Pengamat Sarankan Elite PBNU Islah atau Lakukan MLB: Dualisme Kepemimpinan Turunkan Integritas NU

AKURAT.CO Situasi dualisme di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) makin serius setelah Syuriyah menetapkan Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketum PBNU, sementara kubu Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya tetap mengklaim kepemimpinan sah berdasarkan AD/ART dan dukungan kiai sepuh.
Kondisi ini memicu perhatian para pengamat, termasuk Peneliti Senior BRIN, Lili Romli, yang menilai krisis legitimasi tengah mengancam ormas Islam terbesar tersebut.
Romli menegaskan bahwa dua kubu kini sama-sama mengklaim dasar legalitas yang kuat, namun justru itulah yang memperlihatkan pecahnya otoritas internal.
“Tampaknya dengan situasi tersebut, di tubuh PBNU terjadi dualisme kepemimpinan, yang masing-masing mengklaim memiliki dasar dan legitimasi yang kuat,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (10/12/2025).
Baca Juga: Kiai Said: Ketika Elite PBNU Sibuk Urusan Tambang, Maka Fokus Organisasi Bergeser
Ia menilai, perpecahan semacam ini tidak elok bagi organisasi sebesar PBNU yang dihuni para kiai, ulama, dan tokoh panutan. Alih-alih mempertahankan ego struktural, Romli menyarankan agar para elite segera menempuh jalur islah demi menjaga martabat organisasi.
“Saya kira jalan islah masih terbuka jika masing-masing menurunkan egonya demi menjaga integritas dan marwah organisasi keagamaan,” tambahnya.
Namun, bila rekonsiliasi buntu, Romli menyebut ada tiga opsi penyelesaian: pertama, jalur hukum; kedua, percepatan muktamar; dan ketiga, penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa (MLB). Menurutnya, opsi terakhir merupakan langkah konstitusional yang kerap dipilih organisasi besar ketika konflik internal mencapai titik kritis.
Baca Juga: Pasca Dicopot dari Kursi Ketum PBNU, Gus Yahya Akan Gelar Rapat Pleno Hari Ini
Ia memperingatkan, jika ketegangan elite terus berlarut-larut, dampaknya bisa jauh lebih dalam, termasuk hilangnya kepercayaan jamaah. “Bahkan bisa jadi juga muncul distrust dan krisis legitimasi dan otoritas keagamaannya karena tidak dianggap lagi sebagai uswah, suri teladan, yang harus diikuti,” ujarnya.
Konflik PBNU kini berada di persimpangan: antara merawat martabat organisasi yang selama ini menjadi rujukan keagamaan masyarakat, atau membiarkan pertentangan elite merusak kohesi internal. Para pengamat sepakat, penyelesaian segera adalah harga mati bila NU ingin tetap berdiri sebagai kekuatan moral dan keagamaan yang dihormati publik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








