Akurat
Pemprov Sumsel

Arus Balik Lebaran dan Hasrat Wisata Kota

Tantan Hermansah | 26 Maret 2026, 09:56 WIB
Arus Balik Lebaran dan Hasrat Wisata Kota
Tantan Hermansah, Pengajar Sosiologi Perkotaan UIN Jakarta; Pengurus MUI Pusat

ARUS BALIK Lebaran tidak pernah sekadar peristiwa teknis mobilitas manusia dari desa ke kota. Ia adalah cermin dari kegelisahan struktural sekaligus harapan kultural. Pada titik ini, respons para kepala daerah menjadi menarik untuk dibaca—bukan sekadar sebagai pernyataan administratif, tetapi sebagai representasi cara pandang terhadap manusia, ruang, dan masa depan.

Pernyataan Walikota Tangerang Selatan yang menyarankan “kalau mudik berempat, pulang jangan jadi berenam” adalah ekspresi dari kecemasan klasik kota: ketakutan terhadap beban demografis. Di sisi lain, ada kepala daerah yang justru membuka diri, mempersilakan para pemudik membawa sanak saudara untuk “mengadu nasib.” Dua sikap ini memperlihatkan ambivalensi: kota ingin tumbuh, tetapi ragu terhadap konsekuensi pertumbuhannya sendiri.

Padahal, jika kita mundur sejenak dan melihat Indonesia sebagai satu kesatuan geopolitik—sebuah imajinasi besar yang oleh Benedict Anderson (1936–2015) disebut sebagai imagined community—maka pembatasan mobilitas internal menjadi problematis. Anderson pernah menulis, “Communities are to be distinguished, not by their falsity/ genuineness, but by the style in which they are imagined.”

Dalam konteks ini, Indonesia sebagai komunitas imajiner justru diuji melalui sejauh mana ia memberi ruang bagi warganya untuk bergerak, bermimpi, dan bertahan hidup di mana pun dalam batas teritorialnya. Indonesia bukan kotak sempit administrasi, tetapi ia gambar besar sebuah bangsa yang sedang saling mengaitkan harapannya dalam setiap tapak yang bisa mereka jangkau.

Secara sosiologis, mobilitas sendiri bukanlah anomali; ia adalah keniscayaan. Pitirim Sorokin (1889–1968), dalam karyanya Social Mobility (1927), menegaskan: “Social mobility is any transition of an individual or social object from one social position to another.” Tentu saja perpindahan ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi juga transformasi status, peluang, dan horizon hidup.

Maka, ketika seseorang dari desa datang ke kota, ia tidak hanya membawa tubuhnya, tetapi juga harapan akan reposisi sosial. Di pundaknya menindih beban harapan yang demikian besar, yang kadang, tidak terlalu sanggup ia pikul sendirian.

Lebih jauh, Pierre Bourdieu (1930–2002) mengingatkan bahwa masyarakat tidak hanya bergerak melalui modal ekonomi, tetapi juga melalui modal sosial dan modal kultural. Dalam The Forms of Capital (1986), ia menulis, “The social world is accumulated history… capital accumulated over time.” Urbanisasi, dalam kerangka ini, adalah proses akumulasi—di mana individu membawa jaringan sosial, kebiasaan, bahkan cita rasa budaya ke dalam ruang kota, lalu berinteraksi dengan struktur yang ada.

Sementara itu, James Coleman (1926–1995) dan Robert Putnam (1941– ) melihat bahwa modal sosial bukan hanya milik individu, tetapi juga milik komunitas. Putnam dalam Bowling Alone (2000) menyatakan, “Social capital refers to connections among individuals—social networks and the norms of reciprocity and trustworthiness that arise from them.” Artinya, kedatangan para pendatang bukan semata-mata beban, tetapi potensi perluasan jaringan kepercayaan dan kolaborasi sosial.

Dalam perspektif ekonomi, Gary Becker (1930–2014) melalui teori human capital menegaskan bahwa manusia adalah investasi. Dalam Human Capital (1964), ia menyebut, “Education and training are the most important investments in human capital.” Bahkan mereka yang datang “hanya bermodalkan otot” tetap membawa potensi produktivitas yang, jika dikelola dengan baik, dapat berkontribusi pada ekonomi kota.

Namun, ada dimensi lain yang sering luput: hasrat wisata kota. Arus balik tidak melulu tentang bekerja, tetapi juga tentang mengalami kota. Banyak pemudik yang membawa keluarga atau kerabatnya bukan semata untuk menetap, tetapi untuk “memperlihatkan dunia.” Kota menjadi panggung simbolik—tempat di mana modernitas dipertontonkan.

Bayangkan seseorang dari daerah yang berdiri di tengah kemegahan Monumen Nasional (Monas), atau memasuki keindahan Masjid Istiqlal, atau mengalami kecanggihan MRT Jakarta, dan menikmati KRL Commuter Line. Sesuatu yang tidak ada sama sekali di daerahnya.

Pengalaman ini bukan sekadar rekreasi, tetapi pembentukan imajinasi baru tentang kehidupan. Maka kota, dalam hal ini, bekerja sebagai pedagogi visual: ia mengajarkan kemungkinan.

Di titik ini, kita perlu jujur: larangan terhadap urbanisasi sering kali lahir dari ketidakmampuan kota mengelola dirinya sendiri, bukan dari kesalahan para pendatang. Kota ingin terlihat modern, tetapi enggan menanggung kompleksitas sosial yang menyertainya.

Padahal, jika ditarik ke level reflektif, urbanisasi adalah bentuk paling konkret dari perjuangan manusia untuk bertahan hidup. Ia adalah kompetisi eksistensial—sebagaimana diisyaratkan oleh logika Darwinian sosial—di mana setiap individu menguji kapasitasnya dalam arena yang tidak pernah netral.

Maka, alih-alih membatasi, kota semestinya berbenah. Ia harus mampu mengubah arus balik menjadi arus nilai: nilai ekonomi, sosial, dan kultural. Kota yang matang bukanlah kota yang eksklusif, tetapi kota yang mampu menyerap, mengelola, dan mentransformasikan keberagaman menjadi kekuatan.

Pada akhirnya, arus balik Lebaran mengajarkan satu hal mendasar. Manusia selalu bergerak, dan di balik setiap gerakan, selalu ada harapan. Pertanyaannya bukan apakah kita harus membiarkan mereka datang, tetapi apakah kita cukup siap untuk menerima—dan belajar dari—kedatangan mereka. [ ]

__________

*Tantan Hermansah, Pengajar Sosiologi Perkotaan UIN Jakarta; Pengurus MUI Pusat

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.