Akurat
Pemprov Sumsel

Pembelian 50 Pesawat Boeing Jadi Langkah Strategis Garuda, Dorong Lompatan Wisata Indonesia

Ahada Ramadhana | 22 Juli 2025, 13:59 WIB
Pembelian 50 Pesawat Boeing Jadi Langkah Strategis Garuda, Dorong Lompatan Wisata Indonesia

AKURAT.CO Pemerintah berencana membeli 50 unit pesawat Boeing untuk memperkuat armada nasional Garuda Indonesia.

Langkah ini dinilai bukan sekadar ekspansi bisnis penerbangan, melainkan fondasi bagi transformasi besar sektor penerbangan dan pariwisata Indonesia.

Dewan Pakar Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) Bidang Pariwisata, Taufan Rahmadi, mengatakan, pembelian pesawat ini merupakan bagian dari diplomasi ekonomi yang lebih luas, menyusul keberhasilan negosiasi bilateral dengan Amerika Serikat.

Salah satu hasil nyatanya adalah penurunan tarif ekspor produk Indonesia ke AS dari 32 persen menjadi 19 persen.

“Imbal balik dagang ini membuka ruang lebih luas bagi pelaku UMKM, produk pariwisata, dan industri kreatif untuk menembus pasar global. Khususnya dari daerah destinasi wisata unggulan seperti Bali, Yogyakarta, Mandalika, dan Danau Toba,” ujar Taufan, Selasa (22/7/2025).

Taufan menyoroti bahwa dalam indeks Travel and Tourism Development Index 2024 versi World Economic Forum, Indonesia masih berada di posisi ke-52 dari 119 negara dalam aspek infrastruktur transportasi udara.

Karena itu, penguatan armada Garuda membuka peluang besar bagi pengembangan rute langsung jarak jauh (direct long-haul)dari Indonesia ke Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika.

“Ini sejalan dengan arah baru pariwisata Indonesia yang berfokus pada quality tourism, menarik wisatawan dengan masa tinggal lebih lama, belanja lebih besar, dan dampak ekonomi lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Baca Juga: Resmi Dirilis! Kode Redeem Free Fire 22 Juli 2025 dan Cara Klaimnya

Meski ada kritik terkait keterbatasan kapasitas bandara, Taufan menilai hal tersebut mulai teratasi. Sejak 2015, pembangunan dan revitalisasi bandara telah berjalan progresif.

“Bandara seperti Soekarno-Hatta, Ngurah Rai, Kualanamu, Sultan Hasanuddin, dan Yogyakarta International Airport sudah siap melayani pesawat berbadan besar. Pemerintah juga terus memperluas infrastruktur di destinasi prioritas lewat Proyek Strategis Nasional,” ucapnya.

Lebih lanjut, Taufan menambahkan bahwa armada Boeing terbaru juga sudah dirancang kompatibel dengan Sustainable Aviation Fuel (SAF), menjadikan langkah ini selaras dengan komitmen energi hijau nasional.

Taufan mengutip studi Oxford Economics yang dirilis oleh IATA, bahwa setiap peningkatan 10 persen dalam konektivitas udara dapat meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB sebesar 0,5 persen.

“Garuda sebagai maskapai nasional bisa jadi pengungkit langsung pertumbuhan ekonomi. Sektor pariwisata sendiri sudah menyumbang 3,8 persen terhadap PDB pada 2023, dan bisa menembus 5 persen pada 2027 jika konektivitas diperkuat secara merata,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, transformasi pariwisata tak cukup dengan promosi destinasi atau kampanye digital.

Diperlukan reformasi menyeluruh: dari perkuatan maskapai nasional, integrasi rute, pemanfaatan energi bersih, hingga diplomasi udara yang cerdas.

“Keputusan Presiden Prabowo ini memang tidak populis dalam jangka pendek, tapi menjadi pijakan penting untuk pembenahan sistemik dan lompatan ke masa depan,” ungkap Taufan.

Baca Juga: Piala AFF U-23: Bersiap Semifinal, Gerald Vanenburg Bakal Nonton Langsung Laga Thailand dan Vietnam

Taufan menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa konektivitas udara bukan hanya soal logistik, tetapi juga membawa dimensi simbolik.

“Setiap pesawat Garuda yang mendarat di negeri lain membawa identitas bangsa. Ia mengibarkan Merah Putih, dan dengan memperkuatnya, Indonesia membangun kembali kehormatan dan kepercayaan dunia,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.