Akurat Logo

Penyebab Utama Anak Melakukan Bullying dan Cara Efektif Mencegahnya

Redaksi Akurat | 13 Juni 2026, 13:19 WIB
Penyebab Utama Anak Melakukan Bullying dan Cara Efektif Mencegahnya
Bullying

AKURAT.CO Bullying di kalangan anak-anak masih menjadi masalah serius yang perlu mendapat perhatian dari orang tua, guru, dan masyarakat.

Tindakan bullying tentu bisa meninggalkan luka psikologis mendalam bagi korban.

Untuk mengatasinya, penting untuk memahami penyebab utama anak melakukan perilaku bullying agar pencegahannya bisa lebih efektif.

Baca Juga: Prabowo ke Siswa Korban Bullying: Saya Pun Sering Diejek, Jangan Pernah Putus Asa

Apa Itu Bullying?

Bullying (perundungan) adalah tindakan merendahkan, menyakiti, dan merugikan orang lain yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang. Perilaku ini perlu diberikan penanganan serius karena akan merugikan korban dan bahkan pelaku itu sendiri.

Perilaku bullying bisa terjadi di mana saja, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, universitas, tempat kerja, atau bahkan di dunia maya sekalipun.

Jenis-jenis Bullying

Bullying tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Ada banyak cara seseorang bisa menjadi korban perundungan tanpa disadari. Dilansir dari Alo Dokter, berdasarkan bentuknya, perilaku bullying dapat dibedakan menjadi enam jenis utama berikut:

Verbal

Perundungan jenis ini dilakukan melalui ucapan. Contohnya mengejek atau menertawakan penampilan orang lain.

Fisik

Jenis ini melibatkan tindakan yang menyakiti tubuh korban secara langsung, seperti memukul, ,menampar, menendang, dan jenis siksaan fisik yang bisa menyebabkan luka atau rasa sakit.

Cyberbullying

Bullying jenis ini terjadi di dunia maya dan sering kita temui di zaman modern ini. Pelaku biasanya menyebarkan foto atau video yang mempermalukan korban, menulis komentar jahat, atau mengirim ancaman dari pesan.

Pelecehan Seksual

Bullying jenis ini melibatkan tindakan atau ucapan yang bersifat seksual tanpa persetujuan korban. Misalnya catcalling, menyentuh tubuh tanpa izin, membagikan gambar atau video pornografi, hingga melakukan tindakan pemaksaan seksual.

Diskriminasi

Perundungan ini dilakukan dengan menyinggung identitas seseorang, seperti suku, ras, agama, gender, atau orientasi seksual.

Bullying Sosial

Jenis ini bertujuan merusak hubungan sosial korban. Contohnya menyebarkan gosip, mempermalukan seseorang di depan umum, atau mengucilkan korban dari lingkungan sosial tempat tinggalnya.

Baca Juga: Bullying Masih Marak di Sekolah, Ini Peran Guru dalam Mencegah dan Menanganinya

Penyebab Anak Melakukan Bullying

Lingkungan Keluarga yang Tidak Harmonis

Salah satu penyebab utama anak melakukan perilaku bullying adalah lingkungan keluarga yang toxic. Tidak sedikit pelaku bullying yang datang dari keluarga yang tidak harmonis. Anak yang sering melihat pertengkaran, kekerasan verbal, atau bahkan kekerasan fisik di rumah cenderung meniru perilaku tersebut di luar rumah.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung mengalami tekanan psikologis karena kurangnya kasih sayang, rasa aman, dan kepercayaan dari orang tua.

Ketika kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi, anak berisiko menyalurkan rasa marah atau frustrasinya dengan berperilaku agresif terhadap orang lain, termasuk melakukan tindakan bullying.

Minimnya Perhatian dan Kasih Sayang dari Orang Tua

Ketika anak tumbuh tanpa mendapatkan cukup kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, hal itu bisa menjadi pemicu munculnya perilaku agresif seperti bullying.

Anak yang tidak merasakan kehangatan emosional di rumah cenderung mencari cara lain untuk diperhatikan oleh orang di sekitarnya, misalnya melakukan bullying. Hal ini juga dapat menurunkan rasa empati anak.

Pengaruh Lingkungan Sekitar dan Teman Sebaya

Lingkungan sosial sangat berpengaruh pada pembentukan karakter anak. Di sekolah, anak sering ingin diterima dalam kelompok tertentu. Kadang, untuk mendapatkan pengakuan, mereka meniru perilaku negatif teman-temannya, termasuk melakukan bullying.

