Mengurai Bahaya Politisasi Agama, Membangun Pilkada Serentak yang Harmonis

AKURAT.CO Indonesia kembali akan menggelar pesta demokrasi dalam Pilkada Serentak 2024.
Seperti pada pemilihan presiden dan wakil presiden awal tahun 2024, politisasi agama masih menjadi momok bagi suksesnya pelaksanaan pesta demokrasi di Indonesia.
Peneliti komunikasi politik, Effendi Gazali, PhD. menyerukan untuk mewaspadai fenomena politisasi agama di masa-masa Pilkada Serentak 2024, yang akan berlangsung di seluruh Indonesia pada 27 November mendatang.
Ia menilai fenomena tersebut cukup berbahaya jika digunakan hanya untuk meraup elektoral semata yang dapat mengganggu kerukunan dan persatuan, serta stabilitas politik di Indonesia.
Menurut Effendi, ketika agama digunakan sebagai alat politik, sering kali muncul distorsi dalam penyampaian pesan keagamaan yang seharusnya netral.
Baca Juga: Kejagung Pastikan Tidak Ada Politisasi dalam Penetapan Tersangka Tom Lembong
Hal ini membuat orang menganggap bahwa pandangan tertentu adalah kebenaran absolut, hanya karena dikemas dalam komunikasi religiusitas untuk mengatasi hambatan-hambatan atau batas fisik.
"Orang bisa membayangkan diri segera ke surga dengan segala keindahan yang sangat amat indah. Dibandingkan dengan masalah-masalah yang sedang dihadapi di dunia nyata," katanya, melalui keterangan yang diterima, Kamis (21/11/2024.
Akibatnya, objektivitas dalam pengambilan keputusan, baik secara pribadi maupun kolektif menjadi bias.
"Jadi, ukuran keadilan, kebenaran, hak asasi, hukum, kesuksesan ekonomi, kesejahteraan hidup, kebebasan beragama sudah diukur berdasarkan politisasi agama yang diajukan," kata Effendi.
Doktor lulusan Radboud University ini mengungkapkan bahwa politisasi agama merupakan salah satu strategi komunikasi politik tertinggi.
Baca Juga: Ridwan Kamil Ogah Politisasi Sepak Bola: Intinya Saya Cinta Jakarta dan Seisinya
Mulainya masuk dari interpersonal lalu bersahut-sahutan dengan komunikasi intrapersonal yang membuat pertahanan batin seseorang menjadi lemah.
Salah satu ciri penggunaan politisasi agama adalah adanya klaim-klaim penderitaan dan ketidakadilan yang dikaitkan dengan unsur dan nilai agama.
Effendi berpendapat, sulit untuk memerangi politisasi agama di era keterbukaan informasi saat ini.
Menurutnya, aspek religius merupakan bagian dari kehidupan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sosial dan politik.
Untuk itu, ia menyerukan nilai nilai kebangsaan dan agama tetap harus diutarakan secara sejuk berbarengan di dalam politik.
Baca Juga: Langkah PDIP Usung Anies di Pilgub Jakarta Bisa Kurangi Politisasi Agama
"Komunikasi religiusitas kini tumbuh sebagai bidang ilmu yang terus menggali itu. Isu-isu ini harus didiskusikan dan tidak dibiarkan ditaruh di bawah karpet," jelas Effendi.
Ia menyebut pentingnya membangun narasi dan diskusi positif, baik di lingkungan rumah, kampus maupun dunia maya.
Untuk mengimbangi narasi negatif yang disebar oleh oknum-oknum penyebar politisasi agama.
Selain itu, dibutuhkan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial dan menguatkan persatuan anak bangsa.
"Amat penting mengajak tokoh-tokoh ulama yang dalam, sejuk dan diterima rakyat," ujar Effendi.
Baca Juga: Ketua Aktivis 98 Sebut Kenaikan Jabatan Prabowo Bukan Politisasi: Memang Wis Wayahe Jenderal
Selain itu, lelaki kelahiran Padang, 5 Desember 1966 ini juga menyatakan pentingnya mengedukasi generasi muda agar lebih peka terhadap bahaya politisasi agama dalam narasi politik.
Dibutuhkan kedewasaan dalam mencari dan mengelola informasi di media sosial.
"Media sosial kata kunci bagi generasi muda. Kita ajak sebagian anak muda menjadi peduli dengan isu ini," tandas Effendi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







