Akurat Logo

Bukan Cuma Soal Kesehatan, Inilah Tantangan Tumbuh Kembang Anak di Era Modern

Idham Nur Indrajaya | 10 Agustus 2026, 14:07 WIB
Bukan Cuma Soal Kesehatan, Inilah Tantangan Tumbuh Kembang Anak di Era Modern
Tantangan tumbuh kembang anak di era modern tak cuma soal kesehatan, tetapi juga pola asuh, nutrisi, stimulasi, keluarga, dan lingkungan. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Seorang anak bisa mendapatkan makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan, dan perhatian penuh dari orang tua. Namun, apakah semua itu otomatis membuat tumbuh kembangnya berjalan optimal? Di era modern, jawabannya tidak sesederhana itu. Anak tumbuh dalam lingkungan yang jauh lebih kompleks, sementara orang tua harus mengambil keputusan tentang nutrisi, stimulasi, pola asuh, pendidikan, hingga penggunaan informasi kesehatan yang terus membanjiri ruang digital.

Karena itu, tumbuh kembang anak tidak lagi cukup dilihat dari sisi kesehatan fisik. Kesiapan keluarga, kualitas pengasuhan, lingkungan sekolah, pola makan, stimulasi, serta dukungan sosial turut membentuk perjalanan anak sejak masa awal kehidupannya.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Bunda Parenting Convention 2026 yang diselenggarakan RSIA Bunda Jakarta, bagian dari PT Bundamedik Tbk (BMHS/RS Bunda Group). Mengusung tema From The First Heartbeat to a Bright Future, Every Step Matters, kegiatan tersebut membahas berbagai persoalan yang dihadapi keluarga, mulai dari masa kehamilan hingga anak memasuki usia sekolah.

Tumbuh Kembang Anak di Era Modern Tidak Hanya Soal Kesehatan

Secara sederhana, tumbuh kembang anak merupakan proses yang mencakup perubahan fisik sekaligus perkembangan kemampuan anak sesuai tahapan kehidupannya. Namun, proses tersebut berlangsung dalam lingkungan yang saling berkaitan.

Anak tidak tumbuh di ruang praktik dokter. Sebagian besar waktunya justru dihabiskan bersama keluarga, bermain, makan, belajar, berinteraksi dengan orang lain, dan menjalani rutinitas sehari-hari.

Di situlah tantangannya muncul.

Orang tua saat ini memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Ketika menemukan persoalan mengenai anak, mereka dapat mencari jawabannya melalui mesin pencari, media sosial, forum parenting, hingga berbagai konten video.

Kemudahan tersebut tentu memiliki manfaat. Namun, banyaknya informasi juga menciptakan persoalan baru: informasi yang tersedia belum tentu sama dengan pengetahuan yang benar dan relevan untuk setiap anak.

Dokter Spesialis Anak RSIA Bunda Jakarta, dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A., MARS atau yang akrab disapa dr. Tiwi, melihat persoalan tersebut dari perspektif yang lebih luas.

“Tantangan tumbuh kembang anak di era modern tidak lagi hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga kesiapan keluarga serta komunitas dalam mendapatkan dukungan dan edukasi yang tepat bagi tumbuh kembang anak," ujar Nyoman Partiwi melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Senin, 10 Agustus 2026.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena mengubah cara melihat persoalan tumbuh kembang. Ketika perkembangan anak menghadapi hambatan, perhatian tidak selalu harus berhenti pada pertanyaan mengenai kondisi medis.

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah orang tua memahami kebutuhan anak? Apakah lingkungan rumah mendukung? Apakah anak mendapatkan stimulasi yang sesuai? Apakah pola makan dan aktivitas sehari-harinya sudah diperhatikan? Apakah keluarga memiliki akses terhadap informasi yang dapat dipercaya?

Dengan kata lain, kesehatan merupakan salah satu fondasi tumbuh kembang, tetapi bukan satu-satunya lingkungan yang menentukan perjalanan anak.

Apa Saja Tantangan Tumbuh Kembang Anak di Era Modern?

Tantangan yang dihadapi anak dan orang tua saat ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Beberapa di antaranya bahkan saling berkaitan.

