Akurat Logo

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Angka Kemiskinan Diklaim Turun Jadi 8,07 Persen

Moehamad Dheny Permana | 19 Oktober 2026, 06:00 WIB
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Angka Kemiskinan Diklaim Turun Jadi 8,07 Persen
Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

AKURAT.CO Tingkat kemiskinan di Indonesia tercatat sebesar 8,07 persen pada Maret 2026, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 22,93 juta orang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan penurunan sebanyak 920 ribu orang dibandingkan Maret 2025.

Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Kurnia Ramadhana, mengatakan, pemerintah terus memperkuat berbagai upaya pengentasan kemiskinan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Pemerintah terus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan melalui perlindungan sosial, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat," ujar Kurnia dalam keterangan di Jakarta, Minggu (18/10/2026).

Selain penurunan jumlah penduduk miskin, pemerintah juga mencatat tren penurunan kemiskinan ekstrem.

Pada periode 2021–2025, tingkat kemiskinan turun dari 10,14 persen menjadi 8,47 persen. Sementara itu, tingkat kemiskinan ekstrem berkurang dari 2,14 persen menjadi 0,85 persen.

Pada periode yang sama, ketimpangan pendapatan yang diukur melalui rasio Gini juga membaik, dari 0,384 menjadi 0,375.

Untuk memperkuat upaya tersebut, pemerintah mengembangkan sistem perlindungan sosial berbasis data terpadu.

Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan ketepatan sasaran bantuan sekaligus memperkuat kemampuan keluarga dalam keluar dari kemiskinan.

Pemerintah juga menjalankan kebijakan untuk menjaga daya beli pekerja melalui Bantuan Subsidi Upah (BSU).

Pada 2025, program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 17 juta pekerja yang memenuhi persyaratan.

Setiap penerima memperoleh bantuan sebesar Rp300.000 per bulan selama dua bulan, atau total Rp600.000 yang dibayarkan sekaligus.

Di bidang ketenagakerjaan, pemerintah memperluas kesempatan kerja melalui Program Magang Nasional bagi lulusan perguruan tinggi.

Program ini menargetkan 100.000 peserta pada 2025, kemudian meningkatkan kuotanya menjadi 150.000 peserta pada 2026.

Evaluasi program magang pada 2025 menunjukkan sekitar 30 persen peserta mendapat tawaran untuk melanjutkan bekerja dan diangkat menjadi karyawan tetap di perusahaan tempat mereka menjalani magang.

Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi lulusan perguruan tinggi, memperkuat kesiapan mereka memasuki dunia industri, serta memperluas peluang memperoleh pekerjaan yang lebih stabil.

Baca Juga: Water Bombing Dimaksimalkan Atasi Karhutla Tanjung Putting

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.