Contoh Studi Kasus PPG 2025 Batas 500 Kata tentang Masalah Sistem Penilaian Pelajaran Matematika Kelas 2 SD

AKURAT.CO Studi kasus ini dapat menjadi referensi bagi para guru dalam mengidentifikasi, menangani, dan merefleksikan permasalahan yang terjadi di kelas.
Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 mengharuskan peserta untuk menulis studi kasus yang merefleksikan pengalaman nyata guru dalam menghadapi masalah di kelas.
Berikut adalah contoh studi kasus mengenai masalah sistem penilaian dalam pelajaran Matematika kelas 2 SD, yang dirancang sesuai dengan persyaratan tugas Uji Pengetahuan (UP) Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 dengan batas sekitar 500 kata.
Studi Kasus PPG 2025: Masalah Penilaian pada Pelajaran Matematika Kelas 2 SD
Di SDN 148 Palembang, hasil tes awal menunjukkan bahwa 70% dari 30 peserta didik kelas 2 memiliki tingkat numerasi yang sangat rendah dalam pembelajaran Matematika.
Hal ini sejalan dengan observasi awal yang menemukan bahwa pembelajaran masih menggunakan metode konvensional seperti ceramah, diskusi, dan penugasan, serta belum adanya variasi model pembelajaran untuk membangkitkan minat belajar siswa.
Masalah penilaian ini merupakan salah satu dari empat topik utama yang dibahas dalam studi kasus PPG 2025, di samping masalah media pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan strategi pembelajaran.
Awalnya, penilaian yang diterapkan cenderung berfokus pada hasil akhir tanpa memperhatikan proses atau pemahaman konseptual siswa secara mendalam.
Guru menghadapi kendala dalam mengkonversi nilai untuk pengolahan rapor, yang merupakan bagian dari implementasi sistem penilaian Kurikulum 2013.
Penilaian sikap dilakukan melalui observasi dan jurnal, penilaian pengetahuan dengan tes lisan, tes tertulis, dan penugasan, sedangkan penilaian keterampilan menggunakan unjuk kerja dengan skala penilaian dan rubrik.
Meskipun demikian, metode penilaian ini belum sepenuhnya efektif dalam mengukur kemampuan numerasi siswa kelas 2.
Sebagai contoh, kesulitan belajar memecahkan masalah sering dialami oleh siswa, yang dapat disebabkan oleh guru yang tidak menggunakan media pembelajaran atau siswa merasa bosan.
Kurangnya alat peraga atau media belajar juga menjadi penghambat bagi siswa untuk memahami penjelasan guru.
Penilaian yang kurang bervariasi tidak mampu menggali potensi siswa secara maksimal, terutama dalam kemampuan numerasi yang meliputi penggunaan angka dan simbol, analisis data dalam berbagai bentuk (grafik, tabel), serta kemampuan menguraikan hasil analisis untuk prediksi dan pengambilan keputusan.
Upaya Perbaikan dan Dampak Positif
Untuk mengatasi masalah ini, penelitian tindakan kelas (PTK) kolaboratif dengan guru kelas 2 dilakukan di SDN 148 Palembang, dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PBL).
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Penerapan model PBL bertujuan untuk meningkatkan numerasi siswa dalam pembelajaran Matematika.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata nilai numerasi secara signifikan. Pada pra-siklus, rata-rata numerasi mencapai 30%, meningkat menjadi 60,6% pada siklus I, dan mencapai 87% pada siklus II.
Peningkatan ini melampaui indikator kinerja penelitian sebesar >75%, sehingga penelitian dihentikan pada siklus II.
Ini menunjukkan bahwa model Project Based Learning efektif dalam meningkatkan numerasi siswa pada pembelajaran Matematika di kelas 2 SD.
Selain itu, penggunaan media audio visual juga dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam bertanya pada pelajaran Matematika kelas 2 SD, membantu mereka memahami materi lebih baik.
Studi kasus PPG 2025 ini menyoroti pentingnya adaptasi sistem penilaian dan penggunaan model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika di tingkat SD.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