1. Orang Tua Menghadapi Banjir Informasi Parenting

Mencari informasi tentang anak kini semakin mudah. Orang tua dapat menemukan panduan mengenai makanan, menyusui, stimulasi, tidur, hingga perkembangan anak hanya dalam hitungan detik.

Masalahnya bukan semata-mata kekurangan informasi, melainkan bagaimana memilih informasi yang tepat.

Satu konten di media sosial mungkin memberikan saran yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu mempertimbangkan kondisi individual anak. Di sisi lain, informasi kesehatan yang berasal dari sumber profesional perlu dipahami dalam konteks dan tidak selalu dapat diterapkan secara sama kepada setiap keluarga.

Situasi ini membuat literasi kesehatan menjadi bagian penting dari pengasuhan modern.

Orang tua tidak harus mengetahui semua hal tentang kesehatan anak. Yang lebih penting adalah mengetahui kapan informasi dapat digunakan sebagai pengetahuan umum dan kapan persoalan membutuhkan konsultasi dengan tenaga kesehatan.

2. Nutrisi dan Masalah Makan Tidak Selalu Sederhana

Makanan menjadi bagian penting dalam pertumbuhan anak. Namun, persoalan makan sering kali lebih kompleks daripada sekadar apakah anak mau makan atau tidak.

Anak dapat mengalami berbagai tantangan dalam proses makan, terutama pada usia dini. Orang tua kemudian harus memahami kebiasaan makan anak, kebutuhan nutrisinya, serta situasi yang terjadi ketika waktu makan berlangsung.

Masalahnya, respons orang tua terhadap kesulitan makan juga dapat memengaruhi suasana di rumah.

Memaksa anak makan mungkin bukan satu-satunya pilihan. Sebaliknya, membiarkan masalah berlarut-larut tanpa memahami penyebabnya juga bukan pendekatan yang ideal.

Karena itu, edukasi mengenai masalah makan menjadi relevan dalam pembahasan tumbuh kembang. Orang tua membutuhkan pemahaman agar dapat membedakan persoalan yang masih dapat dikelola melalui pengaturan kebiasaan dengan kondisi yang membutuhkan penilaian profesional.

Bunda Parenting Convention 2026 memasukkan masalah makan pada bayi dan anak usia dini sebagai salah satu materi edukasi. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan tumbuh kembang dapat bersinggungan langsung dengan rutinitas keluarga yang terlihat sederhana, seperti waktu makan.

3. Stimulasi dan Deteksi Dini Menjadi Semakin Penting

Tumbuh kembang anak berlangsung secara bertahap. Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa setiap fase memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda.

Pengetahuan mengenai tahapan perkembangan dapat membantu keluarga lebih peka ketika terdapat sesuatu yang perlu diperhatikan. Bukan untuk membuat orang tua cemas terhadap setiap perbedaan, melainkan agar mereka mengetahui kapan perlu mencari informasi lebih lanjut atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Inilah alasan deteksi dini menjadi bagian penting dalam edukasi tumbuh kembang.

Pendekatan tersebut berbeda dengan menunggu sampai persoalan menjadi semakin besar. Semakin cepat sebuah kekhawatiran dikenali dan dibicarakan dengan tenaga profesional, semakin jelas pula langkah yang dapat dipertimbangkan keluarga.

Dalam Bunda Parenting Convention 2026, pemahaman tumbuh kembang dan deteksi dini gangguan tumbuh kembang menjadi salah satu materi yang dibahas.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa edukasi dapat berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan medis dan kemampuan orang tua mengamati perkembangan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Tantangan Anak Sebenarnya Berasal dari Lingkungan

Ada satu paradoks dalam pengasuhan modern: orang tua semakin memiliki banyak pilihan, tetapi pilihan tersebut justru dapat membuat pengasuhan terasa semakin rumit.

Misalnya, keluarga memiliki akses terhadap berbagai jenis makanan anak. Namun, anak juga dapat semakin terpapar pilihan makanan yang kurang sesuai dengan kebutuhan hariannya.

Begitu pula dengan teknologi. Perangkat digital dapat menjadi sumber informasi dan hiburan, tetapi pola penggunaan yang tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi rutinitas anak.

Hal serupa terjadi pada informasi parenting. Banyaknya panduan dapat membantu orang tua, tetapi juga dapat menimbulkan kebingungan ketika setiap sumber memberikan pendekatan yang berbeda.

