Pemberdayaan Masyarakat Kunci Indonesia Keluar dari Jebakan Kelas Menengah

AKURAT.CO Pemerintah menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama bagi Indonesia, untuk keluar dari middle-income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan, merupakan capaian yang patut diapresiasi karena menjadi yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya diukur dari angka semata.
"Yang menentukan masa depan adalah strukturnya. Tantangan kita hari ini adalah memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar mampu menciptakan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan," kata Staf Ahli Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pembangunan Ekonomi dan Digitalisasi, Sugeng Bahagijo, di Kampus UI Depok, Jawa Barat, Kamis (21/05/2026).
Baca Juga: Nasabah PNM Mekaar Buktikan Pemberdayaan Perempuan Bisa Menguatkan Ekonomi Keluarga
Sugeng menjelaskan, Indonesia saat ini menghadapi tantangan struktural berupa masih dominannya lapangan kerja bernilai tambah rendah, penurunan upah riil pekerja, hingga ketimpangan pembangunan antarwilayah.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan penguatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat hingga ke tingkat desa.
Sejak 2023, Indonesia telah masuk dalam kategori Upper Middle-Income Country menurut Bank Dunia. Namun, posisi tersebut dinilai masih rentan terhadap risiko middle-income trap, apabila transformasi struktural tidak dilakukan secara menyeluruh.
Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat inovasi, investasi produktif, kualitas modal manusia, serta digitalisasi yang inklusif agar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif dan berdaya saing.
Pemerintah terus mendorong berbagai program prioritas untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat. Namun demikian, Sugeng menegaskan bahwa paradigma pemberdayaan masyarakat tidak boleh hanya berhenti pada bantuan sosial semata.
"Kita tidak hanya ingin masyarakat menerima bantuan, kita ingin masyarakat menjadi pelaku aktif dalam transformasi ekonomi nasional. Inilah yang membedakan program sosial jangka pendek dengan investasi pemberdayaan yang mengubah nasib masyarakat secara berkelanjutan," tegasnya.
Baca Juga: Program Kurban Digital Bidik Pemberdayaan Peternak Desa
Dalam kesempatan tersebut, Sugeng juga mengajak kalangan akademisi untuk terus menjadi mitra kritis pemerintah melalui riset yang tajam, berbasis bukti, dan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang implementatif.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah menjadi faktor penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
"Kita membutuhkan Indonesia yang tumbuh bersama bukan hanya tumbuh di tengah, sementara pinggiran tertinggal. Menjawab tantangan Indonesia Emas 2045 membutuhkan kolaborasi antara kekuatan ilmu pengetahuan dan ketegasan kebijakan," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







