Pemerintah Genjot B50, Tekan Ketergantungan Energi Fosil dan Impor Solar

AKURAT.CO Presiden RI, Prabowo Subianto, telah menyusun strategi dalam meredam potensi lonjakan harga pangan akibat kenaikan harga energi global, dengan menggenjot penggunaan bahan bakar nabati berbasis komoditas pertanian.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan Presiden Prabowo telah menginstruksikan optimalisasi pemanfaatan bioenergi dari sawit, tebu, hingga singkong sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan pangan nasional.
"Dalam rangka antisipasi kenaikan harga pangan sebagai implikasi dari kenaikan harga BBM akibat krisis energi global, Bapak Presiden telah menginstruksikan optimalisasi penggunaan bahan bakar nabati," kata Amran dalam rapat bersama Komisi IV DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026)
Baca Juga: Uji B50 di Sektor Tambang Sukses, Dorong Kemandirian Energi Nasional
Dia mengungkapkan, pemerintah menargetkan implementasi program B50 pada 2026, yang diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mengurangi impor solar secara signifikan.
"Insyaallah tahun ini Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton," ujarnya.
Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga menjadi strategi ganda untuk menjaga stabilitas harga pangan. Dengan menekan biaya energi, biaya produksi dan distribusi pangan di dalam negeri dapat lebih terkendali.
Baca Juga: B50 Resmi Jalan Juli 2026, Mentan Amran: Negara Berpotensi Hemat Rp48 Triliun
Ke depan, pemerintah juga akan membangun industri etanol berbasis bahan baku dalam negeri seperti ubi kayu, tebu, dan jagung. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat ketahanan energi, sekaligus membuka peluang baru bagi sektor pertanian.
"Ke depan kita akan implementasikan pabrik etanol dengan bahan baku dari ubi, tebu, dan jagung," jelasnya.
Amran menegaskan bahwa integrasi antara sektor energi dan pangan menjadi kunci dalam menghadapi tekanan global, terutama di tengah ketidakpastian harga minyak dunia yang berpotensi memicu inflasi pangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







