Chusnunia Chalim: Angka Pariwisata Tinggi Tak Berguna jika Alam Rusak, Penginapan Nonhotel Tak Berizin Juga Jadi Sorotan

AKURAT.CO Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menegaskan dua prinsip yang tidak boleh ditinggalkan dalam setiap kebijakan pariwisata, yakni dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar dan keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, kedua hal itu selalu menjadi tekanan utama Komisi VII setiap kali berhadapan dengan para pemangku kepentingan pariwisata.
"Kami ingin terus memastikan jangan sampai lengah bahwa kebijakan pariwisata itu wajib harus berdampak, secara kesejahteraan, secara ekonomi bagi masyarakat sekitar. Yang kedua, bersifat keberlanjutan. Tidak guna pariwisata angkanya tinggi, devisa besar, kalau alamnya rusak," jelas Chusnunia dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL Universitas Gadjah Mada (GAMAPI UGM), di Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Chusnunia juga menyoroti persoalan penginapan nonhotel yang pertumbuhannya signifikan namun banyak beroperasi tanpa pendaftaran resmi.
Merujuk data BPS, ia menyebut pertumbuhan penginapan nonhotel berada di kisaran 7,4 hingga 9,7 persen per tahun.
Kondisi ini menimbulkan ketimpangan karena pelaku usaha yang taat pajak harus bersaing dengan yang tidak terdaftar, sekaligus menimbulkan risiko bagi konsumen dari sisi keamanan dan standar layanan.
"Banyak teman-teman pengusaha dan penggerak pariwisata, khususnya yang menangani penginapan, sedang ada keresahan tersendiri. Yang resmi kena pajak dan taat pajak, yang tidak resmi dan jumlahnya terus meningkat malah dibiarkan," katanya.
Terkait kekhawatiran bahwa pengembangan desa wisata tidak membawa dampak signifikan bagi masyarakat, Chusnunia berbeda pendapat.
Ia mencontohkan desa wisata Ponggok di Klaten yang mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp14 miliar per tahun sebagai bukti bahwa pariwisata berbasis komunitas dapat memberikan lompatan kesejahteraan yang jauh melampaui sektor pertanian.
"Dampak pariwisata itu efeknya multiplier di beberapa bidang, termasuk dari sisi UMKM, termasuk dari sisi keamanan, termasuk dari masuknya program-program pemerintah ke wilayah tersebut," katanya.
Dalam forum yang sama, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, sebelumnya menekankan bahwa keberhasilan pariwisata tidak seharusnya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, melainkan dari terjaganya lingkungan untuk generasi mendatang.
Evita juga mendorong perluasan promosi dan pembangunan destinasi-destinasi yang selama ini belum berkembang optimal sebagai solusi atas ketimpangan beban wisata yang selama ini terkonsentrasi di Bali dan Yogyakarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK



