Menteri PPPA Kunjungi Anak Korban Kekerasan di RS Polri: Pemulihan Fisik Membaik, Fokus Bergeser ke Trauma Psikologis

AKURAT.CO Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, kembali mengunjungi M (7), anak perempuan yang sempat viral karena ditemukan dalam kondisi mengenaskan di Pasar Kebayoran Lama akibat penyiksaan oleh orangtuanya.
Kini, M tengah menjalani proses pemulihan intensif di Rumah Sakit Kepolisian Republik Indonesia (RS Polri), Jakarta.
Kunjungan ini, menurut Menteri Arifah, merupakan bentuk komitmen nyata pemerintah dalam menjamin pemulihan fisik dan psikologis anak korban kekerasan, sekaligus memastikan perlindungan berkelanjutan.
“Hari ini saya kembali menjenguk M. Alhamdulillah kondisinya sudah jauh membaik. Ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan mulai bisa berinteraksi dengan tenaga medis. Saya menyapa dan memberi semangat, agar ia tahu bahwa banyak orang yang peduli dan mendukung proses pemulihannya,” ujar Menteri Arifah.
Berdasarkan laporan tim medis, M telah menjalani tiga tindakan bedah besar: operasi ortopedi, operasi bedah mulut, dan bedah plastik.
Saat ini, ia tengah dalam fase pemulihan pasca-operasi, termasuk peningkatan kondisi gizi dan kekuatan fisik secara bertahap.
“Kondisi anak korban kini stabil. Namun selain fisik, aspek psikologis menjadi perhatian utama kami. Layanan psikologis terus diberikan dengan pendekatan yang sensitif dan ramah anak,” tambah Arifah.
Baca Juga: Bonus Demografi Harus Dioptimalkan Lewat Lapangan Kerja dan Penanganan Stunting
Kementerian PPPA bersama Dinas Sosial Jakarta Selatan dan Kementerian Sosial juga memberikan pendampingan sosial dan hukum.
Tim dari Subdirektorat Anak Bareskrim Polri terus mengusut kasus ini dan memastikan proses hukum berjalan transparan dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.
Direktur RS Polri, Brigjen Pol dr. Prima Heru Yuli Hartono, menjelaskan bahwa kondisi fisik M menunjukkan kemajuan signifikan.
Berat badan M mengalami peningkatan dan ia kini berada di ruang rawat biasa setelah 25 hari dirawat intensif.
“Korban sebelumnya mengalami patah rahang bawah. Senin depan, kami rencanakan untuk melepas salah satu kawat penyangga rahangnya agar ia lebih nyaman berbicara,” ujar dr. Prima Heru.
Namun demikian, dokter menegaskan bahwa trauma psikologis anak menjadi tantangan jangka panjang yang harus ditangani secara profesional dan berkelanjutan.
Kasus M menjadi pengingat mendalam bahwa kekerasan terhadap anak bisa terjadi di lingkungan terdekat.
Publik diminta untuk lebih peka dan responsif terhadap tanda-tanda kekerasan di sekitar, serta aktif melaporkan jika melihat potensi pelanggaran hak anak.
Pemerintah dan masyarakat harus bergandengan tangan agar tidak ada lagi anak yang tumbuh dalam ketakutan.
Baca Juga: Datang ke Indonesia, Oxford United Berkomitmen Bantu Sepak Bola Nasional
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









