Empat Masalah Kesehatan Ini Jadi Ancaman Penurunan Kognitif Anak di Indonesia

AKURAT.CO Dalam memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Indonesia Health Development Center (IHDC) memaparkan berbagai tantangan yang masih dihadapi oleh pemerintah dalam tumbuh kembang anak.
Salah satunya potensi 'Silent Cognitive Burden', yakni penurunan kapasitas perkembangan kognitif anak yang berlangsung perlahan akibat masalah kesehatan yang selama ini belum menjadi perhatian utama kebijakan publik, bisa menjelma menjadi krisis kognitif anak Indonesia.
Berdasarkan kajian Community Diagnosis yang dilakukan IHDC, terdapat empat determinan kesehatan yang memiliki hubungan ilmiah kuat terhadap perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah.
Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026, Ketua DPR: Jangan Ada Lagi Korban Bullying di Sekolah Maupun Ruang Digital
Di antaranya, gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku. Dari sejumlah data diketahui determinan gangguan penglihatan dialami lebih dari 8 Juta anak Indonesia bila dihitung dari analisis estimasi studi IHDC.
Begitupun dengan gangguan defisiensi besi yang diperkirakan dialami lebih dari 7 Juta balita. Bahkan gangguan perilaku cemas menurut data Kemenkes dialami lebih dari 300 ribu anak usia sekolah.
Ketua Dewan Pembina IHDC, Nila F Moeloek, mengatakan keempat masalah tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan anak dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengurangi kemampuan belajar, memori kerja, perhatian, kreativitas, hingga kapasitas membangun cita-cita dan inovasi.
"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," kata Nila, Kamis (23/7/2026).
Kajian IHDC juga memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity, yaitu kapasitas neurokognitif yang memungkinkan seorang anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, dan membangun orientasi masa depan.
Direktur Eksekutif IHDC, Ray Wagiu Basrowi, mengatakan paradigma pembangunan anak perlu bergeser dari sekadar mencegah penyakit menuju membangun kapasitas otak sebagai fondasi pembangunan manusia.
"Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework, yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial, dan sebaiknya mulai diukur sejak usia anak, agar anak bisa belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya," kata Ray.
Berdasarkan analisis prioritas, IHDC menempatkan gangguan refraksi yang tidak terkoreksi sebagai determinan dengan peluang intervensi terbesar karena prevalensinya tinggi, berdampak langsung terhadap proses belajar, dan dapat dikoreksi melalui skrining serta penggunaan kacamata yang relatif sederhana.
Selain itu, IHDC juga merekomendasikan penguatan pencegahan anemia defisiensi besi, peningkatan kualitas nutrisi anak sekolah, serta deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan modal manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