Artinya, tantangan tumbuh kembang anak tidak selalu bermula dari anak.

Lingkungan di sekitar anak juga perlu dilihat.

Rumah menjadi tempat pertama anak memperoleh kebiasaan. Sekolah menjadi ruang penting ketika anak mulai berinteraksi lebih luas. Sementara tenaga kesehatan memberikan pengetahuan dan intervensi profesional ketika dibutuhkan.

Karena itu, membicarakan tumbuh kembang anak hanya dari sisi medis berisiko membuat persoalannya terlihat terlalu sederhana.

Mengapa Keluarga Menjadi Bagian Penting dari Tumbuh Kembang Anak?

Orang tua merupakan pihak yang paling sering berinteraksi dengan anak dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bukan hanya menentukan kapan anak mendapatkan pemeriksaan, tetapi juga menjalankan banyak keputusan kecil yang berulang setiap hari.

Mulai dari makanan yang tersedia di rumah, rutinitas tidur, aktivitas bermain, cara berkomunikasi, hingga bagaimana keluarga merespons perilaku anak.

Karena itu, pengetahuan orang tua memiliki peran penting dalam mengubah rekomendasi kesehatan menjadi kebiasaan nyata.

Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk (BMHS), Dr. dr. Ivan Rizal Sini, menegaskan bahwa pendekatan terhadap keluarga perlu dibangun melalui integrasi antara layanan klinis, edukasi, dan pendampingan.

“Selama lebih dari lima dekade, BMHS terus memperkuat ekosistem keluarga agar mampu mendampingi tumbuh kembang anak sejak awal kehidupan hingga tumbuh optimal. Komitmen ini kami wujudkan dengan mengintegrasikan layanan klinis, edukasi, dan pendampingan keluarga, sekaligus aktif membuka ruang kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem pengasuhan," katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keluarga ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem kesehatan, bukan sekadar penerima layanan.

Perspektif ini menjadi relevan ketika melihat waktu yang dihabiskan anak. Pemeriksaan di fasilitas kesehatan hanya berlangsung pada waktu tertentu, sementara penerapan kebiasaan dan pengasuhan berlangsung setiap hari di rumah.

Dengan demikian, layanan medis dan edukasi keluarga sebenarnya memiliki fungsi yang saling melengkapi.

Tenaga kesehatan memberikan pengetahuan dan layanan, sedangkan keluarga menerjemahkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa Tumbuh Kembang Anak Membutuhkan “Satu Desa”?

Peribahasa Afrika “It takes a village to raise a child” menggambarkan gagasan bahwa membesarkan anak bukan tanggung jawab satu pihak.

Dalam konteks modern, maknanya justru semakin relevan. Anak membutuhkan keluarga yang mendukung, tenaga kesehatan yang dapat dipercaya, lingkungan pendidikan yang sehat, serta komunitas yang membantu membentuk kebiasaan positif.

Gagasan tersebut terlihat dalam pendekatan Bunda Parenting Convention 2026. Edukasi yang dihadirkan tidak hanya menyasar orang tua, tetapi juga menyentuh peran ayah dan tenaga pendidik.

Misalnya, sesi Ayah ASI mengangkat keterlibatan ayah dalam mendukung proses menyusui. Sementara sesi mengenai pencegahan obesitas anak turut melibatkan tenaga pendidik dari jenjang TK dan SD.

Pendekatan tersebut memberi satu pesan penting: tumbuh kembang anak adalah perjalanan yang berlangsung di banyak lingkungan sekaligus.

Jika keluarga menjadi lingkungan pertama, sekolah dan komunitas menjadi lingkungan berikutnya. Sementara rumah sakit dan tenaga kesehatan dapat menjadi sumber dukungan profesional ketika keluarga membutuhkan pengetahuan atau penanganan tertentu.

Karena itu, tantangan tumbuh kembang anak di era modern pada akhirnya bukan sekadar pertanyaan mengenai apakah anak sehat atau sakit.

Pertanyaannya jauh lebih luas: apakah anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kebutuhan fisik, perkembangan, pembelajaran, dan kesejahteraannya?

Di sinilah pembahasan mengenai tumbuh kembang mulai bergeser dari sekadar urusan kesehatan anak menjadi persoalan ekosistem pengasuhan.

