Akurat Logo

Malam Satu Suro dan 1 Muharam, Apakah Sama? Simak Perbedaan dan Penjelasan Lengkapnya

Nurma Nafisa Faradilla | 15 Juni 2026, 18:01 WIB
Malam Satu Suro dan 1 Muharam, Apakah Sama? Simak Perbedaan dan Penjelasan Lengkapnya
Ilustrasi malam satu suro. (Freepik)

AKURAT.CO Malam Satu Suro dan 1 Muharam sering kali dianggap sebagai perayaan yang sama karena keduanya berlangsung pada waktu yang berdekatan bahkan bertepatan dalam sistem penanggalan tertentu. Meski demikian, keduanya memiliki latar belakang sejarah, makna, dan tradisi yang berbeda.

Perbedaan tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak keliru dalam memaknai kedua momen tersebut. Lantas, apakah Malam Satu Suro dan 1 Muharam benar-benar sama? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apakah Malam Satu Suro dan 1 Muharam Sama?

Secara waktu, Malam Satu Suro dan 1 Muharam memang bertepatan. Namun, keduanya berasal dari sistem penanggalan yang berbeda.

Baca Juga: SPMB Jakarta 2026 Jenjang SMA Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Dokumen yang Harus Disiapkan

Satu Suro merupakan hari pertama dalam Kalender Jawa, sedangkan 1 Muharam adalah hari pertama dalam Kalender Hijriah yang digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Karena Kalender Jawa yang disusun pada masa Sultan Agung mengadopsi sistem perhitungan Kalender Hijriah, tanggal 1 Suro selalu bertepatan dengan 1 Muharam.

Meski jatuh pada hari yang sama, makna dan tradisi yang berkembang di masyarakat memiliki karakteristik tersendiri.

Kapan Malam Satu Suro 2026?

Pada tahun 2026, Malam Satu Suro dimulai pada Senin malam, 15 Juni 2026. Sementara itu, tanggal 1 Suro dalam Kalender Jawa dan 1 Muharam 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Dalam tradisi Jawa, pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam atau malam hari. Karena itulah masyarakat biasanya memperingati Malam Satu Suro sejak malam sebelum tanggal 1 Suro berlangsung.

Perbedaan Malam Satu Suro dan 1 Muharam

Meski bertepatan, terdapat beberapa perbedaan mendasar antara Malam Satu Suro dan 1 Muharam.

Berasal dari Sistem Kalender yang Berbeda

Malam Satu Suro berasal dari Kalender Jawa yang digunakan masyarakat Jawa sejak masa Kesultanan Mataram.

Sementara itu, 1 Muharam merupakan awal tahun dalam Kalender Hijriah yang menjadi acuan umat Islam untuk menentukan berbagai peristiwa keagamaan.

Memiliki Latar Belakang Sejarah yang Berbeda

1 Muharam berkaitan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi titik awal penanggalan Islam.

Di sisi lain, Satu Suro lahir dari penyesuaian kalender yang dilakukan Sultan Agung pada abad ke-17. Kala itu, sistem penanggalan Jawa dipadukan dengan perhitungan Kalender Hijriah tanpa menghilangkan unsur budaya Jawa yang telah berkembang sebelumnya.

Makna yang Ditekankan Berbeda

Bagi umat Islam, 1 Muharam menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan memulai tahun baru dengan semangat memperbaiki diri.

Sementara dalam budaya Jawa, Malam Satu Suro sering dimaknai sebagai waktu yang sakral untuk merenung, berdoa, serta menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan.

Tradisi yang Dijalankan Berbeda

Peringatan 1 Muharam umumnya diisi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, doa bersama, santunan, dan berbagai kegiatan sosial.

Adapun Malam Satu Suro identik dengan tradisi budaya, seperti kirab pusaka, tirakat, doa bersama, hingga berbagai ritual adat yang masih dilestarikan di sejumlah daerah.

Mengapa Malam Satu Suro Dianggap Sakral?

Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam Satu Suro bukan sekadar pergantian tahun. Malam tersebut dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Karena dianggap sebagai momen penting, banyak orang memilih mengurangi aktivitas yang bersifat hura-hura dan menggantinya dengan kegiatan yang lebih tenang seperti berdoa, bermeditasi, atau melakukan tirakat.

Pandangan mengenai kesakralan Malam Satu Suro juga berkembang dari tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Baca Juga: Cara Daftar SPMB Jakarta 2026 secara Online, Simak Tahapannya dari Awal hingga Daftar Ulang

Tradisi yang Masih Dilestarikan Saat Malam Satu Suro

Hingga kini, sejumlah daerah di Jawa masih mempertahankan tradisi yang dilakukan setiap Malam Satu Suro.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Kirab budaya yang menampilkan pusaka, hasil bumi, atau simbol-simbol budaya daerah.

  • Sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil pertanian dan keberkahan alam.

  • Doa bersama yang diikuti masyarakat setempat.

  • Tirakat atau perenungan diri yang dilakukan secara pribadi maupun kelompok.

  • Pertunjukan seni tradisional seperti tari daerah, gamelan, dan berbagai kesenian rakyat lainnya.

Tradisi-tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang masih dijaga hingga sekarang.

Makna Malam Satu Suro bagi Masyarakat Modern

Di tengah perkembangan zaman, Malam Satu Suro tetap memiliki relevansi sebagai momen refleksi diri. Banyak orang memanfaatkannya untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun terakhir sekaligus menyusun harapan dan tujuan baru.

Selain itu, peringatan Malam Satu Suro juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai budaya dan sejarah kepada generasi muda agar warisan budaya bangsa tetap lestari.

Baca Juga: Harga Cabai Tembus Rp180 Ribu, Megawati Ajak Masyarakat Tanam Sendiri di Rumah

Baca Juga: SPMB Jakarta 2026 Dibuka, Masyarakat Diminta Pantau Laman Resmi Disdik Jakarta

FAQ

Mengapa Satu Suro selalu bertepatan dengan 1 Muharam?

Karena Kalender Jawa yang disusun Sultan Agung menggunakan sistem perhitungan bulan yang mengacu pada Kalender Hijriah, sehingga awal tahun Jawa selalu bertepatan dengan awal tahun Hijriah.

Apa yang biasanya dilakukan masyarakat saat Malam Satu Suro?

Masyarakat umumnya mengadakan doa bersama, tirakat, kirab budaya, sedekah bumi, hingga berbagai kegiatan seni dan budaya tradisional.

Apakah Malam Satu Suro merupakan hari raya keagamaan?

Malam Satu Suro lebih dikenal sebagai tradisi budaya Jawa. Sementara 1 Muharam merupakan bagian dari penanggalan Islam yang menandai datangnya Tahun Baru Hijriah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.