Akurat
Pemprov Sumsel

Dari Pelosok Negeri ke Panggung Genomik: Generasi Muda Indonesia Menyongsong Masa Depan Sains

Arief Rachman | 27 Agustus 2025, 23:48 WIB
Dari Pelosok Negeri ke Panggung Genomik: Generasi Muda Indonesia Menyongsong Masa Depan Sains

AKURAT.CO Indonesia tengah menapaki babak baru dalam pendidikan sains. Melalui Olimpiade Genomik Indonesia (OGI), anak-anak dari pelosok negeri kini mendapat kesempatan langka: mengenal langsung dunia biogenetika, menyentuh teknologi laboratorium modern, dan berdiri sejajar dengan pelajar dari kota-kota besar.

OGI diinisiasi oleh Indonesia Mengajar dan Regene Academy, dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan seperti Kemendikdasmen, BRIN, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, serta mitra industri dan media.

Ajang ini bukan sekadar lomba, melainkan sebuah gerakan untuk menumbuhkan minat generasi muda pada sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Genomik, ilmu yang mempelajari keseluruhan DNA organisme, selama ini terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Padahal, pemahaman genomik membuka pintu besar: dari menjelaskan keunikan manusia, mencegah penyakit turunan, hingga menciptakan tanaman yang tahan perubahan iklim.

“Melalui OGI, kami ingin memperkenalkan sains sebagai sesuatu yang dekat, relevan, dan menyenangkan,” ujar Vichi Lestari, CEO sekaligus Co-Founder Regene, Rabu (27/8/2025).

Baca Juga: Ini Dia Tiga Jam Tangan Rolex Legendaris dengan Harga Selangit

Kisah peserta OGI menjadi wajah nyata inklusivitas pendidikan. Dari Nias Barat (Sumatera Utara), Kepulauan Sula (Maluku), hingga Teluk Wondama dan Fakfak (Papua Barat), siswa menempuh perjalanan berhari-hari dengan kapal, pesawat, hingga jalan darat demi bisa hadir di Jakarta.

Salah satunya Prajanita Oktavianty Korowa, siswi SD Katolik Santa Laurensia Wasior, Papua Barat. Didampingi sang ayah, ia untuk pertama kalinya merasakan masuk laboratorium modern.

“Ini pengalaman luar biasa, saya bisa belajar sains langsung, bukan hanya dari buku,” ucapnya penuh semangat.

Bagi banyak peserta dari daerah, sains selama ini hanya sebatas teori di buku teks. Melalui OGI, mereka akhirnya merasakan praktik nyata di laboratorium Biologi FMIPA Universitas Indonesia.

Anak SD mencoba ekstraksi DNA dari buah apel dan tomat, siswa SMP dan SMA berkenalan dengan teknik PCR, kultur sel, hingga elektroforesis agarosa, praktik ilmiah yang biasanya hanya ditemui di universitas atau pusat riset besar.

Dari ribuan peserta, 63 siswa terpilih dari 34 titik Nusantara berhasil lolos ke tahap final. Mereka menjalani tes tertulis, eksperimen di laboratorium, penyusunan laporan, hingga presentasi mandiri di hadapan dewan juri.

Selain kompetisi, para finalis juga diajak berkunjung ke laboratorium DNA Regene Genomics, bertemu ilmuwan, hingga mengikuti tur edukasi ke Monumen Nasional.

Acara puncak berlangsung pada Minggu, 24 Agustus 2025, di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta. Di sana, para finalis merayakan pencapaian mereka, mengalahkan rasa takut, menjelajah dunia baru, dan menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.

“Semangat OGI bukan hanya belajar, tetapi juga bertumbuh dan bersinar,” kata Prof. Anom Bowolaksono, Guru Besar FMIPA UI saat membuka acara.

Baca Juga: Prabowo Panggil Mendikdasmen ke Istana, Lapor Soal Progres Digitalisasi Pendidikan

OGI membuktikan bahwa jarak dan keterbatasan bukan penghalang. Anak-anak dari pelosok bisa berdiri sejajar dengan mereka dari kota besar, bahkan menunjukkan potensi luar biasa yang sering tersembunyi.

Bagi Indonesia Mengajar, ini adalah kelanjutan dari misi 14 tahun mendampingi lebih dari 275 desa di seluruh Indonesia.

Sementara Regene Academy menegaskan komitmennya memperluas akses ilmu genetika dan pengobatan presisi kepada generasi muda.

OGI akhirnya bukan sekadar lomba, melainkan panggung lahirnya generasi emas sains Indonesia, mereka yang suatu hari nanti akan membawa negeri ini bersaing di kancah global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.