Baca Juga: BMHS Perluas Peran Rumah Sakit, Bangun Ekosistem Kesehatan Ibu dan Anak lewat Bunda Parenting Convention 2026

Baca Juga: Industri Kesehatan Indonesia 2026: BMHS Siap Tumbuh Double Digit Lewat Layanan Medis Kompleks dan Fokus Kualitas

Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak Tak Bisa Diabaikan

Pembahasan tentang tumbuh kembang anak sering kali berpusat pada ibu. Padahal, proses pengasuhan berlangsung dalam keluarga, sehingga ayah juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak.

Hal tersebut salah satunya terlihat dalam sesi Ayah ASI yang dihadirkan pada Bunda Parenting Convention 2026. Sesi tersebut mempertemukan para ayah untuk berbagi pengalaman dalam mendukung keberhasilan menyusui.

Dukungan ayah menjadi penting karena menyusui bukan sekadar aktivitas ibu dan bayi. Ada kondisi rumah, kebutuhan ibu, pembagian pekerjaan, serta dukungan emosional yang ikut menentukan bagaimana proses tersebut dijalankan.

Dalam narasi BMHS, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan yang dilanjutkan hingga usia dua tahun dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Artinya, keberhasilan menyusui tidak semestinya dibebankan sepenuhnya kepada ibu.

Komisaris Independen BMHS, Retno Marsudi, menyoroti pentingnya kerja sama di dalam keluarga.

“Menjalankan peran sebagai perempuan yang bekerja sekaligus membangun keluarga memang penuh tantangan, tetapi sesuatu yang sangat mungkin dan dapat dilakukan. Dengan teamwork sebagai kunci dalam keluarga serta lingkungan yang mendukung, ibu dapat menjalankan kedua perannya secara optimal," papar Retno.

Perspektif tersebut relevan dengan tantangan parenting modern. Ketika kedua orang tua memiliki aktivitas dan tanggung jawab masing-masing, pembagian peran menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung anak.

Dengan kata lain, keterlibatan ayah bukan hanya berkaitan dengan membantu ibu. Ayah juga merupakan bagian dari lingkungan tempat anak belajar mengenai interaksi, komunikasi, dan hubungan dalam keluarga.

Obesitas Anak Menunjukkan Bahwa Sekolah Juga Punya Peran

Persoalan lain yang memperlihatkan hubungan antara kesehatan dan lingkungan adalah obesitas pada anak.

Bunda Parenting Convention 2026 secara khusus membahas pencegahan obesitas melalui kolaborasi dengan dunia pendidikan. Tenaga pendidik dari jenjang TK dan SD dilibatkan untuk memperkuat pemahaman bahwa obesitas merupakan masalah kesehatan yang kompleks dan perlu dicegah sejak dini.

Pelibatan sekolah memberikan perspektif yang menarik.

Jika persoalan obesitas hanya dilihat sebagai tanggung jawab orang tua, maka sebagian lingkungan tempat anak beraktivitas akan terlewat dari perhatian. Padahal, anak menghabiskan sebagian waktunya di sekolah, berinteraksi dengan teman, mengikuti kegiatan fisik, dan membentuk berbagai kebiasaan.

Sekolah memang bukan fasilitas kesehatan. Namun, lingkungan pendidikan dapat menjadi salah satu ruang yang mendukung kebiasaan sehat.

Karena itu, kolaborasi antara tenaga kesehatan dan tenaga pendidik dapat memperluas jangkauan edukasi. Guru tidak menggantikan dokter, tetapi dapat menjadi bagian dari lingkungan yang membantu anak menjalani kebiasaan yang lebih sehat.

Dari sini terlihat bahwa tantangan tumbuh kembang anak memiliki karakter lintas sektor. Persoalan kesehatan dapat berkaitan dengan pendidikan, sementara pendidikan juga dapat dipengaruhi kondisi kesehatan anak.

Bayi Prematur Menunjukkan Pentingnya Kesinambungan Perawatan

Kompleksitas tumbuh kembang juga terlihat pada bayi yang lahir prematur. Bagi keluarga, perhatian terhadap bayi tidak otomatis selesai ketika masa perawatan di rumah sakit berakhir.

