Akurat
Pemprov Sumsel

Apa yang Dimaksud dengan “Politik Etis” yang Diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia? Inilah Sejarah Lengkapnya

Sultan Tanjung | 12 Maret 2025, 11:05 WIB
Apa yang Dimaksud dengan “Politik Etis” yang Diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia? Inilah Sejarah Lengkapnya

AKURAT.CO , atau Ethische Politiek, merupakan kebijakan kolonial yang diperkenalkan oleh pemerintah Belanda pada 1901 sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap rakyat Hindia Belanda.

Kebijakan ini muncul sebagai respons atas eksploitasi yang terjadi selama masa Tanam Paksa (Cultuurstelsel), yang menyebabkan penderitaan bagi masyarakat pribumi.

Latar Belakang Politik Etis

Sejak abad ke-19, Belanda menerapkan sistem Tanam Paksa yang mewajibkan rakyat Indonesia menanam komoditas ekspor seperti kopi, tebu, dan teh tanpa imbalan yang layak.

Kebijakan ini menguntungkan pemerintah kolonial, tetapi membawa dampak buruk bagi kesejahteraan rakyat.

Situasi ini memicu kritik dari beberapa intelektual Belanda, termasuk Conrad Theodore van Deventer, yang menulis artikel berjudul Een Eereschuld (Utang Kehormatan) pada 1899.

Ia menegaskan bahwa Belanda memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan kesejahteraan rakyat pribumi yang selama ini dieksploitasi.

Tekanan dari kalangan intelektual akhirnya membuat Ratu Wilhelmina mengumumkan kebijakan Politik Etis pada 17 September 1901.

Baca Juga: Bagaimana Dampak dari Monopoli yang Dilakukan oleh Belanda di Maluku pada Masa Kolonial VOC?

Program Utama Politik Etis

Kebijakan ini berfokus pada tiga program utama:

  1. Irigasi – Pembangunan saluran pengairan untuk meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan petani.
  2. Edukasi – Peningkatan akses pendidikan bagi pribumi untuk menciptakan tenaga kerja yang lebih terampil dan berpendidikan.
  3. Emigrasi – Pemindahan penduduk dari daerah padat ke daerah perkebunan yang membutuhkan tenaga kerja, seperti Sumatra Timur.

Dampak Politik Etis

Meskipun bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat pribumi, penerapan Politik Etis tidak sepenuhnya berhasil.

Kebijakan pendidikan, misalnya, hanya menjangkau sebagian kecil masyarakat karena biaya yang mahal dan akses yang terbatas.

Irigasi yang dijanjikan pun lebih menguntungkan perkebunan milik Belanda dibanding petani lokal.

Meskipun begitu, salah satu dampak positif kebijakan ini adalah munculnya kaum terpelajar pribumi yang kelak menjadi pelopor gerakan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Akhir dari Politik Etis

Kebijakan Politik Etis berakhir seiring dengan pendudukan Jepang di Indonesia pada 1942.

Namun, pengaruhnya terhadap peningkatan kesadaran nasional dan pendidikan tetap memberikan dampak jangka panjang bagi perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.