AS Punya Aturan Baru untuk Kurangi Polusi Udara, Bahan Bakar Lebih Hemat

AKURAT.CO Departemen Perhubungan Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan aturan baru yang akan membuat mobil lebih hemat bahan bakar.
Ini diharapkan dapat mengurangi polusi udara dan menghemat biaya bahan bakar hingga $23 miliar (sekitar Rp 374 triliun). Meski aturan ini dianggap sebagai langkah maju, beberapa mengkritiknya karena tidak seketat yang diusulkan sebelumnya.
Aturan baru ini, yang dikenal sebagai Corporate Average Fuel Economy (CAFE), akan memperketat persyaratan penghematan bahan bakar dari tahun 2027 hingga 2035. Ini berarti kendaraan tugas ringan diharapkan dapat mencapai rata-rata 50,4 mil per galon pada tahun 2031.
Menurut Departemen Pertahanan, aturan ini akan menghemat uang bagi pemilik kendaraan, dengan total penghematan biaya bahan bakar negara sebesar $23 miliar (sekitar Rp 374 triliun). Ini juga diharapkan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 710 juta ton dan menghemat 70 miliar galon gas pada tahun 2050.
Namun, beberapa pihak menyatakan kekecewaan karena standar tersebut lebih lembut daripada yang diusulkan awalnya oleh pemerintah. Di samping itu, ada peraturan lain yang baru saja diumumkan oleh EPA yang dianggap memiliki dampak lebih besar terhadap lingkungan.
Meski begitu, baik aturan EPA maupun CAFE dimaksudkan untuk saling melengkapi untuk mengatasi masalah polusi dan biaya bahan bakar dari sudut pandang yang berbeda.
Reaksi terhadap aturan CAFE bervariasi. Sebagaimana dikutip dari Electrek.co, Minggu (9/6/2024), kelompok lingkungan dan kesehatan umumnya mendukungnya, sementara produsen mobil juga memberikan dukungan, meskipun dengan sedikit skeptisisme.
Di luar aturan-aturan ini, pemerintah juga telah menerapkan berbagai kebijakan lain untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik, termasuk insentif pajak dan investasi dalam infrastruktur pengisian daya.
Meskipun langkah-langkah ini dianggap sebagai kemajuan, banyak yang merasa bahwa transisi ke mobil listrik harus dilakukan lebih cepat lagi untuk mengatasi masalah iklim yang semakin mendesak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