Dokter Anak Konsultan Neonatologi RSIA Bunda Jakarta, Dr. dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A., Subsp.Neo., menjelaskan bahwa keluarga tetap memiliki peran setelah bayi pulang.

“Perawatan bayi prematur tidak berhenti saat bayi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Keterlibatan aktif seluruh anggota keluarga menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta kesiapan bayi menghadapi berbagai tantangan di awal kehidupannya.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan pentingnya kesinambungan antara layanan medis dan kehidupan keluarga.

Selama berada di rumah sakit, bayi mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan. Setelah kembali ke rumah, sebagian besar waktu bayi akan dijalani bersama orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Artinya, keluarga membutuhkan bekal pengetahuan untuk melanjutkan perhatian terhadap kebutuhan bayi.

Dalam konteks ini, RSIA Bunda Jakarta menerapkan Family Integrated Care (FICare) di ruang NICU dengan melibatkan orang tua sebagai bagian dari tim perawatan bayi. Pendekatan tersebut dipadukan dengan Kangaroo Mother Care (KMC) serta edukasi antenatal dan pascapersalinan.

Yang menarik, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa edukasi keluarga bukan sekadar aktivitas tambahan. Bagi keluarga dengan bayi yang membutuhkan perhatian khusus, pemahaman mengenai perawatan menjadi bagian dari kesinambungan proses kesehatan.

Apa Hubungan Layanan Klinis dengan Kemampuan Orang Tua?

Ada jarak yang sering tidak terlihat antara rekomendasi tenaga kesehatan dan penerapannya di rumah.

Dokter dapat memberikan arahan mengenai kebutuhan anak. Namun, orang tua tetap harus menerjemahkan arahan tersebut ke dalam rutinitas yang realistis.

Misalnya, keluarga mungkin memahami bahwa anak membutuhkan makanan yang sesuai dan aktivitas fisik. Tantangannya adalah bagaimana menerapkan kebiasaan tersebut ketika orang tua bekerja, anak memiliki jadwal sekolah, dan setiap anggota keluarga mempunyai rutinitas berbeda.

Hal yang sama berlaku pada bayi prematur. Pengetahuan tentang perawatan bayi tidak cukup jika hanya dipahami secara teoritis. Keluarga perlu merasa siap menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah salah satu alasan mengapa edukasi menjadi bagian penting dari ekosistem kesehatan.

Layanan klinis menjawab kebutuhan medis. Edukasi membantu keluarga memahami kebutuhan tersebut. Sementara dukungan keluarga dan lingkungan membantu menerapkannya secara berkelanjutan.

Rangkaian tersebut dapat diringkas menjadi:

Layanan kesehatan → pengetahuan → kesiapan keluarga → penerapan sehari-hari → lingkungan yang mendukung.

Tidak ada satu komponen yang dapat menggantikan komponen lainnya.

Bunda Parenting Convention 2026 Menjawab Tantangan dari Banyak Sisi

Berbagai materi dalam Bunda Parenting Convention 2026 memperlihatkan bahwa persoalan tumbuh kembang anak memang memiliki banyak lapisan.

Program tersebut membahas perjalanan pengasuhan sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia sekolah. Materinya mencakup persiapan kehamilan melalui hypnobirthing, perawatan bayi baru lahir, tumbuh kembang, deteksi dini gangguan tumbuh kembang, masalah makan, pencegahan obesitas, hingga dukungan ayah dalam menyusui.

Jika dilihat secara terpisah, setiap materi memiliki persoalan yang berbeda. Namun, semuanya memiliki satu titik temu: keluarga membutuhkan pengetahuan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Hal tersebut juga menjelaskan mengapa edukasi parenting tidak cukup jika hanya membahas satu fase kehidupan.

Kebutuhan keluarga ketika menghadapi kehamilan berbeda dengan kebutuhan ketika merawat bayi baru lahir. Begitu pula tantangan ketika anak mulai makan, berkembang secara kognitif, memasuki sekolah, atau menghadapi persoalan berat badan.

Dengan pendekatan tersebut, edukasi dapat membantu orang tua melihat tumbuh kembang sebagai sebuah perjalanan, bukan serangkaian masalah yang berdiri sendiri.

