Akurat Logo

Kenapa Malam Hari Terasa Lebih Dingin Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Nurma Nafisa Faradilla | 12 Juni 2026, 21:30 WIB
Kenapa Malam Hari Terasa Lebih Dingin Saat Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG
Malam hari saat musim kemarau. (Magnific)

AKURAT.CO Belakangan ini, sebagian masyarakat di berbagai daerah Indonesia mulai merasakan suhu udara yang lebih dingin, terutama pada malam hingga menjelang pagi hari. Kondisi tersebut cukup kontras karena terjadi saat Indonesia memasuki musim kemarau.

Tak sedikit yang bertanya-tanya mengapa udara justru terasa lebih dingin ketika hujan mulai berkurang. Fenomena ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah dan sudah menjadi ciri khas musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi udara dingin yang sering dirasakan saat musim kemarau dikenal dengan istilah bediding.

Baca Juga: Respons Isu Blackout, PLN Minta Maaf Atas Ketidaknyamanan Yang Dialami Pelanggan

Apa Itu Fenomena Bediding?

Bediding adalah fenomena penurunan suhu udara yang umumnya terjadi pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau. Fenomena ini paling sering dirasakan di wilayah dataran tinggi, meskipun beberapa daerah lain juga dapat mengalaminya.

BMKG mencatat suhu minimum di sejumlah wilayah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Misalnya, suhu minimum di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mencapai 9,4 derajat Celsius, sementara di Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah, tercatat sekitar 16,9 derajat Celsius.

Meski terdengar ekstrem, fenomena ini sebenarnya merupakan bagian dari proses alam yang lazim terjadi setiap musim kemarau.

Kenapa Malam Hari Terasa Lebih Dingin Saat Musim Kemarau?

BMKG menjelaskan bahwa suhu dingin pada malam hari berkaitan erat dengan pengaruh Monsun Australia yang mulai menguat selama musim kemarau.

Monsun Australia membawa massa udara yang cenderung kering dan lebih dingin menuju wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan. Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan menjadi lebih sedikit dibandingkan saat musim hujan.

Akibatnya, langit pada malam hari cenderung cerah tanpa banyak tutupan awan.

Dalam kondisi tersebut, panas yang tersimpan di permukaan bumi setelah menerima sinar matahari sepanjang siang hari akan lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari.

Karena tidak ada lapisan awan yang berfungsi menahan panas tersebut, suhu udara di sekitar permukaan bumi menjadi lebih rendah dan terasa lebih dingin.

Kenapa Siang Hari Justru Bisa Sangat Panas?

Menariknya, fenomena bediding sering membuat masyarakat merasakan dua kondisi yang berbeda dalam satu hari.

Saat malam dan pagi hari udara terasa dingin, suhu pada siang hari justru bisa meningkat cukup tinggi.

Hal ini juga disebabkan oleh minimnya tutupan awan selama musim kemarau. Tanpa banyak awan yang menghalangi, sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara lebih optimal.

Akibatnya, pemanasan permukaan berlangsung lebih maksimal dan suhu udara meningkat pada siang hari.

BMKG mencatat suhu maksimum lebih dari 35 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir terjadi di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Banten, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.

Baca Juga: Ternyata Banyak Fans Afrika Justru Dukung Meksiko Saat Lawan Afrika Selatan

Apakah Bediding Berbahaya?

Secara umum, fenomena bediding bukanlah kondisi cuaca ekstrem yang berbahaya. Namun, suhu udara yang lebih dingin dapat memengaruhi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah.

Udara dingin juga dapat memicu keluhan seperti batuk, pilek, asma, atau gangguan pernapasan lainnya pada sebagian orang.

Karena itu, masyarakat disarankan untuk menjaga kondisi tubuh dengan baik selama musim kemarau.

Tips Menghadapi Udara Dingin Saat Musim Kemarau

Agar tetap nyaman beraktivitas, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan saat suhu udara mulai terasa lebih dingin:

  • Menggunakan pakaian hangat saat malam dan pagi hari.

  • Menjaga asupan cairan tubuh agar tidak mengalami dehidrasi.

  • Mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.

  • Mengurangi aktivitas di luar ruangan pada malam hari jika suhu terlalu dingin.

  • Memastikan ventilasi rumah tetap baik agar sirkulasi udara lancar.

BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti bebas hujan. Meski sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki kemarau, sejumlah daerah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai dinamika atmosfer seperti aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta faktor cuaca regional lainnya yang masih mendukung pembentukan awan hujan.

Karena itu, masyarakat tetap diimbau memantau informasi cuaca terbaru dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Besok, 13 Juni 2026: Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Wilayah Ini

Baca Juga: Pilu! Alami KDRT hingga Ditalak Satu, Istri Evan Marvino Ngaku Diseret dan Dilempar Kipas Angin Gegara Minta Nafkah

FAQ

Apa yang dimaksud dengan bediding?

Bediding adalah fenomena penurunan suhu udara yang membuat malam hingga pagi hari terasa lebih dingin saat musim kemarau.

Mengapa malam hari lebih dingin saat musim kemarau?

Karena tutupan awan berkurang akibat pengaruh Monsun Australia, sehingga panas dari permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer pada malam hari.

Apakah bediding hanya terjadi di daerah pegunungan?

Tidak. Fenomena bediding paling terasa di dataran tinggi, tetapi juga dapat dirasakan di sejumlah wilayah lain ketika musim kemarau berlangsung.

Mengapa siang hari tetap panas saat musim kemarau?

Minimnya awan membuat sinar matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal sehingga suhu udara meningkat pada siang hari.

Apakah musim kemarau berarti tidak akan turun hujan?

Tidak. Meski curah hujan berkurang, hujan masih dapat terjadi karena pengaruh dinamika atmosfer dan kondisi cuaca regional tertentu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.