisi saat hujan lebat," katanya.
Penting untuk diingatkan bahwa penanggulangan bencana meteorologi memerlukan kerja sama serta gotong royong yang solid antar masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta.
Tindakan preventif yang dilakukan bersama-sama akan lebih efektif dalam menghadapi potensi bencana alam yang mungkin terjadi, terutama pada puncak musim hujan di tahun 2024 sampai awal tahun 2025.
"Melalui sosialisasi dan edukasi yang terus menerus kepada masyarakat, kita akan lebih siap dalam menghadapi kemungkinan buruk yang ditimbulkan olehh fenomena cuaca ekstrem ini," jelas Guswanto. (Wandha Chintya Nurulita)