Akurat
Pemprov Sumsel

Mempersiapkan Generasi Alpha Hadapi Polarisasi Global, Redea Institute Perkuat "Imunitas Sosial" Lewat Inklusi di Sekolah

Nuzulul Karamah | 10 Maret 2026, 15:21 WIB
Mempersiapkan Generasi Alpha Hadapi Polarisasi Global, Redea Institute Perkuat "Imunitas Sosial" Lewat Inklusi di Sekolah
Mempersiapkan Generasi Alpha Hadapi Polarisasi Global, Redea Institute Perkuat Imunitas Sosial Lewat Inklusi di Sekolah

AKURAT.CO Di tengah bayang-bayang risiko konfrontasi geo-ekonomi dan maraknya ujaran kebencian digital yang mencapai dua pertiga populasi dunia menurut data UNESCO, dunia pendidikan Indonesia mengambil langkah preventif.

Menyadari bahwa perdamaian dunia di masa depan bergantung pada karakter generasi muda, HighScope Indonesia Institute yang kini bertransformasi menjadi Redea Institute, mengintensifkan penanaman nilai toleransi sebagai fondasi utama siswa.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Sekolah Rakyat Hadirkan Pendidikan Aman dan Setara

​Langkah ini menjadi krusial mengingat tantangan geopolitik tahun 2026 yang kian kompleks.

Polarisasi ideologi dan kesenjangan teknologi kini tak hanya terjadi di meja diplomasi, tetapi merambah hingga ke interaksi digital anak-anak.

Menanggapi fenomena ini, Redea Institute secara konsisten menyelenggarakan program PTR (Peace, Tolerance, Respect), sebuah simulasi kehidupan nyata yang diikuti oleh seluruh siswa dari berbagai latar belakang keyakinan.

​Program PTR tahun ini mengusung tema besar mengenai penghormatan terhadap sesama manusia dan makhluk hidup untuk menciptakan kehidupan berkelanjutan.

Sejak pertama kali digulirkan pada tahun 2004, kegiatan ini secara rutin memanfaatkan momentum bulan Ramadan untuk mempertemukan siswa Muslim, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha dalam satu ruang kolaborasi.

​"Sekolah HighScope Indonesia (yang akan berganti nama menjadi Sekolah Eco Socio Tech pada Juli 2026) mewajibkan program ini bagi siswa kelas 4 SD hingga SMA," ucap perwakilan Redea Institute, Selasa (10/3/2026).

Teknis pelaksanaannya menggabungkan dua aspek yakni:

​Sesi Lintas Agama: Siswa berdiskusi menggali nilai-nilai universal dan manifestasi ketakwaan kepada Tuhan melalui penghormatan harkat kemanusiaan.

​Sesi Penguatan Spiritual: Siswa mendalami iman masing-masing di ruang terpisah bersama pemuka agama, seperti saat siswa Muslim melaksanakan salat tarawih, siswa agama lain melakukan pendalaman iman terkait solidaritas di era digital.

​Di berbagai cabang, seperti TB Simatupang, Medan, Denpasar, hingga Palembang, PTR tidak hanya berhenti pada diskusi di kelas.

Siswa dilibatkan langsung dalam aksi sosial seperti pembagian takjil, pertunjukan seni bertema keberagaman, hingga talkshow bersama tokoh-tokoh dari Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

​Upaya ini dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk membentuk Generasi Alpha yang memiliki "imunitas sosial" terhadap konflik.

Baca Juga: Presiden Prabowo Gelar Lima Rapat di Hambalang, Bahas Pendidikan hingga Kesiapan Mudik Lebaran

Dengan pendidikan yang inklusif, perbedaan pandangan di dunia maya diharapkan tidak lagi bereskalasi menjadi benturan fisik di masyarakat.

​Menutup esensi dari seluruh rangkaian kegiatan ini, prinsip utama sekolah tetap teguh pada komitmen terhadap keberagaman.

​“Sekolah HighScope Indonesia teaches students to respect differences, to allow differences, to encourage differences, until differences no longer make a difference," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.