Hanya Berjarak 3 Jam dari Jakarta dengan Alam nan Kaya, Anak-anak di Kabupaten Ini Banyak yang Tak Lulus SD dan Jadi Pengemis

AKURAT.CO Rocky Gerung, filsuf dan pengamat sosial, dalam sebuah diskusi dengan Gita Wiryawan beberapa bulan lalu, mengungkapkan pandangannya tentang kondisi sebuah daerah yang hanya berjarak 3 jam dengan perjalanan mobil dari Jakarta namun mempunyai kualitas pendidikan memprihatinkan.
Dengan pantai sepanjang 150 kilometer sebagai sumber protein ikan, Gunung Ciremai yang menjadi cadangan karbon untuk perdagangan dengan Eropa, hingga statusnya sebagai salah satu lumbung beras nasional, Daerah ini seharusnya menjadi wilayah yang makmur.
Bahkan, dengan keberadaan Bandara Internasional Kertajati di Majalengka dan akses jalan tol yang mempermudah mobilitas, kabupaten ini memiliki semua modal untuk berkembang pesat.
Namun, di balik potensi besar itu, realitas sosial dan pendidikan di daerah ini memunculkan keprihatinan mendalam.
Rocky Gerung, filsuf dan pengamat sosial, dalam sebuah diskusi dengan Gita Wiryawan beberapa bulan lalu, mengungkapkan pandangannya tentang kondisi daerah ini yaitu Indramayu.
"Beberapa bulan lalu saya ke Indramayu. Setelah ada jalan tol, hanya tiga jam dari Jakarta kita sudah sampai di sana. Indramayu punya potensi luar biasa: pantai sepanjang 150 km, sumber protein ikan, Gunung Ciremai sebagai cadangan karbon untuk trading dengan Eropa, dan menjadi lumbung beras nasional. Ada bandara internasional di Majalengka dan akses jalan tol. Tapi angka rata-rata pendidikan di Indramayu hanya lima setengah tahun, artinya anak-anak di sana banyak yang tidak lulus SD."
Pernyataan ini menggambarkan ketimpangan yang mencolok antara kekayaan sumber daya alam Indramayu dan kondisi sosial masyarakatnya. Tingkat pendidikan rata-rata yang hanya mencapai lima setengah tahun menunjukkan bahwa banyak anak-anak di Indramayu tidak menyelesaikan pendidikan dasar.
Rocky melanjutkan, "Jadi, anak-anak ini ke mana? Mereka berakhir menjadi pengemis di jalan tol, karena pemerintah gagal memberikan solusi konsisten. Semua potensi besar ini hilang karena birokrasi yang tidak mampu mengelola dan memanfaatkan sumber daya manusia serta alam di sana."
Pendidikan: Kunci Pembangunan yang Terabaikan
Masalah pendidikan di Indramayu menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan bandara internasional belum cukup untuk mengangkat kualitas hidup masyarakat.
Tanpa investasi yang memadai dalam pendidikan, anak-anak Indramayu sulit mendapatkan kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
Kurangnya akses terhadap pendidikan yang berkualitas di kabupaten ini juga berkontribusi pada rendahnya pengembangan sumber daya manusia.
Padahal, pendidikan adalah kunci utama untuk memanfaatkan potensi alam dan infrastruktur yang ada agar dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat.
Harapan di Tengah Ketimpangan
Indramayu memiliki peluang besar untuk menjadi kabupaten yang maju dan makmur jika potensi alamnya diimbangi dengan pengembangan sumber daya manusia. Pemerintah pusat dan daerah perlu mengambil langkah serius untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di wilayah ini.
Program-program pendidikan yang inovatif dan dukungan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat menjadi solusi awal untuk mengatasi masalah ini.
Dengan upaya yang tepat, Indramayu tidak hanya akan dikenal sebagai lumbung beras atau wilayah dengan kekayaan alam yang melimpah, tetapi juga sebagai daerah dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Keprihatinan yang diungkapkan Rocky Gerung harus menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan suatu wilayah untuk memberikan masa depan yang cerah bagi generasi mudanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





