Kerja Sama Jerman-Indonesia, Proyek GIZ GRASS Berakhir Setelah Tiga Tahun Perkuat Ketahanan Petani Swadaya

AKURAT.CO Proyek GRASS, atau Greening Agricultural Smallholder Supply Chains, yang diimplementasikan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dan didanai Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), secara resmi berakhir.
GRASS adalah kelanjutan dari proyek sebelumnya, SASCI (Sustainable Agricultural Supply Chains in Indonesia) tahun 2020-2022, dan dibangun berdasarkan pencapaian serta pengalaman yang diperoleh dari proyek tersebut.
Acara ini menandai puncak dari kemitraan selama enam tahun (2020–2025) antara GIZ dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.
Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim dan krisis global, petani swadaya menghadapi tantangan dan kerentanan yang makin besar.
Baca Juga: Setahun Pemerintahan Prabowo: Kesejahteraan Petani Meningkat hingga Pasokan Pangan Makin Stabil
Proyek GRASS mendorong keanekaragaman produksi pertanian petani swadaya guna menciptakan sistem pertanian yang lebih stabil, lebih kuat secara biologis dan tangguh terhadap perubahan iklim.
Dengan mempromosikan praktik seperti permakultur dan agroforestri, proyek ini telah meningkatkan kesuburan tanah, konservasi air dan keanekaragaman hayati, sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi petani.
Selain produksi yang sinambung, GRASS juga memberi penekanan pada akses pasar, sistem penyuluhan pertanian dan pemanfaatan teknologi digital untuk pertanian yang berkelanjutan.
Dengan mendorong diversifikasi, ketahanan dan inovasi, proyek ini telah memberdayakan petani swadaya dan memperkuat rantai pasok pertanian berkelanjutan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Pendekatan yang terbukti berhasil meningkatkan ketahanan petani swadaya ini juga dibagikan kepada pemangku kepentingan pertanian lain untuk diimplementasikan dalam skala yang lebih luas di luar Kapuas Hulu.
Selama tiga tahun terakhir, GRASS telah memberi pelatihan kepada 1.100 petani swadaya untuk mempraktikkan cara bertani yang tangguh, meningkatkan pendapatan 600 rumah tangga petani swadaya hingga rata-rata 15 persen serta menyediakan bantuan teknis kepada lebih dari 500 petani dalam mengadopsi praktik pertanian yang tangguh dan cerdas iklim.
Acara penutupan yang digelar di Jakarta, Selasa (18/11/2025), menjadi landasan bagi kolaborasi berkelanjutan yang akan datang di bawah payung Green Climate Fund (GCF). Yang akan memperkuat upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Provinsi Kalbar mulai tahun 2025 hingga 2032.
"Dengan mempromosikan praktik pertanian yang berkelanjutan dan terdiversifikasi, GRASS telah berkontribusi langsung pada agenda nasional pengembangan budidaya tanaman perkebunan yang tangguh terhadap iklim serta berkelanjutan," ujar Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementan, Baginda Siagian.
Baca Juga: IFAD Apresiasi Kementan Cetak Petani Muda Produktif
Perwakilan BMZ di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Dr. Angelika Stauder, menyampaikan pendapat yang senada.
Ia mengatakan, proyek GRASS menggambarkan komitmen kuat Jerman mendukung upaya Indonesia menuju pertanian yang berkelanjutan dan tangguh iklim.
"Melalui pemberdayaan petani swadaya dan promosi rantai pasok yang bertanggung jawab, GRASS berkontribusi pada tujuan kerja sama kedua negara yaitu melindungi lingkungan dan meningkatkan mata pencaharian masyarakat pedesaan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kapuas Hulu, Ferry Suryanata, mengatakan bahwa Proyek GRASS telah membawa manfaat nyata bagi komunitas petani di daerahnya.
Baca Juga: Wakil Ketua DPR Saan Mustopa Janji Perjuangkan Aspirasi Petani Banyuasin
Melalui pelatihan, dukungan teknis serta peluang pasar baru, petani swadaya menjadi lebih tangguh dan lebih siap untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
"Kami berterima kasih atas kolaborasi ini, yang mendukung visi kami membangun pedesaan secara berkelanjutan," ucapnya.
Country Director GIZ untuk Indonesia, Hans-Ludwig Bruns, menambahkan, selama tiga tahun terakhir, GRASS telah menunjukkan hasil nyata kemitraan kuat yang bersatu dalam mencapai tujuan bersama.
"Capaian di Kapuas Hulu menjadi bukti bagaimana pemberdayaan petani swadaya berkontribusi tidak hanya pada peningkatan mata pencaharian, tetapi juga pada ketahanan iklim dan perlindungan keanekaragaman hayati. GIZ terus berkomitmen untuk melanjutkan perjalanan ini bersama mitra kami," jelasnya.
Baca Juga: Kereta Khusus Petani dan Pedagang
Acara penutupan GRASS juga menampilkan pameran produk-produk petani swadaya yang didukung serta diakhiri diskusi panel dan dialog yang mengeksplorasi sinergi peningkatan skala capaian proyek. Untuk memastikan bahwa pelajaran yang dipetik dari proyek GRASS terus memperkuat ketahanan ekonomi dan lingkungan masyarakat perdesaan di Kapuas Hulu dan daerah lain di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









