Akurat
Pemprov Sumsel

Menteri PPPA Tekankan Pentingnya Literasi Cegah Kekerasan terhadap Santri Perempuan

Ayu Rachmaningtyas | 20 April 2026, 15:27 WIB
Menteri PPPA Tekankan Pentingnya Literasi Cegah Kekerasan terhadap Santri Perempuan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi.

AKURAT.CO Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, melakukan kunjungan Madrasah Nahdatul Banat Diniyah Islamiyah. Dalam kunjungan tersebut, dia menekankan pentingnya kesadaran kolektif bahwa kekerasan bukanlah hal yang dapat ditoleransi.

Dia menegaskan, edukasi dan literasi bagi santri merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman tentang hak-hak mereka sekaligus mendorong keberanian untuk bersuara.

Upaya ini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kolektif, khususnya bagi santri perempuan, agar tumbuh sebagai generasi yang unggul, berdaya, dan mampu melindungi diri di masa depan.

Baca Juga: Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman, Menteri PPPA Dorong Penguatan Satuan Pendidikan Ramah Anak

"Perempuan dan anak masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses kesehatan dan pendidikan, hingga ancaman kekerasan. Di sinilah pentingnya literasi dan edukasi bagi masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan hari ini menjadi sengat relevan karena tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa kekerasan bukanlah hal yang dapat ditoleransi, dan setiap korban berhak mendapatkan perlindungan," kata Arifah, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang pemahaman terhadap hak, hukum, dan perlindungan diri. Literasi hukum dan literasi sosial menjadi sangat penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui, tetapi juga berani bertindak ketika terjadi pelanggaran.

"Apresiasi saya sampaikan kepada seluruh keluarga besar Madrasah NBDI dan Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Wathan (NW). 83 tahun perjalanan mendidik umat bukanlah perjalanan yang singkat. Ini adalah bukti keteguhan, konsistensi dan dedikasi dalam membangun pendidikan, khususnya bagi perempuan, dan menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan," jelasnya.

Dia turut mengimbau para santri khususnya perempuan, untuk percaya diri dan mengimplementasikan ilmu yang didapat dengan kontribusi ke masyarakat.

Baca Juga: Menteri PPPA Ingatkan Aspek Perlindungan Anak di Ponorogo Masih Jadi PR Pemda

Ketua Pimpinan Muslimat NW, Lale Syifaun Nufus, mengungkapkan perjuangan perempuan dimulai sejak jaman penjajahan. Pada tahun 1943 NDBI didirikan ketika perempuan dilarang sekolah tinggi, tapi tetap bergerak, melawan dan mencari ilmu.

"Di tengah penjajahan kita bisa mendirikan laboratorium bagi perempuan untuk menimba ilmu, maka di tahun 2026 tidak ada lagi alasan perempuan hanya diam. Di zaman dengan pengetahuan yang melesat, permasalahan perempuan dan anak masih kita temukan, mulai dari stunting, kemiskinan, hingga kekerasan. Untuk menjawab tantangan tersebut ilmu adalah jawaban bagi perempuan, ditambah dengan keberanian untuk bicara. Kami mengajak perempuan bangkit untuk berpartisipasi dalam pembangunan," katanya.

Dalam rangkaian kunjungan, Arifah turut juga menyambangi Yayasan Pondok Pesantren Qamarul Huda Badaruddin Bagu, untuk memberikan semangat kepada para santri agar terus giat menimba ilmu serta berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.