Jerry Hermawan Lo: Atlet Indonesia Jangan Lagi Hidup Nestapa

AKURAT.CO Rasa cinta Tanah Air tak pernah padam, terus menggelora pada diri seorang Jerry Hermawan Lo.
Di tengah-tengah para pemain legendaris Bercelona seperti Ronaldo Nazario, Patrick Kluvert, Rivaldo, yang menghadiri Gala Dinner Legenda Pemain Dunia dalam rangkaian "Clash of Legends" di Jakarta, Jumat (17/4/2026) malam, Chairman JHL Group itu didaulat panitia untuk berpidato.
Dengan berapi-api Jerry mengusung Gerakan "Merah Putih Peduli Atlet" menggalang dana dengan membentuk Yayasan Atlet Merah Putih Purna Karsa. Guna memberikan kepedulian terhadap atlet Indonesia yang di ujung usianya hidup merana dan jatuh sakit.
"Tidak boleh ada lagi peristiwa seperti yang dialami Verawati Fajrin, juara dunia bulu tangkis pada 1980. Sebelum wafat ia harus menjual raket kebanggaannya hanya untuk menebus obat. Dengan semangat gotong royong dan solidaritas, kita perlu gelorakan penggalangan dana untuk membantu atlet Indonesia yang sakit. Dimulai dari diri saya Rp500 juta," jelas Jerry, di depan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak; Kasum TNI, Letjen TNI Richard Tampubolon; dan Ketua Umum PSSI, Erick Tohir.
Selain Verawaty Fajrin yang tutup usia pada 21 November 2021, Jerry menyebut nama lain yang jatuh sakit yakni Ellyas Pical, yang pada 3 Mei 1985 menjadi juara dunia IBF kelas Bantam Junior.
Lalu terdapat nama Leni Haini, atlet dayung yang berprestasi di SEA Games 1997 dan 1999 ini pernah terpaksa ingin menjual medali emasnya untuk membiayai pengobatan sang anak yang menderita sakit keras. Dan Kurnia Meiga, mantan penjaga gawang Timnas Indonesia ini harus berjuang melawan penyakit mata (papiledema) yang mengakhiri kariernya lebih cepat, yang kemudian berdampak pada kondisi ekonomi.
"Atlet Indonesia tak boleh lagi dihari tuanya hidup nestapa," kata pemilik Dewa United itu.
Baca Juga: Ekosistem Olahraga Diperkuat di Lingkungan Kampus, Atlet Kini Berpeluang Dapat Beasiswa LPDP
Cinta Merah Putih
Ayah dari pengusaha muda Tommy Hermawan itu gandrung terhadap frasa merah putih. Ia mendirikan sebuah yayasan untuk membantu beasiswa bagi mahasiswa pertanian dengan memakai nama Yayasan Merah Putih Kasih.
Kini mendirikan Yayasan Atlet Merah Putih Purna Karsa guna membantu atlet-atlet Indonesia yang jatuh sakit. Fakta ini tak berlebihan bila dikatakan Jerry sangat berlebihan mencintai Tanah Airnya.
Usai jatuh bangun selama tiga dasawarsa, selain mampu berpikir cemerlang, di bawah bendera JHL Group, Jerry membangun portofolio bisnis yang luas. Mulai dari jaringan hotel JHL Collections, otomotif, pertambangan, media massa dan terakhir merambah agrobinis, membangun pabrik pengolahan kelapa terpadu memakai bendera PT Dewa Agricoco Indonesia, dengan target produksi tiga juta butir per hari.
Pokok-pokok pikiran Jerry mengenai pabrik pengolahan kelapa terpadu pernah dipakai sebagai bahan pidato Presiden Prabowo Subianto.
Dari hasil kesuksesnya yang diperolehnya Jerry berbagi dengan memberi beasiswa, mencetak 1.000 sarjana pertanian.
Menurut Jerry, kunci kemakmuran Indonesia terletak pada sumber daya yang dapat dikelola dan dinikmati oleh bangsa sendiri, khususnya di bidang pangan. Terkait itu, ia menargetkan, dalam lima tahun bisa swasembada pangan dan menjadi eksportir utama dunia.
"Saya berkeyakinan, lima tahun ke depan kita tidak hanya swasembada pangan tetapi juga menjadi eksportir pangan dunia. Kita akan menjadi lumbung pangan dunia," katanya.
Baca Juga: Karpet Merah Imigrasi untuk Atlet Dunia, Gebrakan Hendarsam Marantoko Dukung Ekosistem Olahraga
Ia mafhum benar, sedari dulu, negara tegas memberi ruang partisipasi kepada warganya yang mampu dan memiliki komitmen untuk turut serta dalam pembangunan. Tidak terkecuali dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan, yang butuh solusi jitu dan peran serta banyak pihak.
Ditanya tentang visi dan misi besar JHL Foundation mencetak 1.000 sarjana pertanian, Jerry tegas mengaitkannya dengan kondisi riil Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah.
"Sayangnya, lahan-lahan pertanian yang sangat luas ini masih belum digarap dengan baik. Bahkan, salah dalam mengelolanya. Belum lagi banyak anak muda yang tidak mau menjadi petani karena hidup petani saat ini masih jauh dari sejahtera," jelasnya.
Lelaki yang masih berlatih tinju saban pekan ini pernah meluncurkan buku berjudul "Life Universty" yang berkisah tentang perjalanan hidupnya sejak kanak-kanak hingga menjadi pebisnis ternama seperti sekarang. Jerry suka dengan tantangan.
"Kalau tidak ingin terkena ombak, jangan membuat rumah di tepi pantai," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini






