Menlu Tegaskan Traktat Keamanan RI–Australia Bukan Pakta Militer

AKURAT.CO Traktat Keamanan Bersama antara Indonesia dan Australia yang ditandatangani Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese merupakan kelanjutan dari Defense Cooperation Agreement yang telah disepakati kedua negara sejak 2006.
Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono, menegaskan, traktat tersebut menitikberatkan pada penguatan mekanisme konsultasi bilateral di bidang keamanan, bukan pembentukan aliansi militer maupun pakta pertahanan baru.
Menurut Menlu, kerja sama ini mencakup forum konsultasi rutin antara pimpinan negara dan para menteri terkait untuk membahas dinamika keamanan regional dan global yang berpotensi berdampak pada kedua negara.
“Ini bukan pakta pertahanan, bukan pakta militer. Tidak ada konsep bahwa ancaman terhadap satu negara dipersepsikan sebagai ancaman bagi negara lain. Ini adalah forum konsultasi mengenai situasi keamanan di kawasan,” ujar Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Lebih lanjut, Sugiono menjelaskan bahwa kerja sama keamanan tersebut memberikan manfaat strategis bagi Indonesia dan kawasan secara luas.
Ia menekankan, kepentingan nasional Indonesia—mulai dari menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah hingga mendorong kesejahteraan masyarakat—sangat bergantung pada terciptanya lingkungan regional yang stabil dan damai.
Baca Juga: DPR Apresiasi Pembangunan Masjid Al-Ikhlas PIK 2: Perkuat Wisata Religi dan Toleransi
“Untuk mencapai tujuan dan kepentingan nasional, kita memerlukan suasana yang stabil, tenang, dan damai. Ketidakstabilan, konflik, atau meningkatnya ketegangan kawasan akan menghambat pencapaian cita-cita nasional,” jelasnya.
Sugiono menambahkan, komunikasi dan kerja sama dengan negara-negara kawasan menjadi kunci dalam mengelola berbagai tantangan bersama secara konstruktif.
Mekanisme konsultasi semacam ini, lanjutnya, merupakan praktik yang lazim dalam diplomasi Indonesia, baik di tingkat bilateral maupun regional.
“Di tengah situasi global saat ini, komunikasi, kerja sama, dan kolaborasi menjadi sangat penting. Karena itu, diperlukan pemahaman yang sama terhadap dinamika dan tantangan global,” tutup Sugiono.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Prabowo dan Jokowi Kompak di Peringatan HUT RI, Gerindra: Hal yang Wajar
- 10Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk









