Akurat Logo

Great Depression 1929: Awal Krisis Ekonomi Global dan Dampak Domino Dunia

Redaksi Akurat | 1 Mei 2026, 23:09 WIB
Great Depression 1929: Awal Krisis Ekonomi Global dan Dampak Domino Dunia
Ilustrasi Krisis Ekonomi

AKURAT.CO Krisis ekonomi dunia 1929 atau Great Depression merupakan salah satu peristiwa ekonomi paling besar dan berdampak luas dalam sejarah modern.

Krisis ini bermula di Amerika Serikat sebelum menyebar ke berbagai negara di dunia.

Peristiwa ini tidak hanya mengguncang sektor keuangan, tetapi juga mengubah struktur sosial, politik, dan kebijakan ekonomi global. Dampaknya terasa selama lebih dari satu dekade.

Baca Juga: Fakta Inflasi Global dan Risiko Krisis Ekonomi Dunia dalam 2030 Mendatang

Latar Belakang Krisis Ekonomi 1929

Krisis ekonomi 1929 tidak muncul tiba-tiba, melainkan sebagai akumulasi dari beberapa faktor fundamental sekaligus spekulasi pasar yang berlebihan. 

Dalam dekade 1920-an, ekonomi Amerika Serikat tumbuh pesat dan saham naik tajam secara spekulatif, sehingga banyak investor membeli saham dengan uang pinjaman.

Ketika harga saham mulai jatuh pada akhir Oktober 1929, panik massal terjadi dan investor menjual saham secara besar-besaran. 

Hari yang dikenal sebagai Black Tuesday (29 Oktober 1929) mencatat penurunan tajam di bursa saham New York, yang kemudian menjadi titik awal krisis ekonomi besar ini.

Dampak Langsung Terhadap Amerika Serikat

Begitu pasar saham anjlok, banyak perusahaan bangkrut dan terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran di Amerika Serikat. Tingkat pengangguran yang sebelumnya rendah melonjak drastis dalam waktu singkat.

Bank-bank juga gagal karena banyak nasabah yang menarik simpanan mereka sekaligus, sementara pinjaman yang macet menambah tekanan pada sistem keuangan. 

Industri yang menyusut dan permintaan konsumen yang menurun semakin memperburuk kondisi ekonomi.

Efek Domino Global

Depresi yang bermula di Amerika Serikat menular ke seluruh dunia karena hubungan ekonomi dan perdagangan yang erat antarnegara. Negara Eropa yang masih pulih dari Perang Dunia I ikut mengalami resesi hebat.

Perdagangan internasional merosot, nilai mata uang jatuh, dan bank-bank di berbagai negara ikut bangkrut, menciptakan efek domino yang memperparah kondisi ekonomi global. 

Banyak negara memberlakukan kebijakan proteksionis yang justru semakin memperlambat pemulihan ekonomi dunia.

Baca Juga: Ketua LPS: Soemitronomics Kunci Indonesia Melewati Berbagai Krisis Ekonomi Global

Dampak Sosial dan Politik

Krisis ekonomi memperburuk kondisi sosial, karena banyak keluarga kehilangan pekerjaan dan tabungan mereka. Kemiskinan meluas, dan kehidupan masyarakat sehari-hari menjadi semakin sulit.

Situasi ini kemudian memicu ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan dan menambah ruang gerak bagi ideologi ekstrem. 

Di beberapa negara, seperti Jerman, kondisi ekonomi yang buruk menjadi salah satu faktor yang mendukung naiknya ideologi radikal yang kemudian berdampak pada geopolitik dunia.

Upaya Pemulihan dan Kebijakan Ekonomi

Untuk mengatasi krisis, beberapa negara mulai menerapkan kebijakan ekonomi baru. Di Amerika Serikat, Presiden Franklin D. Roosevelt memperkenalkan New Deal yang bertujuan mereformasi sistem keuangan, menciptakan lapangan kerja, dan menstabilkan ekonomi domestik.

Upaya ini tidak langsung mengakhiri Depresi, tetapi setidaknya membantu memulihkan kepercayaan dan memperbaiki beberapa sektor kehidupan ekonomi. 

Pemulihan global baru mulai terasa menjelang akhir 1930-an seiring meningkatnya produksi militer dan perdagangan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Pemulihan ekonomi global baru mulai terasa menjelang akhir 1930-an. Produksi industri meningkat seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan militer.

Krisis 1929 meninggalkan pelajaran penting tentang bahaya spekulasi, lemahnya regulasi, dan ketergantungan ekonomi global.

Amalia Febriyani (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R