Tekanan dari teman sebaya bisa membuat anak merasa harus ikut-ikutan agar tidak dikucilkan. Ini sering terjadi pada anak yang memiliki rasa percaya diri rendah atau kurang kemampuan untuk menolak ajakan negatif.

Paparan Media dan Konten Kekerasan

Anak-anak masa kini tumbuh di era digital, di mana media sosial, film, dan video game mudah diakses. Sayangnya, banyak konten yang menampilkan kekerasan dan ditonton oleh anak-anak tanpa bimbingan orang tua. Hal itu menyebabkan anak bisa saja ikut-ikutan untuk melakukan kekerasan karena merasa keren.

Pelaku yang Pernah Mengalami Bullying

Tidak jarang, anak yang menjadi pelaku perundungan sebenarnya pernah mengalami hal serupa di masa lalu. Perasaan ketakutan dan trauma yang mereka alami membuat mereka meniru perlakuan tersebut kepada orang lain.

Gangguan Emosional dan Kondisi Psikologis

Beberapa anak melakukan tindakan perundungan bukan semata-mata karena ingin menyakiti orang lain, tetapi karena sedang berjuang dengan kondisi emosional atau mental yang tidak stabil. Anak yang mengalami stres berat, kecemasan berlebihan, atau depresi sering kali merasa tidak berdaya dan mencari cara untuk menyalurkan rasa frustrasi mereka.

Cara Mencegah Anak Terlibat dalam Perilaku Bullying

Ajarkan Rasa Empati kepada Anak

Rumah merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang perilaku dan nilai-nilai kehidupan. Orang tua menjadi contoh utama yang akan menentukan bagaimana anak memperlakukan orang lain di sekitarnya.

Ketika orang tua menunjukkan teladan berupa rasa hormat, empati, sopan santun, serta memperlakukan setiap orang dengan baik, anak akan meniru hal tersebut dan tumbuh dengan pemahaman sosial yang positif.

Mengajarkan Anak untuk Melindungi Diri dari Bullying

Mereka perlu tahu bahwa jika mengalami perlakuan tidak menyenangkan atau melihat teman lain dibully, mereka tidak harus menghadapinya sendirian.

Orang tua dan guru bisa menanamkan keberanian pada anak untuk segera berbicara dengan orang dewasa yang dapat dipercaya ketika hal itu terjadi. Selain itu, anak juga perlu dibekali strategi yang aman dalam menghadapi situasi bullying.

Bangun Komunikasi Terbuka dengan Anak

Menjalin komunikasi yang hangat dan terbuka merupakan langkah penting untuk mencegah maupun mendeteksi tanda-tanda bullying sejak dini. Cobalah untuk sering menanyakan bagaimana keseharian anak atau adik Anda di sekolah bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang teman, perasaan, dan hal-hal kecil yang mereka alami.

Kembangkan Rasa Percaya Diri Anak

Orang tua dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak dengan memberi apresiasi atas usaha mereka dan melibatkan mereka dalam aktivitas yang sesuai dengan minatnya. Saat anak merasa dihargai, ia akan lebih berani menghadapi tekanan dari orang lain. Selain itu, ajarkan anak untuk menyampaikan pendapat dan menolak perlakuan yang tidak baik dengan cara yang sopan namun tegas.

Ajarkan Nilai Anti-Bullying Sejak Dini

Tanamkan sikap anti-bullying sejak dini dengan mencontohkan perilaku yang lembut dan menghargai orang lain. Jelaskan pada anak bahwa kekerasan, ejekan, atau candaan yang menyakiti perasaan termasuk bentuk perundungan yang tidak boleh ditiru.

Bullying pada anak bukanlah masalah sepele. Perilaku ini sering berakar dari faktor lingkungan, kurangnya kasih sayang, tekanan sosial, hingga gangguan emosional.

Jika tidak ditangani, dampaknya dapat menghancurkan kepercayaan diri dan kesejahteraan psikologis korban maupun pelaku.

Peran orang tua, guru, dan lingkungan sekitar sangat penting dalam mencegah serta menangani perilaku bullying.

Melalui pendidikan empati, komunikasi terbuka, dan contoh positif dari keluarga, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, penuh kasih, dan menghargai orang lain.

Dengan memahami penyebab dan cara pencegahannya, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi anak-anak untuk berkembang tanpa rasa takut maupun tekanan.

Shera Amalia Ghaitsa (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R