Akurat Logo

9 Tradisi Malam Satu Suro yang Masih Dilestarikan hingga Sekarang

Nurma Nafisa Faradilla | 15 Juni 2026, 18:30 WIB
9 Tradisi Malam Satu Suro yang Masih Dilestarikan hingga Sekarang
Ilustrasi tradisi malam satu suro. (Gemini Google)

AKURAT.CO Malam Satu Suro merupakan salah satu momen penting dalam budaya Jawa yang masih diperingati hingga saat ini. Malam yang menandai pergantian tahun dalam Kalender Jawa tersebut identik dengan berbagai ritual, doa bersama, hingga kirab budaya yang sarat makna.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam Satu Suro bukan sekadar pergantian tahun, melainkan waktu untuk melakukan introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tak heran, sejumlah tradisi turun-temurun masih terus dijaga dan dilaksanakan setiap tahunnya di berbagai daerah di Indonesia.

Mengenal Malam Satu Suro

Satu Suro merupakan hari pertama dalam Kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam Kalender Hijriah. Penanggalan Jawa yang digunakan saat ini merupakan hasil penyelarasan yang dilakukan pada masa Sultan Agung Mataram dengan menggabungkan unsur budaya Jawa dan sistem perhitungan kalender Islam.

Baca Juga: Malam Satu Suro dan 1 Muharam, Apakah Sama? Simak Perbedaan dan Penjelasan Lengkapnya

Sejak lama, bulan Suro dianggap sebagai bulan yang istimewa dan sakral. Karena itu, masyarakat Jawa biasanya menyambut datangnya Satu Suro dengan berbagai kegiatan spiritual, tradisi budaya, dan ritual adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Deretan Tradisi Malam Satu Suro yang Masih Dilestarikan

Berikut beberapa tradisi khas Malam Satu Suro yang masih dapat ditemukan di berbagai daerah.

1. Jamasan Pusaka atau Ngumbah Keris

Tradisi Jamasan Pusaka menjadi salah satu ritual yang paling dikenal saat Malam Satu Suro. Tradisi ini dilakukan dengan membersihkan berbagai benda pusaka seperti keris, tombak, gamelan, hingga perlengkapan bersejarah lainnya.

Bagi masyarakat Jawa, jamasan bukan sekadar membersihkan benda secara fisik. Ritual ini juga menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya dan sejarah yang telah diwariskan oleh para leluhur.

2. Kirab Kebo Bule

Kirab Kebo Bule menjadi tradisi yang sangat identik dengan Kota Surakarta atau Solo. Dalam prosesi ini, kerbau putih yang dikenal sebagai Kebo Bule Kyai Slamet diarak mengelilingi kawasan keraton.

Tradisi tersebut selalu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan. Banyak warga yang mengikuti jalannya kirab sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

3. Tapa Bisu

Tapa Bisu merupakan tradisi yang dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta tanpa berbicara sepatah kata pun.

Peserta yang mengikuti ritual ini diwajibkan menjaga keheningan selama perjalanan. Tradisi tersebut melambangkan perenungan diri, evaluasi atas perjalanan hidup selama setahun terakhir, serta harapan menyambut tahun yang baru dengan lebih baik.

4. Suroan

Suroan merupakan tradisi yang banyak dilakukan masyarakat Jawa pada malam pergantian tahun Jawa. Kegiatan ini biasanya diisi dengan doa bersama, pengajian, tirakat, dan refleksi diri.

Tujuan utama Suroan adalah memohon keselamatan, keberkahan, serta ketenangan dalam menjalani kehidupan pada tahun berikutnya.

5. Sedekah Bumi

Di sejumlah daerah, Malam Satu Suro juga diwarnai dengan tradisi Sedekah Bumi. Masyarakat berkumpul membawa hasil panen dan makanan untuk kemudian didoakan bersama.

Baca Juga: Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Kerja Padat Karya untuk Warga Jakarta, Gaji Setara UMP

Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki yang diperoleh sekaligus harapan agar hasil pertanian dan kehidupan masyarakat tetap diberi keberkahan.

6. Ledug Suro

Tradisi Ledug Suro dikenal di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Perayaan ini biasanya berlangsung meriah dengan kirab budaya yang melibatkan masyarakat setempat.

Selain menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Jawa, Ledug Suro juga menjadi daya tarik wisata budaya yang rutin dinantikan setiap tahun.

7. Barikan

Barikan merupakan tradisi masyarakat Jawa Tengah yang dilakukan dengan menggelar doa bersama dan makan bersama warga.

Setiap keluarga biasanya membawa makanan dari rumah untuk kemudian dikumpulkan dan dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

8. Ngadulag

Tradisi Ngadulag berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Perayaan ini identik dengan pertunjukan seni tabuh bedug yang dimainkan secara berkelompok.

Selain menjadi sarana hiburan, Ngadulag juga menjadi media pelestarian kesenian tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

9. Nganggung

Masyarakat Bangka Belitung memiliki tradisi Nganggung untuk menyambut Tahun Baru Islam yang bertepatan dengan bulan Suro.

Tradisi ini dilakukan dengan membawa makanan dalam wadah khusus untuk kemudian disantap bersama setelah doa dan kegiatan keagamaan berlangsung.

Makna di Balik Tradisi Malam Satu Suro

Meski bentuk tradisinya berbeda-beda di setiap daerah, sebagian besar memiliki tujuan yang sama. Malam Satu Suro dimaknai sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri, mempererat hubungan sosial, serta memanjatkan doa agar memperoleh keselamatan dan keberkahan di tahun yang akan datang.

Nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, serta pelestarian budaya menjadi bagian penting yang terkandung dalam berbagai tradisi tersebut.

Baca Juga: Persija Serahkan Urusan Pemain Asing kepada Shin Tae-yong, Kemungkinan Tak Cuma dari Brasil

Baca Juga: SPMB Jakarta 2026 Dibuka, Masyarakat Diminta Pantau Laman Resmi Disdik Jakarta

FAQ

Apa itu Malam Satu Suro?

Malam Satu Suro adalah malam pergantian tahun dalam Kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam Kalender Hijriah.

Mengapa Malam Satu Suro dianggap sakral?

Masyarakat Jawa memandang bulan Suro sebagai bulan yang istimewa sehingga malam pergantian tahunnya dimaknai sebagai waktu untuk refleksi diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Apa tradisi Malam Satu Suro yang paling terkenal?

Beberapa tradisi yang paling dikenal antara lain Kirab Kebo Bule di Solo, Tapa Bisu di Yogyakarta, serta Jamasan Pusaka yang dilakukan di lingkungan keraton.

Apa tujuan tradisi Tapa Bisu?

Tapa Bisu bertujuan untuk melatih pengendalian diri, melakukan introspeksi, serta memanjatkan doa dan harapan untuk tahun yang baru.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.