11 Juta Orang Masuk dalam Kelompok Menengah Bawah, Jadi Fokus Pemerintah di 2027

AKURAT.CO Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, menilai dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Capaian tersebut terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen, bahkan mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026, serta dari kenaikan kesejahteraan petani dan nelayan dan peningkatan upah buruh yang signifikan.
Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen berkat belanja pemerintah pada awal tahun yang turut mendorong aktivitas sektor swasta. Hal ini sekaligus menjawab keraguan sejumlah ekonom terhadap capaian positif pemerintah.
Baca Juga: Ekonomi Jakarta Kuartal III-2026 Capai 5,52 Persen, Penduduk Miskin Turun Jadi 3,96 Persen
"Nah kalau misalkan beberapa ekonom yang meragukan data 5,6 persen tadi, pemerintah sudah menjelaskan bahwa itu ada front loading, itu memang government spending di awal tahun itu besar-besaran sehingga memancing swasta dan lain-lain itu chip in dan itu memang menghasilkan 5,6 persen," ujar Syahganda, Rabu (21/10/2026).
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi juga perlu dilihat dari dampaknya terhadap masyarakat, termasuk siapa yang menikmati hasil pertumbuhan tersebut. Menurutnya, pemerintah mulai mengarahkan kebijakan agar manfaat pertumbuhan turut dirasakan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Salah satu indikatornya adalah nilai tukar petani (NTP), yang meningkat dari 124 pada akhir 2024 menjadi 131 pada September 2026. Capaian ini dinilai mencerminkan perbaikan kesejahteraan petani, yang juga diikuti peningkatan nilai tukar nelayan. Berdasarkan data BPS, nilai tukar nelayan (NTN) pada September 2026 tercatat 108,85.
Di sektor ketenagakerjaan, upah buruh naik rata-rata 6,5 persen selama dua tahun terakhir. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan upah sebelumnya yang sekitar 1 persen.
"Karena rata-rata kenaikan upah buruh udah 2 tahun ya, 6,5 persen. Dulu berapa? Rata-rata 1 persen. Artinya ini ada shifting paradigm di mana Bapak Presiden itu pertumbuhan itu harus inklusif. Harus diarahkan kepada orang-orang yang di lapisan bawah," terangnya.
Meski demikian, dia mengakui masih ada tantangan, termasuk penurunan jumlah masyarakat kelas menengah. Syahganda menyebut sekitar 11 juta orang dari kelas menengah turun ke kelompok kelas menengah bawah. Kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah dan akan menjadi fokus pada 2027.
"Presiden akan masuk ke industri otomotif, tahun depan 2027 itu pasti penyerapan tenaga kerja untuk kelas menengah tadi yang komplain. Nah, itu yang sebenarnya kita harus tahu bahwa secara overall ini memang Presiden telah berhasil untuk melakukan, satu yang disebut pertumbuhan inklusif dan memastikan rakyat kita itu ikut tumbuh dalam pertumbuhan itu," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bayern vs Arsenal 22 Oktober 2026: Duel Produktivitas dan Pertahanan
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja






