Akurat
Pemprov Sumsel

Kenali Ciri-ciri Tanah yang Rawan Memicu Banjir Bandang, Wajib Diwaspadai!

Eko Krisyanto | 16 Desember 2025, 07:00 WIB
Kenali Ciri-ciri Tanah yang Rawan Memicu Banjir Bandang, Wajib Diwaspadai!

 

AKURAT.CO Banjir bandang merupakan salah satu bencana alam yang paling berbahaya karena terjadi secara tiba-tiba dan membawa arus air yang sangat deras.

Tidak hanya menghancurkan permukiman, banjir bandang juga sering memicu longsor, merusak infrastruktur, dan menyebabkan kerugian jangka panjang.

Kondisi tanah serta lingkungan memiliki peran besar dalam menentukan seberapa rentan suatu wilayah terhadap bencana ini.

Selain dipicu oleh faktor cuaca, banjir bandang juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik fisik tanah, bentuk lahan, hingga aktivitas manusia yang mengubah kondisi alam.

Beberapa tanda bisa diamati langsung di lingkungan sekitar, mulai dari porositas tanah, keberadaan vegetasi, hingga kondisi alur sungai.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami ciri-ciri tanah yang rawan memicu banjir bandang, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi.

Berikut adalah beberapa ciri-ciri tanah yang rawan memicu banjir bandang dan perlu diwaspadai:

1. Tanah Keras dan Minim Porositas

Ciri pertama tanah yang rawan memicu banjir bandang adalah tanah dengan tingkat porositas rendah.

Tanah seperti ini tidak mampu menyerap air dengan baik, sehingga saat hujan deras turun, air langsung mengalir dan menumpuk di permukaan.

Tanah yang keras biasanya terbentuk akibat berkurangnya vegetasi, penggunaan lahan yang berlebihan, atau proses pemadatan tanah dalam jangka panjang.

2. Wilayah dengan Lereng Curam

Daerah dengan topografi curam seperti perbukitan atau pegunungan lebih rentan mengalami banjir bandang.

Air hujan yang turun di wilayah ini akan langsung mengalir ke bawah dengan kecepatan tinggi, terutama bila tidak ada pepohonan untuk menahan aliran.

Kemiringan lahan yang ekstrem juga menjadi faktor penting yang mempercepat limpasan air dan meningkatkan potensi air bah.

3. Kawasan yang Mengalami Penggundulan Hutan

Tanah di wilayah yang mengalami deforestasi akan kehilangan kemampuan alami untuk mengatur air. Akar pohon berfungsi menyerap air sekaligus memperkuat struktur tanah.

Ketika hutan digunduli, tanah mudah tergerus, air hujan tidak terserap, dan limpasan air di permukaan meningkat drastis.

Kondisi ini tidak hanya memicu banjir bandang, tetapi juga memperbesar risiko longsor.

4. Tanah dengan Banyak Sedimen

Material berupa pasir, kerikil, lumpur, dan batuan di tepi sungai atau lereng menjadi pertanda bahwa wilayah tersebut rawan banjir bandang.

Sedimen ini dapat menyumbat aliran sungai sehingga membentuk bendungan alami.

Ketika bendungan tersebut jebol, air akan mengalir dengan sangat deras dan membawa material besar ke hilir.

5. Aliran Sungai yang Menyempit atau Mendangkal

Sungai yang mengalami penyempitan atau pendangkalan akan kehilangan kapasitas alirannya.

Ketika terjadi hujan deras, sungai tidak mampu menampung volume air yang meningkat.

Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama banjir bandang karena air meluap dengan cepat dan tidak memiliki ruang untuk mengalir secara aman.

6. Kawasan dengan Alih Fungsi Lahan yang Tidak Terkendali

Daerah yang kehilangan lahan resapan akibat pembangunan besar-besaran, seperti permukiman, kawasan industri, atau pengerasan beton, rentan menjadi titik awal banjir bandang.

Hilangnya daerah hijau membuat tanah tidak bisa lagi menyerap air hujan sehingga limpasan meningkat dan mengalir menuju daerah yang lebih rendah dengan volume besar.

7. Curah Hujan Tinggi dalam Waktu Singkat

Bahkan dengan kondisi tanah yang stabil, curah hujan ekstrem dapat memicu banjir bandang. Namun, wilayah dengan ciri tanah rawan akan lebih mudah berdampak.

Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat membuat air tidak punya waktu untuk meresap ke tanah sehingga meningkatkan potensi aliran deras menuju sungai dan dataran rendah.

Tanah yang rawan memicu banjir bandang biasanya memiliki karakteristik: porositas rendah, berada di wilayah curam, minim vegetasi, serta berada di kawasan dengan sungai yang mengalami penyempitan atau pendangkalan.

Aktivitas manusia seperti penggundulan hutan dan alih fungsi lahan memperburuk kondisi tersebut.

Dengan memahami ciri-ciri kondisi rawan banjir bandang masyarakat dapat lebih waspada dan mempersiapkan langkah mitigasi agar dampak bencana dapat diminimalisir.

Laporan: Vania Tri Yuniar/magang

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK