Apa yang Menjadi Alasan Kuat untuk Tidak Menjadikan Syariat Islam Sebagai Dasar Negara Indonesia?

AKURAT.CO Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Namun, meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia tidak menjadikan syariat Islam sebagai dasar negara.
Sebaliknya, Indonesia memilih Pancasila sebagai dasar negara yang mencerminkan keberagaman dan kebhinekaan bangsa.
Artikel ini akan mengulas alasan-alasan kuat mengapa syariat Islam tidak dijadikan dasar negara Indonesia, berdasarkan penjelasan dari berbagai jurnal ilmiah dan sumber terpercaya salah satunya adalah buku “Pancasila: Dasar Negara Paripurna” oleh Prof. Dr. Tukiran Taniredja, M.M dan Prof. Dr. Suyahmo, M.Si.
1. Keberagaman Agama dan Kepercayaan
Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan kepercayaan.
Menurut Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945, "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agamanya masing-masing".
Jika syariat Islam dijadikan dasar negara, hal ini akan bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusi. Pancasila, dengan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa,” mengakomodasi keberagaman ini dengan memberikan ruang bagi semua agama untuk berkembang.
2. Prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Pancasila sebagai dasar negara telah disepakati oleh para pendiri bangsa sebagai konsensus nasional yang mengikat seluruh elemen masyarakat.
Pancasila mencerminkan nilai-nilai yang dapat diterima oleh semua golongan, termasuk non-Muslim.
Menggantikan Pancasila dengan syariat Islam dapat memicu konflik dan perpecahan di antara berbagai kelompok agama dan etnis di Indonesia2.
3. Pengalaman Sejarah dan Stabilitas Nasional
Sejarah menunjukkan bahwa penerapan syariat Islam sebagai dasar negara di beberapa negara sering kali menimbulkan konflik internal dan ketidakstabilan politik.
Misalnya, negara-negara seperti Suriah, Irak, dan Libya mengalami perang saudara yang berkepanjangan akibat penerapan hukum Islam yang ketat.
Indonesia, dengan keberagamannya, membutuhkan dasar negara yang dapat menjaga stabilitas dan persatuan nasional.
4. Nilai-Nilai Universal Pancasila
Pancasila mengandung nilai-nilai universal yang dapat diterima oleh semua warga negara, terlepas dari latar belakang agama dan kepercayaan mereka.
Nilai-nilai seperti keadilan sosial, kemanusiaan, dan persatuan adalah prinsip-prinsip yang dapat diterapkan secara luas dan tidak eksklusif untuk satu kelompok agama tertentu.
Pancasila juga memungkinkan Indonesia untuk berpartisipasi dalam komunitas internasional dengan prinsip-prinsip yang sejalan dengan nilai-nilai global.
5. Pendapat Para Ulama dan Tokoh Agama
Banyak ulama dan tokoh agama di Indonesia, termasuk dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, mendukung Pancasila sebagai dasar negara.
Mereka berpendapat bahwa Pancasila sudah mencerminkan nilai-nilai Islam yang universal dan dapat diterima oleh semua golongan.
Selain itu, mereka juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan kelompok tertentu.
Kesimpulan
Ada beberapa alasan kuat mengapa syariat Islam tidak dijadikan dasar negara Indonesia.
Keberagaman agama dan kepercayaan, prinsip NKRI, pengalaman sejarah, nilai-nilai universal Pancasila, serta dukungan dari para ulama dan tokoh agama adalah faktor-faktor utama yang mendasari keputusan ini.
Pancasila sebagai dasar negara telah terbukti mampu menjaga persatuan dan stabilitas nasional, serta mengakomodasi keberagaman yang ada di Indonesia.
Dengan demikian, Pancasila tetap menjadi dasar negara yang paling sesuai untuk Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






