Akurat
Pemprov Sumsel

Apa Arti Anarkisme Sebenarnya? Ternyata Berhubungan dengan Filsafat dan Ideologi Politik

Kosim Rahman | 1 September 2025, 10:27 WIB
Apa Arti Anarkisme Sebenarnya? Ternyata Berhubungan dengan Filsafat dan Ideologi Politik

AKURAT.CO Anarkisme sering dipahami keliru hanya sebagai tindakan kekerasan, perusakan, atau kerusuhan saat demonstrasi.

Padahal, secara historis dan filosofis, anarkisme adalah paham politik dan filsafat yang menolak segala bentuk otoritas dan hierarki, serta menekankan kebebasan individu, solidaritas, dan asosiasi sukarela.

Pengertian Anarkisme Menurut Filsafat Politik

Secara etimologis, istilah anarkisme berasal dari bahasa Yunani: “a” berarti tanpa, dan “archos” berarti penguasa. Jadi, anarkisme berarti paham tanpa penguasa.

Baca Juga: Begini Peran Ulama saat Masyarakat Demo Pemerintah karena Ketidakadilan

Menurut KBBI, anarkisme adalah ajaran yang menentang kekuasaan negara, pemerintahan, dan undang-undang.

Sementara tokoh anarkis ternama Peter Kropotkin menyebut bahwa anarkisme adalah sistem sosial tanpa pemerintahan yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.

Kesalahpahaman tentang Anarkisme

Di Indonesia, istilah ini kerap diasosiasikan dengan tindakan merusak saat demo.

Padahal menurut Alexander Berkman, anarkisme bukan bom, bukan kekacauan, dan bukan perampokan.

Sebaliknya, anarkisme adalah gagasan tentang kebebasan penuh dari paksaan dan dominasi.

Kesalahpahaman ini muncul karena media dan wacana publik lebih menyoroti aksi ekstrem segelintir kelompok, alih-alih membahas filosofi anarkisme yang sebenarnya.

Prinsip-Prinsip Utama Anarkisme

Baca Juga: Demo Berujung Kerusuhan dan Penjarahan Tak Lagi Murni Gerakan Rakyat

Beberapa prinsip dasar yang dipegang kaum anarkis antara lain:

  • Kebebasan individu: setiap orang berhak menentukan hidupnya tanpa paksaan.
  • Anti-otoritarianisme: menolak kekuasaan hierarkis, baik negara maupun kapitalisme.
  • Solidaritas: menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan.
  • Desentralisasi: mengutamakan komunitas kecil yang mandiri.
  • Aksi langsung: seperti protes, pemogokan, atau inisiatif kolektif tanpa melalui birokrasi negara.

Ragam Aliran Anarkisme

Seiring perkembangan zaman, anarkisme melahirkan banyak cabang pemikiran:

  • Anarkisme klasik (Bakunin, Kropotkin).
  • Individualis (Max Stirner).
  • Anarko-sindikalisme, yang fokus pada gerakan buruh.
  • Anarkisme sosial, yang menentang kapitalisme dan negara.
  • Anarkisme feminis dan ekologis, yang menekankan kesetaraan gender dan kelestarian alam.

Baca Juga: Pengamat: Ketegasan Presiden Prabowo Sudah Tepat Hadapi Aksi Anarkis

Sejarah Anarkisme di Dunia dan Indonesia

Di dunia, anarkisme berkembang pesat pada abad ke-19, terutama di Eropa, dengan keterlibatan dalam Revolusi Spanyol hingga Paris Commune.

Di Indonesia, jejak anarkisme sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Tokoh-tokoh pergerakan, buruh, dan intelektual Hindia Belanda sempat terpengaruh oleh gagasan anarko-sindikalisme yang dibawa dari luar negeri.

Dalam perkembangannya, anarkisme juga hadir dalam gerakan mahasiswa dan buruh modern, meskipun kerap dicap negatif di ruang publik.

Kesimpulan

Anarkisme bukan sekadar kekacauan atau kerusuhan. Lebih jauh, ia adalah filsafat politik yang menawarkan alternatif sistem sosial tanpa otoritas hierarkis.

Pemahaman yang lebih komprehensif tentang anarkisme penting agar masyarakat tidak lagi terjebak pada stigma dan kesalahpahaman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.