Akurat Logo

Setelah Ada MBG, Hampir Seluruh Siswa Kenyang Saat Belajar di Sekolah

Moehamad Dheny Permana | 18 Juni 2026, 15:43 WIB
Setelah Ada MBG, Hampir Seluruh Siswa Kenyang Saat Belajar di Sekolah
Siswa menikmati MBG. (Dok. Biro Hukum dan Humas BGN)

AKURAT.CO Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, memaparkan sejumlah temuan positif dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), program tersebut terbukti mampu menurunkan secara signifikan jumlah siswa yang mengalami kelaparan saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Menurut Qodari, sebelum program MBG dijalankan, mayoritas siswa Indonesia mengikuti pelajaran dalam kondisi lapar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu konsentrasi belajar dan berdampak pada kualitas pendidikan.

Baca Juga: Gibran Pantau Langsung Menu MBG untuk Siswa SMPN 1 Ndona NTT

"Sudah ada riset dari Bappenas, saya baca laporannya bulan November (2025). Jadi ternyata, sebelum ada MBG, banyak siswa kita itu yang lapar loh pada saat sekolah. Jumlah yang lapar pada waktu itu, lagi sekolah nih, lapar dia, dengerin guru lapar, 56 persen," kata Qodari melalui keterangannya, Kamis (18/6/2026).

Namun setelah program MBG diterapkan dan terlaksana dengan baik, angka siswa yang merasa lapar saat berada di sekolah turun tajam menjadi hanya 16 persen.

Sebaliknya, jumlah siswa yang mengikuti pelajaran dalam kondisi kenyang meningkat hampir dua kali lipat. Jika sebelumnya hanya 43 persen siswa yang merasa kenyang saat belajar, kini jumlahnya mencapai 84 persen.

"Ini manfaat yang orang belum tahu," lanjut Qodari.

Selain berdampak pada tingkat kenyang siswa, program MBG juga berhasil meningkatkan kualitas konsumsi gizi anak-anak Indonesia. Salah satunya terlihat dari peningkatan konsumsi buah yang melonjak dari 26 persen menjadi 84 persen.

"Kalau kita bicara vitamin C, bicara buah bagus untuk pencernaan, ternyata anak-anak kita dulu itu sedikit sekali yang makan buah. Mayoritas nggak makan buah. Sekarang sudah naik 58 persen, dari 26 persen ke 84 persen," jelasnya.

Baca Juga: Diperiksa sebagai Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Datang Bawa Buku dan Pulpen

Peningkatan juga terjadi pada konsumsi protein hewani. Berdasarkan data Bappenas, konsumsi protein hewani siswa meningkat dari 65 persen menjadi 90 persen setelah pelaksanaan MBG.

"Nah ini kan bagus. Kita ingin sepak bola Indonesia maju kan, badannya gede, tinggi. Kayak pemain Jepang kan, badannya sudah gede, tinggi. Otaknya cerdas, gizinya bagus. Jangan lagi kita dibilang bangsa yang IQ-nya kurang kan. Itu dari mana? Dari protein," tuturnya.

Tak hanya memberikan manfaat kesehatan dan pendidikan, program MBG juga disebut membawa dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat. Sebanyak 86 persen pemasok program MBG melaporkan adanya kenaikan omzet usaha mereka.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.