Ridwan Kamil Api Dalam Sekam Golkar, Mudarat Untuk PDIP
AKURAT.CO Ridwan Kamil nampaknya hanya mentok menjadi buah bibir dalam beberapa pekan terakhir, ketika dipersepsikan jadi bahan rebutan partai pengusung Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Hanya berselang hari, nama pria yang akrab disapa Emil atau RK, redup sendirinya.
Pengamat politik, Ray Rangkuti, memiliki analisi membaca fenomena Emil. Dia melihat ruang gerak dan modal Emil tak cukup luwes bermanuver karena berstatus kader Golkar, dan hanya menciptakan api dalam sekam apabila diusung menjadi cawapres Prabowo.
"Kecuali dia bukan Golkar, lalu dicalonkan oleh Golkar itu sangat mungkin, justru masalah dia karena dia anggota Golkar," kata Ray, kepada Akurat.co, di Jakarta, Sabtu (16/9/2023).
Baca Juga: PPP Sikapi Santai Kabar Kang Emil Jadi Pendamping Ganjar
Menurut Ray, Golkar tetap berkepentingan mengusung sang ketum, Airlangga Hartarto berkontestasi pada Pilpres 2024. Artinya, tak mudah bagi Golkar memberi tiket kepada kader pendatang baru, yang bakal memicu pertikaian kader.
Situasi bisa berubah kalau Emil memiliki faktor penunjang semisal, memiliki kedekatan khusus dengan Presiden Jokowi atau memiliki kemampuan finansial yang kuat. Golkar bisa realistis dan merekomendasikan Emil menjadi pasangan untuk Prabowo.
"Selain elektabilitas misalnya, dia merujuk ke organisasi mana, uang dia punya, dekat dengan Pak Jokowi, minimal ya begitu," kata Ray.
Baca Juga: Mekeng: Prabowo Pinang RK, Airlangga Harus Legowo
Peluang Golkar mengusung Emil pada Pilpres 2024 juga sudah dikunci Airlangga. Golkar hanya memproyeksikan Emil menjadi cawagub pada Pilkada 2024.
Ray menilai peluang Emil menjadi pendamping Ganjar juga kecil. PDIP diyakini melihat komplikasi yang timbul dari status Emil sebagai kader Golkar.
Dirinya menilai lebih banyak mudarat yang didapat PDIP dan Ganjar dengan meminang Emil, dibanding manfaatnya. Misalnya, Emil bakal melawan parpolnya sendiri dan jagoan yang diusung Golkar di Jabar, ditambah dirinya bakal dianggap sebagai sosok pragmatis yang jauh dari selera pemilih milenial.
"Kalau dia ke Ganjar, dia melawan Prabowo di Jawa Barat dan melawan partainya sendiri. Dan melawan imej pragmatisme politik yang kuat, yang anak milenial ini enggak suka sama yang begitu," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