Tumbuh Kembang Anak Bukan Proyek Dokter, tetapi Perjalanan Keluarga

Salah satu kesalahan dalam memahami isu tumbuh kembang adalah menganggap bahwa dokter menjadi pihak yang bertanggung jawab memastikan seluruh proses berjalan baik.

Padahal, tenaga kesehatan hanya menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut.

Anak menghabiskan jauh lebih banyak waktu di rumah dibandingkan di ruang konsultasi. Ia belajar dari percakapan orang tua, kebiasaan makan keluarga, cara keluarga menyelesaikan masalah, pola aktivitas, dan interaksi dengan lingkungan.

Karena itu, kualitas ekosistem di sekitar anak menjadi penting.

Dokter dapat membantu mendeteksi dan menangani persoalan kesehatan. Orang tua menerapkan pola pengasuhan. Sekolah menciptakan lingkungan belajar. Sementara komunitas dapat memberikan dukungan sosial.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan “It takes a village to raise a child.”

Pepatah tersebut bukan berarti orang tua kehilangan peran utama. Justru, orang tua membutuhkan lingkungan yang membantu mereka menjalankan tanggung jawab tersebut.

Perspektif seperti ini juga menjadi dasar pendekatan BMHS dalam memperkuat ekosistem keluarga melalui integrasi layanan klinis, edukasi, dan kolaborasi.

Tantangan Parenting Modern Bukan Berarti Orang Tua Harus Sempurna

Ada risiko lain ketika membicarakan tumbuh kembang anak: orang tua merasa harus melakukan semuanya dengan sempurna.

Informasi mengenai parenting yang semakin mudah ditemukan dapat membuat standar pengasuhan terasa semakin tinggi. Orang tua dapat merasa bersalah ketika anak sulit makan, perkembangan anak berbeda dengan teman sebayanya, atau mereka tidak mampu menerapkan seluruh rekomendasi yang ditemukan.

Pendekatan yang lebih realistis adalah melihat pengasuhan sebagai proses belajar.

Orang tua tidak harus mengetahui semua jawaban sejak awal. Yang lebih penting adalah memiliki kemampuan untuk mengenali persoalan, mencari informasi dari sumber yang dapat dipercaya, dan meminta bantuan profesional ketika dibutuhkan.

Di sinilah dukungan dari ekosistem menjadi penting.

Keluarga tidak perlu menghadapi seluruh tantangan seorang diri. Tenaga kesehatan, sekolah, pasangan, keluarga besar, dan komunitas dapat memiliki peran masing-masing.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Pendekatan BMHS?

Dari rangkaian program dan layanan yang dipaparkan, terdapat satu pelajaran penting: tantangan tumbuh kembang anak membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada pelayanan ketika anak sakit.

BMHS melalui RS Bunda Group menempatkan layanan kesehatan, edukasi, dan keterlibatan keluarga dalam satu ekosistem. Bunda Parenting Convention 2026 menjadi salah satu contoh konkret dari pendekatan tersebut.

Sementara itu, penerapan Family Integrated Care di NICU menunjukkan bagaimana keluarga dapat dilibatkan bahkan ketika anak membutuhkan perawatan intensif.

Kegiatan edukasi mengenai masalah makan dan tumbuh kembang memperlihatkan pentingnya membekali orang tua dengan pengetahuan. Pelibatan tenaga pendidik dalam isu obesitas memperluas perhatian hingga lingkungan sekolah. Sedangkan sesi Ayah ASI menegaskan bahwa dukungan terhadap ibu juga membutuhkan keterlibatan pasangan.

Dengan demikian, tantangan tumbuh kembang anak dapat dipahami sebagai persoalan yang berada di persimpangan antara kesehatan, keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial.

Setiap Tahap Kehidupan Anak Membutuhkan Dukungan yang Berbeda

Gagasan From The First Heartbeat to a Bright Future, Every Step Matters menjadi relevan karena kebutuhan anak memang berubah dari satu tahap ke tahap berikutnya.

Pada masa kehamilan, keluarga membutuhkan persiapan. Ketika bayi lahir, perhatian beralih pada perawatan, menyusui, dan adaptasi keluarga.

Pada fase berikutnya, orang tua mulai berhadapan dengan tumbuh kembang, pola makan, stimulasi, hingga kehidupan sekolah.

Karena itu, dukungan kepada keluarga idealnya tidak berhenti pada satu momen.

