DJED Komdigi Perkuat Peran Keluarga dalam Wujudkan Ekosistem Gim yang Sehat dan Ramah Anak

AKURAT.CO Kementerian Komunikasi dan Digital melalui Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital terus memperkuat peran keluarga dalam mendampingi anak memanfaatkan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab, guna mewujudkan ekosistem gim yang sehat dan ramah anak.
Upaya tersebut dilakukan seiring meningkatnya intensitas penggunaan gim di kalangan anak dan remaja. Yang di satu sisi membuka peluang pengembangan kreativitas tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru terkait kesehatan digital dan pola pengasuhan di era teknologi.
Kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Komdigi, Keluargakita, dan ParagonCorp. Menghadirkan sesi talkshow interaktif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor kesehatan, komunitas, dan industri gim.
Narasumber yang hadir antara lain Dwi Jalu Atmanto, selaku Asisten Deputi Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA); Yunita Restu Safitri, Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan Jiwa dan Kemitraan Kementerian Kesehatan; Shieny Aprilia, CEO Agate International; Winy Nila Wisudawati, Psikolog Rangkul Bandung; Mikhael Martin dan Raffi Ramadhan, Perwakilan Game Dev Bandung; serta Siti Nur Andini, Direktur Keluargakita.
Melalui Program Digital Addiction Response Assistance (DARA), Komdigi menghadirkan berbagai inisiatif edukasi dan pendampingan bagi orang tua untuk membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat.
Program ini dikembangkan melalui Indonesia Game Rating System (IGRS) bekerja sama dengan perusahaan digital wellbeing Riliv sebagai layanan bimbingan dan konsultasi terkait adiksi gim bagi anak dan remaja.
Kehadiran DARA diharapkan dapat membantu keluarga mengenali tanda-tanda penggunaan gim yang berlebihan sekaligus memperoleh akses pendampingan yang tepat.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, DJED Komdigi menyelenggarakan Gimtalks DARA: Main Gim Tetap Aman, Keluarga Jadi Nyaman bersama Komunitas Keluarga Kita.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi interaktif yang mempertemukan orang tua, anak, psikolog, pelaku industri gim, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas manfaat dan risiko bermain gim serta strategi pengasuhan digital yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Program Gimtalks DARA merupakan rangkaian roadshow yang diselenggarakan di empat kota dengan dukungan Garuda Spark Innovation Hub (GSIH).
Kegiatan ini telah hadir di Yogyakarta melalui MMTC yang menjadi bagian dari GSIH Yogyakarta, dan berlanjut di Bandung melalui BLOCK71 Bandung yang merupakan GSIH Bandung.
Selanjutnya, roadshow akan digelar di Surabaya serta Malang sebagai upaya memperluas jangkauan edukasi mengenai kesehatan digital dan pengasuhan di era digital kepada masyarakat. Sekaligus memperkuat ekosistem gim nasional di berbagai daerah.
Pendekatan dalam program DARA tidak bertujuan membatasi anak untuk bermain gim. Sebaliknya, program ini mendorong pemanfaatan gim secara sehat, aman, dan seimbang melalui peningkatan literasi digital keluarga serta penguatan komunikasi antara orang tua dan anak.
Dengan pendampingan yang tepat, gim dapat menjadi sarana hiburan sekaligus ruang belajar yang mendukung kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan interaksi sosial anak.
Selain membahas pola pengasuhan digital, kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya klasifikasi usia gim melalui Indonesia Game Rating System (IGRS). Kehadiran sistem klasifikasi tersebut diharapkan dapat membantu orang tua memilih konten yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak sehingga pengalaman bermain menjadi lebih aman dan bermanfaat.
DJED Komdigi memandang bahwa upaya membangun ekosistem gim yang sehat tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, pelaku industri, platform digital, serta tenaga profesional untuk menciptakan lingkungan digital yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Semangat kolaborasi tersebut menjadi landasan pengembangan DARA dalam menjawab tantangan kesehatan digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital, Sonny Hendra Sudaryana, menekankan bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata.
"Perlindungan di dunia digital tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sharing responsibility. Jadi gak bisa pemerintah sendiri masuk ke ranah keluarga, tapi harus bareng-bareng antara pemerintah, keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah kesehatan, dan industri yang seterusnya. Ini contoh nyata bahwa ekosistem yang kuat dibangun bukan cuman melalui line of interest atau kepentingan, tapi juga melalui tanggung jawab yang kita share bersama," jelas Sonny, melalui keterangannya, Senin (22/6/2026).
Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Gim Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Tita Ayuditya Surya, mengatakan bahwa pendampingan orang tua menjadi semakin penting seiring gim yang kini telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak dan remaja.
"Saat ini sebenarnya karena game sudah jadi bagian dari keseharian anak-anak, kita sebagai orang tua atau yang ada di lingkungan terdekat anak-anak ini harusnya bisa ikut mendampingi," ujar Tita.
Melalui sesi diskusi, para narasumber membahas pentingnya literasi digital keluarga, kesehatan mental anak, pemilihan gim sesuai usia, serta peran industri gim dalam mendukung terciptanya ruang digital yang aman dan ramah anak.
Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya komunikasi keluarga, pengaturan waktu penggunaan gawai, serta berbagai tantangan di ruang digital, seperti paparan konten yang tidak sesuai usia, cyberbullying, hingga risiko penggunaan digital berlebihan yang dapat mempengaruhi kesehatan mental anak.
Karena itu, pendampingan orang tua, sekolah, komunitas, dan berbagai pihak lainnya menjadi faktor penting agar anak dapat memanfaatkan teknologi dan gim secara positif, aman, dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, perkembangan industri gim nasional juga menghadirkan peluang baru bagi generasi muda melalui berbagai profesi di bidang ekonomi kreatif dan teknologi digital. Oleh karena itu, penguatan literasi digital dan pemanfaatan teknologi yang sehat menjadi kunci agar anak dan remaja dapat tumbuh menjadi generasi yang kreatif, produktif, dan mampu memanfaatkan ruang digital secara positif.
Melalui DARA, DJED Komdigi terus memperkuat upaya peningkatan literasi digital keluarga sebagai bagian dari pembangunan ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Dukungan ini diwujudkan melalui penyediaan edukasi, pendampingan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan anak dan remaja Indonesia dapat memanfaatkan teknologi dan gim secara sehat, aman, dan produktif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 2Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 3Prediksi Skor Uzbekistan vs Kolombia di Piala Dunia 2026: Debutan Asia Hadapi Ujian Berat dari Los Cafeteros
- 4Prediksi Skor Swiss vs Bosnia dan Herzegovina: Nati Diunggulkan, Tapi Jangan Remehkan Ancaman Tim Balkan
- 5Prediksi Skor Ghana vs Panama di Piala Dunia 2026: Duel Seimbang, Akankah Black Stars Bangkit?
- 6Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 7Prediksi Skor Turki vs Paraguay: Saatnya Crescent-Stars Bangkit atau La Albirroja Ciptakan Kejutan?
- 8Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Das Team Diunggulkan, Mampukah Debutan Asia Membuat Kejutan?
- 9KPK Perpanjang Penahanan Silmy Karim, Kejar Aliran Uang dan Aset Hasil Pemerasan WNA
- 10Prabowo Jalin Kerja Sama dengan Imperial College London, Bangun 10 Universitas Kedokteran dan Sains di Indonesia





