Setelah Ada MBG, Hampir Seluruh Siswa Kenyang Saat Belajar di Sekolah

AKURAT.CO Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, memaparkan sejumlah temuan positif dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), program tersebut terbukti mampu menurunkan secara signifikan jumlah siswa yang mengalami kelaparan saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Menurut Qodari, sebelum program MBG dijalankan, mayoritas siswa Indonesia mengikuti pelajaran dalam kondisi lapar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu konsentrasi belajar dan berdampak pada kualitas pendidikan.
Baca Juga: Gibran Pantau Langsung Menu MBG untuk Siswa SMPN 1 Ndona NTT
"Sudah ada riset dari Bappenas, saya baca laporannya bulan November (2025). Jadi ternyata, sebelum ada MBG, banyak siswa kita itu yang lapar loh pada saat sekolah. Jumlah yang lapar pada waktu itu, lagi sekolah nih, lapar dia, dengerin guru lapar, 56 persen," kata Qodari melalui keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Namun setelah program MBG diterapkan dan terlaksana dengan baik, angka siswa yang merasa lapar saat berada di sekolah turun tajam menjadi hanya 16 persen.
Sebaliknya, jumlah siswa yang mengikuti pelajaran dalam kondisi kenyang meningkat hampir dua kali lipat. Jika sebelumnya hanya 43 persen siswa yang merasa kenyang saat belajar, kini jumlahnya mencapai 84 persen.
"Ini manfaat yang orang belum tahu," lanjut Qodari.
Selain berdampak pada tingkat kenyang siswa, program MBG juga berhasil meningkatkan kualitas konsumsi gizi anak-anak Indonesia. Salah satunya terlihat dari peningkatan konsumsi buah yang melonjak dari 26 persen menjadi 84 persen.
"Kalau kita bicara vitamin C, bicara buah bagus untuk pencernaan, ternyata anak-anak kita dulu itu sedikit sekali yang makan buah. Mayoritas nggak makan buah. Sekarang sudah naik 58 persen, dari 26 persen ke 84 persen," jelasnya.
Baca Juga: Diperiksa sebagai Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Datang Bawa Buku dan Pulpen
Peningkatan juga terjadi pada konsumsi protein hewani. Berdasarkan data Bappenas, konsumsi protein hewani siswa meningkat dari 65 persen menjadi 90 persen setelah pelaksanaan MBG.
"Nah ini kan bagus. Kita ingin sepak bola Indonesia maju kan, badannya gede, tinggi. Kayak pemain Jepang kan, badannya sudah gede, tinggi. Otaknya cerdas, gizinya bagus. Jangan lagi kita dibilang bangsa yang IQ-nya kurang kan. Itu dari mana? Dari protein," tuturnya.
Tak hanya memberikan manfaat kesehatan dan pendidikan, program MBG juga disebut membawa dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat. Sebanyak 86 persen pemasok program MBG melaporkan adanya kenaikan omzet usaha mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 2Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 3Prediksi Skor Uzbekistan vs Kolombia di Piala Dunia 2026: Debutan Asia Hadapi Ujian Berat dari Los Cafeteros
- 4Prediksi Skor Ghana vs Panama di Piala Dunia 2026: Duel Seimbang, Akankah Black Stars Bangkit?
- 5Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 6Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Das Team Diunggulkan, Mampukah Debutan Asia Membuat Kejutan?
- 7Cara Nonton Piala Dunia 2026 Gratis di TVRI dan HP via Aplikasi Streaming
- 8Prediksi Skor Prancis vs Senegal: Les Bleus Lebih Diunggulkan, Mampukah Singa Teranga Ulangi Kejutan Bersejarah?
- 9Sempat Absen karena Sakit, Bos Maktour Penuhi Panggilan KPK
- 10Diperiksa sebagai Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Datang Bawa Buku dan Pulpen