Dokter Tiwi menegaskan bahwa edukasi dan dukungan perlu menjangkau keluarga serta komunitas agar mereka dapat menghadapi tantangan tumbuh kembang secara lebih tepat.

Bagi BMHS, pendekatan tersebut diwujudkan melalui integrasi layanan klinis, edukasi, dan ruang kolaborasi bagi berbagai pihak dalam ekosistem pengasuhan.

Pada akhirnya, tumbuh kembang anak bukan hanya persoalan apakah anak mengalami penyakit atau tidak. Pertanyaan yang lebih luas adalah apakah anak mendapatkan lingkungan yang membantu dirinya tumbuh, belajar, bergerak, berinteraksi, dan berkembang sesuai kebutuhannya.

Karena itu, membangun masa depan anak dimulai jauh sebelum masalah kesehatan muncul. Ia dimulai dari keluarga, diperkuat oleh lingkungan, dan didukung oleh akses terhadap pengetahuan serta layanan kesehatan yang tepat.

Baca Juga: BMHS Perkuat Investasi Layanan Kesehatan Wanita dan Anak

Baca Juga: Seskab Teddy: Anak-anak Sekolah Rakyat Tak Hanya Pintar, Tapi Juga Beradab

FAQ

Apa saja tantangan tumbuh kembang anak di era modern?

Tantangan tumbuh kembang anak di era modern tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Anak dan orang tua juga menghadapi persoalan nutrisi, masalah makan, stimulasi, deteksi dini, obesitas, kualitas informasi parenting, pola pengasuhan, aktivitas fisik, serta lingkungan keluarga dan sekolah yang dapat memengaruhi perkembangan anak.

Mengapa tumbuh kembang anak tidak hanya soal kesehatan?

Tumbuh kembang anak berlangsung dalam lingkungan yang lebih luas daripada fasilitas kesehatan. Anak menghabiskan sebagian besar waktunya bersama keluarga dan di lingkungan pendidikan. Karena itu, pola makan, stimulasi, pengasuhan, interaksi sosial, aktivitas sehari-hari, dan dukungan keluarga turut berperan dalam perjalanan perkembangan anak.

Apa peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak?

Orang tua berperan dalam menerapkan berbagai kebiasaan sehari-hari yang mendukung perkembangan anak, mulai dari memberikan nutrisi, menciptakan lingkungan yang aman, memberikan stimulasi, hingga mengamati perkembangan anak. Orang tua juga perlu mengetahui kapan harus mencari informasi dari sumber kredibel atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Mengapa deteksi dini tumbuh kembang anak penting?

Deteksi dini membantu orang tua dan tenaga kesehatan mengenali lebih awal apabila terdapat hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan anak. Tujuannya bukan membuat orang tua cemas terhadap setiap perbedaan, tetapi memberikan kesempatan untuk memahami kondisi anak dan mendapatkan penilaian profesional apabila memang diperlukan.

Apa peran sekolah dalam tumbuh kembang anak?

Sekolah menjadi salah satu lingkungan penting bagi perkembangan anak karena anak berinteraksi, belajar, dan melakukan berbagai aktivitas di dalamnya. Dalam isu seperti pencegahan obesitas, sekolah dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas fisik dan kebiasaan sehat, dengan tetap melibatkan keluarga serta tenaga kesehatan.

Apa itu Family Integrated Care pada bayi?

Family Integrated Care atau FICare merupakan pendekatan yang melibatkan orang tua sebagai bagian dari tim perawatan bayi di NICU. Di RSIA Bunda Jakarta, pendekatan tersebut diterapkan bersama Kangaroo Mother Care dan edukasi bagi keluarga. Konsepnya menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari proses perawatan, termasuk dalam mempersiapkan bayi dan orang tua setelah kembali ke rumah.

Bagaimana BMHS mendukung tumbuh kembang anak?

BMHS mendukung tumbuh kembang anak melalui integrasi layanan klinis, edukasi, dan pendampingan keluarga. Salah satu contohnya adalah Bunda Parenting Convention 2026 yang membahas berbagai persoalan dari masa kehamilan hingga usia sekolah. BMHS melalui RS Bunda Group juga menerapkan pendekatan Family Integrated Care di NICU RSIA Bunda Jakarta.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.